Desa Wisata Tepus Buka Paket Wisata Naik Jeep Kunjungi Pantai Perawan di Gunungkidul

oleh -
Wisata
Kendaraan berspesifikasi Jeep parkir di Kawasan Pantai Watunene. (KH/ Kandar)
ucapan natal pemkab

GUNUNGKIDUL, (KH),– Pandemi COVID-19 belum berakhir. Namun demikian Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus mendorong masyarakat kreatif menghidupkan dan memulihkan sektor perekonomian dari berbagai sektor. Seperti yang dilakukan Desa Wisata Tepus, Kabupaten Gunungkidul, DIY yang merintis layanan jasa wisata berupa jelajah pantai menaiki mobil berspesifikasi Jeep.

Ketua Desa Wisata Tepus, Suheri mengatakan, Desa Wisata Tepus telah memperoleh Surat Keputusan (SK) dari bupati Gunungkidul sejak 2020 lalu. Namun demikian belum ada terobosan yang signifikan sejak kepemilikan SK. Baru saat ini, inovasi dilakukan. Meski pandemi masih berlangsung, desa wisata membuka layanan jasa trip menuju pantai di kawasan Kapanewon Tepus mengendarai Jeep.

“Dari rest area Tepus, naik Jeep menuju kawasan pantai sejauh 4 kilometer. Ada beberapa pantai, diantaranya tergolong masih perawan,” kata Heri, Senin (29/11/2021).

Berangkat dari rest area, wisatawan diajak menaiki Jeep menyusuri jalur yang melintasi perkampungan dan bukit-bukit pegunungan seribu. Jalur masih sangat terjal dan sulit. Sehingga untuk menuju pantai harus memakai kendaraan roda empat dengan spesifikasi yang bisa melaju di segala medan. Setidaknya tersedia 40 kendaraan yang berasal dari dua komunitas di kalurahan setempat.

Adapun pantai yang dituju, dia menambahkan, yakni Pantai Watunene dan Watu Lawang. Pantai tersebut punya panorama indah. Pantai Watunene berada di bawah tebing yang cukup menjulang. Pasirnya berwarna putih bersih. Dari atas tebing jika menghendaki turun wisatawan harus sangat hati-hati. Sebab, jalan setapak yang ada cukup curam.

Pantai gunungkidul
Wisatawan tiba di Pantai Watunene. (KH/ Kandar)

Tak hanya destinasi wisata pantai yang ditawarkan, tetapi dalam paket wisata juga dilengkapi pertunjukan seni dan kunjungan ke pengrajin perak ‘Surya Silver’ serta pengrajin batik. Kerajinan perak dikelola Supriyadi, sementara kerajinan batik motif Pinilih dijalankan Sulis bersama kompoknya. Motif batik Pinilih bergambar lobster. Motif tersebut dipilih untuk menunjukkan identitas masyarakat setempat. Sebagaimana diketahui, banyak warga di Kalurahan Tepus yang menekuni pekerjaan bidang perikanan, diantaranya sebagai nelayan pencari losbter.

“Sebelum berangkat, di rest area wisatawan terlebih dahulu disuguhi kesenian Reog atau Jatilan. Kemudian usai dari pantai wisatawan diajak mengunjungi kerajinan perak dan Batik,” terang Heri.

Mengenai harga paket, sambungnya, tiap orang cukup membayar Rp250 ribu seksli trip. Tarif tersebut sudah termasuk biaya makan siang. Kalau menghendaki menginap atau live in selama dua hari satu malam dengan pelengkap agenda barbeque di kawasan pantai dikenai biaya Rp430.000.

Kaur Umum Kalurahan Tepus ini menambahkan, desa wisata telah bekerja sama dengan pengelola home stay dan penginapan di kawasan pantai. Ada 120 kamar yang siap menampung wisatawan jika berminat dengan paket live in. Tarif paket layanan wisata tersebut bisa berubah sesuai kombinasi yang diinginkan wisatawan.

Upaya pengenalan paket wisata tersebut telah dilakukan desa wisata sebanyak dua kali. Kegiatan berlangsung atas dukungan Dinas Pariwisata, diantaranya dengan menggelar fam tour bersama biro perjalanan wisata di DIY dan Jateng serta bersama awak media.

Desa wisata tepus
Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengunjungi pembuat kerajinan perak di Kalurahan Tepus. Mengunjungi pengrajin perak merupakan salah satu paket trip yang disediakan Desa Wisata Tepus. (KH/ Kandar)

Bupati Gunungkidul, Sunaryanta mendukung kreativitas yang dilakukan oleh Desa Wisata Tepus. Pengembangan destinasi wisata tak harus melulu dengan mewujudkan sarana fisik, diantaranya pembangunan jalan yang halus dan mulus. Ada beberapa destinasi kunjungan yang sengaja disediakan khusus bagi pecinta petualangan. Seperti mengunjungi atau berjelajah ke kawasan pantai menggunakan kendaraan Jeep.

“SDM juga perlu didampingi dalam rangka pengembangan pariwisata Gunungkidul. Komunitas-komunitas yang sudah terbentuk saat ini sangat membutuhkan pendampingan dan dukungan dari sisi SDM-nya,” kata dia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar