GUNUNGKIDUL, (KH),— Hasil uji laboratorium terhadap sampel sisa makanan dan air minum dari SPPG milik Divisi Propam Polri yang berlokasi di Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul telah dirilis. Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menyatakan bahwa ditemukan keberadaan bakteri dan jamur yang diduga menjadi penyebab utama insiden keracunan makanan yang dialami belasan siswa.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menjelaskan bahwa berdasarkan pengujian kimia, tidak ditemukan kandungan zat berbahaya seperti sianida, fosfor, maupun arsenik. Namun, pada uji biologis terhadap sisa makanan dan air bersih, ditemukan sejumlah bakteri dan jenis kapang/khamir (jamur) yang berpotensi menyebabkan keracunan.
“Bakteri yang ditemukan antara lain Klebsiella pneumoniae pada oseng buncis, wortel, irisan tahu, dan buah melon. Jamur jenis kapang/khamir ditemukan pada ayam goreng tepung dan melon. Sementara Bacillus cereus ditemukan pada semur tahu dan oseng buncis wortel,” jelas Ismono, Sabtu (4/10/2025).
Selain pada makanan, air yang digunakan di lokasi SPPG juga terkontaminasi bakteri.
“Kami temukan bakteri E. coli patogen dalam sampel air,” tambah Ismono.,
Rekomendasi Dinkes Gunungkidul
Menindaklanjuti hasil uji laboratorium tersebut, Dinas Kesehatan memberikan sejumlah rekomendasi penting kepada pihak SPPG Sumberejo, di antaranya:
-
Segera memproses Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Kesehatan.
-
Pemilihan bahan makanan harus sesuai dengan SOP keamanan pangan.
-
Proses pemasakan, penyajian, dan distribusi makanan harus memenuhi standar sanitasi.
-
Menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan APD sesuai prosedur, serta menerapkan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir.
-
Alat dan bahan makanan harus disimpan di tempat bersih, seperti rak atau palet.
-
Mengendalikan vektor penyakit seperti lalat dan serangga dengan cara aman.
-
Melakukan perbaikan kualitas air bersih dengan berkoordinasi bersama petugas kesehatan lingkungan Puskesmas atau Dinkes Gunungkidul.
“Semua standar tersebut harus dipenuhi agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegas Ismono.
Sementara itu, perwakilan SPPG, Didik Rubiyanto, mengaku lega setelah hasil laboratorium dirilis. Ia berharap SPPG yang sempat ditutup sementara dapat segera beroperasi kembali.
“Kami berharap operasional bisa segera dimulai kembali,” kata Didik.
Ia mengungkapkan bahwa pasca insiden keracunan pada 15 September 2025, SPPG Sumberejo sempat ditutup sementara oleh BGN terhitung sejak 27 September, menunggu hasil uji laboratorium keluar.
Selama masa penutupan, SPPG melakukan berbagai perbaikan dan penyempurnaan sistem sanitasi serta mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kompetensi para pekerja.
“Kami masih dalam tahap perbaikan. Beberapa pelatihan sedang kami ikuti untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kebersihan,” ungkap Didik.
Terkait proses sertifikasi SLHS, pihaknya mengaku saat ini sedang dalam proses pengajuan. Diperkirakan sertifikasi tersebut akan selesai dalam waktu sekitar satu bulan.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada 15 September 2025, sebanyak 19 siswa dari berbagai jenjang pendidikan (SD, SMP, dan SMA) di wilayah Kapanewon Semin mengalami gejala keracunan makanan. Gejala yang muncul antara lain mual, muntah, pusing, dan sakit perut setelah menyantap makanan dari SPPG.
Para siswa kemudian dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Dinas Kesehatan Gunungkidul pun langsung turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan dan mengambil sampel makanan serta air untuk diuji di laboratorium.





