Laku Hingga Manca Negara, Kerajinan Bambu Semin Jadi Andalan Selain Pertanian

Pengrajin bambu di Semin mengerjakan pesanan. (KH/ Kandar)

Dengan banyaknya satuan produk yang harus dibuat praktis bahan baku yang dibutuhkan cukup banyak. Bahkan saat ini beberapa jenis bambu harus didatangkan dari luar Gunungkidul, karena ketersediaan bahan baku di tempat lokal tak lagi mencukupi.

“Para pengrajin umumnya mendatangkan jenis bambu tertentu dari Pacitan, Klaten dan Wonogiri,” imbuh Siswodiharjo.

Bacaan Lainnya
Sempritan, salah satu produk kerajinan Padukuhan Mendesan, Semin, Gunungkidul. KH/ Kandar.

Guna mendukung ketersediaan bahan baku kerajinan, sejak tahun 2011 lalu, melalui dinas terkait telah diupayakan pengembangan bambu di wilayah Semin. Beberapa jenis yang dikembangkan diantaranya Bambu Wuluh, Apus, Hijau, Surat dan Wulung.

Selain melayani permintaan dari pasar luar melalui perantara pemasar/ marketer, beberapa warga pengrajin juga menjual secara langsung ke konsumen produk kerajinannya. Mereka mengikuti event pameran-pameran atau menjajakan aneka kerajinan mainan tersebut ke pusat hiburan saat digelar tradisi tahunan masyarakat.

Diungkapkan bapak dari 1 anak ini, kini tak hanya warga kelompok usia dewasa saja yang menggeluti usaha kerajinan. Namun, para pemuda yang tak lagi duduk di bangku sekolah juga ikut terjun mengerjakan pesanan yang diterima orang tuanya.

Ditingkat produsen, harga kerajinan cukup murah, harga seruling setiap kodinya dijual dengan harga Rp. 35.000, Sempritan Rp. 3.500 tiap kodi, Gangsing Rp 2.000 tiap buah, Ethek-ethek setiap kodi Rp. 18.000 hingga 20.000, lantas Kututuan Rp. 12.000 tiap kodi.

Guna mengikat kerjasama antar unit usaha serta untuk mengembangkan usaha kerajinan, warga membetuk kelompok-kelompok paguyuban. Kelompom difungsikan diantaranya sebagai sarana koordinasi pemasaran, pemberdayaan dan pemgembangan masing-masing anggota selaku unit usaha serta mempermudah akses permodalan. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait