Festival Selancar di Pantai Wediombo Bakal Jadi Agenda Tahunan

oleh -
iklan dispar

GIRISUBO,kabarhandayani.– Acara Jogja Surfing Competition 2014 yang digelar di Pantai Wediombo Kecamatan Girisibo Gunungkidul pada Minggu (14/9/2014) berlangsung meriah. Tak hanya disaksikan ribuan pasang mata masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, festival ini juga menarik minat wisatawan luar negeri.
Kompetisi selancar nasional ini diawali dengan upacara pembukaan pengibaran Sang Saka Merah Putih di bibir pantai. Ada 33 peselancar dari seluruh Indonesia yang mengikuti event tersebut. Event yang digelar oleh Wediombo Surf Society (WSS) ini mendapat tanggapan positif dari para wisatawan.
Promotor Acara Jogja Surfing Competition 2014 Budi Santosa mengatakan, festival selancar ini ada kemungkinan menjadi anggota rutin yang akan digelar di Gunungkidul. Namun tentunya event ke depan harus dikemas dengan baik lagi, dengan persiapan yang lebih matang.
“Untuk mendapat kepercayaan masyarakat bahwa selancar dapat digelar di Pantai Gunungkidul, itu yang menjadi tantangan kami. Semua terjawab sudah, antusiasme warga sekitar dan masyarakat Yogyakarta cukup besar untuk mengikuti acara ini,” katanya.
Dikatakannya, selain untuk memberikan hiburan alternatif, festival selancar ini diharapkan dapat mendongkrak wisatawan untuk berkunjung di Gunungkidul, selain itu kata Budi, melalui festival ini, diharapkan kemajuan olah raga surfing di Yogyakarta akan semakin pesat.
Budi menambahkan, dalam festival selancar yang pertama digelar di Yogyakarta ini, panitia membuka 2 kelas, yakni kelas under (pemula) untuk umur 14 tahun dan kelas open (16 tahun ke atas). Festival ini diikuti oleh peselancar yang berasal dari Pacitan Wonogiri, Batu, Pracimantoro, Sukabumi, Pangandaran, Mentawai, Bengkulu dan beberapa daerah di Indoensia.
“Peserta terbaik mendapat hadiah papan selancar dan uang tunai. Selain melibatkan panitia lokal, kompetisi ini bisa terselenggara berkat kerja sama dengan beberapa sponsor di Yogyakata,” ungkapnya.
Untuk penilaian, kata Budi, setiap peselancar diberikan waktu 15 menit mencari poin dengan beraksi di atas ombak. Setiap babak diikuti empat kontestan dengan memakai warna baju yang berbeda. Saat mereka beraksi, juri akan menilai mana manuver terbaik berdasarkan besarnya ombak yang dapat ditaklukan.
“Untuk menjaga sportivitas, kita mengambil tiga juri, dua di antaranya berasal dari Australia. Poin dari setiap manuver yang dapat dilakukan akan dikalkulasi untuk menentukan lolos tidaknya di babak selanjutnya,” paparnya.
Terpisah, Kepala Bidang Pengembangan dan Produk Wisata Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Gunungkidul Hari Sukmono mengatakan, pihaknya sangat mendukung dan memberikanapresiasi positif atas terselanggaranya kegiatan tersebut.
“Kita mendukung, dan semoga ke depan dapat lebih meningkatkan kerjasama dan komunikasi yang lebih baik dengan kami (Disbudpar) kemungkinan akan digelarnya acara yang sama,” katanya. (Juju/Jjw).

Komentar

Komentar