Kesirat

oleh -
Panorama Pantai Kesirat. KH/Kl
iklan dispar
Panorama Pantai Kesirat. KH/Kl
Panorama Pantai Kesirat. KH/Kl

Pandhita akarya wangsit, pindha kombang angajab ing tawang, susuh angin ngendi nggone, myang galihing kangkung, isine wuluh wungwang.
(Ada-ada Jugag berbentuk Isbat; Sulukan Wayang)

Perjalanan ke sebuah tempat yang dianggap suci, sakral, dilanjutkan pemilihan tempat itu untuk mencoba berjumpa-bersatu dengan yang dikonsepsikan sebagai Tuhan, atau nenepi, sesirih, kontemplasi, bertapa, sembahyang, shalat, samadi, yoga, membawa serta krenteg-jejeg. Bahwa suatu tempat mampu nyirati (menciprati) energi luar biasa, baik dalam definisi: ketenangan, kedamaian, sendhon (kesenduan; dalam relasinya dengan Tuhan Yang Menciptakan Tempat-tempat Kontemplatif) sehingga sang manusia yang kadang harus melakukan perjalanan jauh untuk tiba di tempat-tempat seperti ini memeroleh ketenangan, pembebasan, juga pencerahan. Para manusia bercinta dengan debur ombak, tajam karang, bongkahan batu, angin kencang. Mereka menciptakan medan energi, agar menyerap energi. Manusia mencari-cari: dari mana pangkal ombak, dimana sarang angin laut, dimana lubuk bebatu. Manusia (metafor lelaki) mencari dimana rahim alam berada (wanita).

Manusia mencoba berpindah. Berhijrah. Bermigrasi. Berubah bentuk. Menyublim. Melipat ruang-waktu. Dari bentuk kasar batu-batu, kekayu, ombak, menuju sesuatu yang sukar terdefinisikan oleh kata-kata. Di sebaliknya.

Goa di Pantai Kesirat. KH/Kl.
Goa di Pantai Kesirat. KH/Kl.

Di dalam sebuah goa, di tepi sebuah samudera, seorang manusia bisa menemukannya. Bukankah menemukan ujung segala ihwal (biasa dilakukan oleh para manusia suci) bisa di goa, laut, hutan, gunung, ombak, dan lainnya? Bukankah pangkal kelahiran adalah alam? Manusia mencoba menggapai kedamaian. Di dalam goa karang. Kyai Kesirat namanya. Ia yang telah terciprati debur ombak. Terurapi. Ia yang nyadhong kedamaian dari rahim alam: laut. Ia disucikan air samudera. Ia dinobatkan sebagai penanda tebing (semenanjung) bernama Kesirat. Ia seorang pendeta. Yang berkuasa atas Kraton Mataram (yaitu bermakna “kraton yang mangku Ibu Bumi”) mengakuinya. Dijaga situsnya oleh Mbah Juru Sujiya. Menghormatinya sebagai manusia suci. Bukan malah menghukumnya seperti kepada Amongraga.

Perjalanan Kyai Kesirat ini ditiru sebagai gerak orang berwisata ke pantai. Ke tebing gunung, tepi laut. Di masa kini. Mencoba bersatu dengan debur ombak. Angin. Bebatu karang. Pandangan-pandangan luas tak berbatas. Menyaksikan fajar. Juga senja. Pohon abadi. Meniduri rerumputan (camping). Yang hendak diraih? Katanya kedamaian. Refreshing. Penyegaran kesadaran. Dari sesaknya kehidupan. Manusia-wisata membingkainya. Mengabadikannya. Mewartakannya. Suatu tempat yang luar biasa indah-damainya ini. Kemudian yang lain berbondong-bondong hendak membuktikannya. Apakah benar suatu pantai (tebing di tepi samudera) mampu mencipratkan kedamaian?

Akses ke Kesirat dibaikkan. Jalan diciprati aspal. Hotmix. Tak begitu lebar. Dulunya jalan batu karang yang dikeprus. Nggronjal. Masyarakat lokal berfikiran, seperti halnya cara fikir pemerintah, jika akses jalan meningkat kualitasnya, para wisatawan akan membanjir, mereka kecipratan peningkatan pendapatan pula. Kapital. Uang. Sembari bercocok tanam di antara bebatu karang yang hasil cipratannya tak seberapa. Bagi para pemancing begitu halnya. Memancing di tebing Kesirat mencari kedamaian, di sebalik ikan. Buka melulu pada ikan yang didapatkan, namun rasa ketika dari atas tebing ikan tertusuk mata, meronta ingin lepas. Bebas. Pemancing berkuasa. Mewujudkan kuasa. Kesirat berubah menjadi surga bagi para pelancong pancing. Dan manusia camping.

Ini semacam ‘ada-ada’ (pertanda dimulainya sesuatu) agar wisata itu bukan sekedar ‘wisata’, namun benar-benar sebuah pencarian, perjalanan, nyadhong energi alam, biar kesiratan (kecipratan) olehnya. Hingga, ketika para manusia yang kedaya-daya melakukan perjalanan jauh menggapai ketenangan, kebeningan, keayeman di Kesirat, dan ketika mampir di warung Mbah Yatma dan Bu Rani untuk ngopi dan ngemi, dan sebentar nanti mengambil kendaranya, bisa merasakan sungguh apa itu wisata. Pulang dari sejenak berwisata. Tapi, ini bulan puasa, ya?

Manusia berpuasa, tak hanya di bulan yang disebut puasa: sejenak mengalihkan nafsunya untuk tak menjual dengan ‘lebay’ tempat-tempat suci semacam ini, untuk tak mengkonversi ibu alam menjadi sekedar kapital. Seperti nyinyir Waluya, yang jauh dari Dhusun Wilasa untuk ngarit: rerumputan di sela batu karang di Kesirat, hingga Woh Kudu. Manusia kini banyak berubah, katanya. Tertelikung adat kota: lupa bahwa dulu begitu menikmati ngarit rumput di tepi samudera, sekarang pulang tepuk dada. Kaya. Tak lagi ‘andhap asor’, ‘sumanak’ kepada ‘liyan’, imbuhnya. Terutama pada alam. Seperti waktu ‘kere’ dulu.

Meskipun manusia, yang telah kota, yang wisata, yang mancing, yang camping, yang ngarit, yang njuru kunceni, yang markiri motor, tidak sungguh memeroleh kesucian-kesunyian alam, bahkan Sang Kyai Kesirat sekalipun, hanya berharap ‘kesiratan‘ (kecipratan), seperti pencarian makna kombang angajab tawang, susuhing angin, isine wuluh wungwang, dan seterusnya di awal itu.

Ya, ‘wisata’ di Kesirat minimal kesiratan ombak yang lagi muncrat tinggi. Dan di sisi barat, ‘gegana bang sumirat’ (langit bersinar merah). Muncar-muncar cahayanya. Memancur. Memancar. Manusia yang berduyun datang, yang berharap kecipratan sorot langit, banyak yang lupa, bahwa dalam diam, “batu-batu mencatat nama Tuhan yang terlupa”.

Begitu, dulu, sentil salah seorang budayawan asal Gunungkidul Hasta Indriyana lewat puisi.

(Penulis: Klepu)

Komentar

Komentar