Goa Pari dan Goa Bening di Desa Karangtengah Peninggalan Eyang Kertisuto

oleh -
iklan dispar

WONOSARI, (KH) — Obyek wisata  Goa Pari di Padukuhan Karangtengah 3,Desa Karangtengah, Kecamatan Wonosari termasuk obyek wisata yang sudah lama ada. Karena tidak dipublikasikan, Goa Pari tidak terkenal seperti Goa Pindul di Bejiharjo Karangmojo.

Konon Goa Pari merupakan peninggalan Eyang Kertisuto. Diceritakan pada tahun 1816 di tengah hutan ditemukan goa yang cukup luas. Tidak ada yang berani masuk ke goa tersebut, karena masih dianggap angker oleh masyarakat pada saat itu.

Dengan ilmu yang tinggi (tentunya berdasarkan cerita yang sama ), Eyang Kertisuto berhasil menjinakkan dan masuk ke goa tersebut.

Ketika terjadi perang kemerdekan, goa tersebut dipergunakan untuk menyimpan pari (padi).Sejak saat itu hingga kini, goa tersebut diberi nama Goa Pari.

Sekarang Goa Pari telah dikembangkan sebagai  obyek wisata di Desa Karangtengah Wonosari. Selain Goa Pari ada Goa Bening yang jaraknya hanya 250 meter dari Goa Pari. Goa Bening juga merupakan  peninggalan Eyang Kertisuto.

Diceritakan ketika Eyang Kertisuto mencari air,  ia mendengar suara gemuruh di bawah tanah. Ketika diperiksa, ternyata ada sungai di bawah tanah melewati sebuah Goa. Karena air yang mengalir , airnya bening (jernih), diberilah nama Goa Bening.  Menurut cerita yang ada di masyarakat setempat, airnya berkhasiat. Siapa yang mandi di Goa Bening, aura kecantikan nampak bersinar, dan awet muda. Boleh percaya, boleh tidak.

Di sekitar Goa Bening ada sumber air yang letaknya hanya sekitar 250 meter dari Goa Bening, namanya Sumber Bener. Sumber Bener ini ditemukan oleh mbah Dipo tahun 1947. Dibantu warga lainnya mbah Dipo membuat bendungan agar air dari Sumber Bener dapat dialirkan ke tanah pertanian di sekitarnya. Sumber Bener dimanfaatkan untuk irigasi yang dapat mengairi sawah 25 hektar yang dapat ditanami sepanjang tahun. (Sarwo/Tty). Foto: Antara.

Komentar

Komentar