Kisah TV Hitam Putih, Hadiah Sultan HB IX yang Ditukar Dengan Pohon Resan Jati

oleh -
televisi
TV hitam putih jadul hadiah Sultan HB IX kepada masyarakat Kalurahan gari, Wonosari, Gunungkidul. (KH/ Edi Padmo)

WONOSARI, (KH),– Tepat di wilayah perbatasan Padukuhan Gari dan Jamburejo, Kalurahan Gari, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, terdapat sebidang tanah berstatus Sultan Ground (SG). Tanah yang terletak di pinggir sungai kecil ini cukup luas. Di lokasi yang terkenal dengan sebutan sumber Gari itu ada 2 buah mata air yang berupa Belik dan Sendang.

Kendati dua sumber air ini sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat sekitar, tapi keberadaan dua pohon Beringin tua dan satu pohon Jaranan, tampak kokoh menaungi dan menjaga lokasi tanah Sultan ini.

Ada sebuah kisah menarik mengenai keberadaan pohon resan Jati yang dulunya pernah tumbuh di tempat ini. Pohon Jati itu ditebang dan ditukar dengan sebuah Televisi (TV) hitam putih tua yang sekarang berada di Balai Kalurahan Gari. Pohon resan Jati ini ditebang untuk digunakan dalam proses pembangunan Masjid Kauman, Keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sultan HB IX.

Seperti yang dikisahkan oleh Mbah Sugeng (60), yang rumahnya bersebelahan dengan sumber Gari. Mbah Sugeng menceritakan bahwa dulunya di lokasi sumber air Gari ini, ada sebuah pohon Jati yang sangat tua dan besar. Saking tuanya,  bisa dikatakan pohon Jati ini sudah menjadi sebuah pohon Resan.

“Resan Jati ini dulu tumbuh di sebelah sini,” ujar Mbah Sugeng sambil menunjuk lokasi di sebelah pohon Jaranan, Minggu (22/8/2021).

“Oleh Sinuwun (HB IX), pohon Jati itu berkenan dikersakke (diminta) untuk membangun Masjid Kauman, dan sebagai gantinya, Sinuwun maringi (memberi) sebuah TV kepada masyarakat Gari,” lanjut Mbah Sugeng lagi.

Menurut Mbah Sugeng, proses penebangan pohon Jati ini dilakukan pada tahun 1982. Pada waktu itu, dari pihak Keraton Yogyakarta yang rawuh (datang) adalah putra HB IX yaitu  KGPH Mangkubumi, yang sekarang menjadi Sultan HB X.

Hadiah dari Sultan, sebagai pengganti pohon, yaitu sebuah Televisi hitam putih merk National. Pada waktu itu dianggap oleh masyarakat Gari, sebagai suatu anugerah yang sangat luar biasa, keberadaanya menjadi suatu barang yang sangat mewah.

“Pada saat Itu warga Gari masih sangat jarang yang mempunyai TV, listrik juga belum ada, jadi menghidupkannya pakai Aki (Accu). Tidak setiap hari TV dihidupkan, hanya pas ketika ada acara yang menarik, umpamanya Kethoprak,” imbuh mbah Sugeng.

Agar masyarakat yang ingin nonton TV bisa bersama-sama, cerita mbah Sugeng, TV di tempatkan dirumah mbah Dukuh Diman. Setiap ada acara terutama Kethoprak, banyak warga yang berkumpul dan nonton bareng.

Saat ini pesawat TV masih ada, kendati sudah tidak difungsikan lagi. TV hadiah dari Sultan ini sekarang diletakkan diruang kerja Lurah Gari, sebagai suatu penanda dan kenang-kenangan bahwa Raja Mataram ke 9  pernah memberikan hadiah bagi warga Kalurahan Gari karena telah merawat pohon dan tanah milik Sultan yang berada di wilayahnya.

“Di bekas pohon Jati ini dulunya oleh keraton ditanam pohon Keben sebagai penggantinya, tapi pohon Keben mati,” pungkas Mbah Sugeng.

sultan ground
Kawasan tanah SG yang akan dikelola karang taruna kalurahan Gari. (KH/ Edi Padmo)

Sementara itu, tokoh Karang Taruna Kalurahan Gari, Septian Nurmansyah (27), menyatakan bahwa wilayah sumber air di Gari ini ke depan akan menjadi salah satu program pengembangan potensi wilayah.

“Tanah SG ini cukup luas, ada dua mata air di sini, kami akan programkan untuk merawat dan bisa menjadikannya sebagai sebuah ruang publik, jadi konotasi pohon Resan tidak lagi sebagai tempat wingit (gawat), tetapi pohon ini berfungsi untuk menjaga ekologi dan sejarah,” terang Septian.

Pemuda yang akrab disapa Asep ini adalah salah satu penggagas lahirnya pasar Ekologis Argo Wijil dan pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu pemuda pelopor tingkat Nasional.

Kawasan Argo Wijil sendiri diketahui adalah sebuah lokasi bekas penambangan batu. Oleh Asep dan teman-temannya, saat ini kawasan bekas tambang Argo Wijil disulap menjadi sebuah pasar rakyat.

“Kita akan garap sumber Gari ini, secepatnya akan kami bersihkan, dan kita lengkapi jenis tanamannya, ke depan sangat mungkin tempat ini dijadikan ruang publik untuk menggelar upacara-upacara adat,” pungkas Asep. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar