Hobi Nge-game Antarkan Remaja Playen Dapat Kontrak Bergaji Jutaan

oleh -
gamer
Dio bersama ibunya, Selvia. (KH/Kandar)

PLAYEN, (KH),– Perkembangan video game atau permainan elektronik cukup pesat. Perkembangannya seiring sejalan dengan semakin terjangkaunya piranti berupa telepon pintar untuk memainkannya.

Situasi tersebut memicu munculnya kebiasaan nge-game, utamanya bagi anak-anak. Dengan gadget, banyak anak dan remaja menjadi keranjingan main game.

Tak sedikit orang tua menganggap kebiasaan itu merupakan rutinitas negatif. Membuang-buang waktu dan kurang bermanfaat.

Namun siapa sangka, dari kebiasaan nge-game itu juga perpotensi mendatangkan prestasi dan juga cuan bagi pelakunya. Hal tersebut tentu saja setelah ada asosiasi dan lembaga resmi yang menyelenggarakan kompetisi secara berjenjang.

Baru-baru ini, ada pelajar Gunungkidul yang jago main game mendapat kontrak dari tim yang telah memiliki jam terbang ikut kompetisi berskala nasional.

Adalah Dio Vito Pratama, pelajar asal Kalurahan Gading, Kapanewon Playen, Gunungkidul ini bersama tim  yang merekrutnya meraih juara III pada kompetisi tingkat nasional.

Putra pertama dari Totok Budiantoro dan Selvia Setyawan ini mengaku direkrut menjadi salah satu atlet esport bergenre Battle Royale usai jejaknya bermain game diketahui oleh kapten tim asal Jakarta.

“Kapten tim pernah jadi musuh saya saat saya main. Kemudian saya dihubungi dikasih tawaran jadi anggota tim,” kata Dio belum lama ini saat ditemui di kediamannya.

Pelajar SMAN 2 Playen ini lantas menyanggupi tawaran tersebut. Dirinya bersedia mengingat kegiatan belajar mengajar di sekolahnya belum benar-benar efektif berjalan.

“Saya dikontrak 3 bulan untuk satu kompetisi. Kegiatan sekolah daring bisa saya ikuti sembari turnamen,” ungkapnya.

Dalam tim, saat berkompetisi main Free Fire, ia lebih banyak berperan sebagai rusher. Ia piawai membuka atau menginisiasi pertempuran ke area lawan.

Pada kompetisi perdana itu, selain Mendapat bonus kemenangan tim ia juga dinobatkan sebagai pembunuh musuh terbanyak sehingga berhak atas hadiah Rp 10 juta.

“Habis kontrak 3 bulan langsung ditawari untuk kontrak 2 tahun,” ujar Sulung dari 3 bersaudara ini.

Dalam kontrak lanjutan itu, ia meminta honor Rp 4 juta dalam 1 bulan. Manajer tim pun menyanggupinya. Tentu saja, penghasilan tersebut berpotensi meningkat melalui bonus jika tim yang ia bela mampu memenangkan kompetisi demi kompetisi.

Ditanya riwayat sehingga ia menjadi gamer handal, Dio menyebut yang diperlukan yakni kemauan berlatih terus menerus.

Dio mengaku sempat mendapat teguran keras dari orang tua atas kebiasaannya main game. Namun, suatu kali ia pernah berjanji, bahwa main game juga dapat mendatangkan prestasi diantaranya uang.

Ibu Dio, Selvia Setyawan mengakui bahwa ia dan suami pernah melarang rutinitas Dio main game.

“Kami berfikir bahwa main game terus kelak mau jadi apa. Sebetulnya kami fasilitasi agar menjadi atlet Badminton. Ya sekolah badminton dan kompetisi-kompetisi skala lokal,” terang Selvia.

Namun, kegiatan belajar badminton tak mengurangi Dio banyak menghabiskan waktu main game. Hingga akhirnya rutinitas itu mengantarkan Dio menjadi gamer handal.

Saat tahu Dio mendapat kontrak dan terbukti mendapatkan hasil dari bermain game itu, Selvia baru sadar, bahwa tak sepenuhnya kebiasaan nge-game itu merupakan kebiasaan yang buruk.

“Ya akhinya saya mendukung. Asal tetap mementingkan sekolah. Soal kontrak dua tahun ke depan nanti rencanannya saya akan meminta ijin ke sekolah,” tukas Selvia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar