Cing-Cing Goling, Salah Satu Aset Wisata Budaya Gunungkidul

oleh -
iklan dispar

KARANGMOJO, kabarhandayani.– Perayaan Cing-Cing Goling yang dilaksanakan warga Padukuhan Gedangrejo Kecamatan Karangmojo kembai digelar, Senin (18/8/2014). Cing-Cing goling dapat dikategorikan sebagai tradisi upacara selamatan atau perwujudan rasa syukur.
Perhelatan Cing-Cing Goling mampu menjadi magnet yang menarik perhatian masyarakat. Di sana, ratusan ayam kampung dipotong untuk dijadikan ingkung sebagai pelengkap sesaji. Uborame yang mendapat doa dari sesepuh desa, kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir dalam ritual.
Sugiyanto, pemangku adat desa setempat mengisahkan, awal mula tradisi Cing-Cing Goling berawal dari cerita rakyat yang mengisahkan peristiwa sekitar abad ke-15 atau tahun 1400 M. Cerita berawal dari peperangan yang terjadi antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak. Setelah Kerajaan Demak menang, para pengikut setia Kerajaan Majapahit mengungsi dan berpencar untuk mencari kehidupan.
Alkisah Ki Wisang Sanjaya dan istrinya Ni Wisang Sanjaya serta Yudopati prajurit Majapahit mengungsi ke daerah Gedangrejo, atau di sekitar Kali Gede. Di sana mereka hidup menjadi petani dan membangun sebuah bendung untuk pengairan. Konon bendung itu hanya dibuat menggunakan tombak sakti yang hanya digoreskan ke tanah. Bekas goresan itulah yang menjadi sungai dengan air yang mengucur deras.
Pada ritual ini ratusan warga Gedangrejo berkumpul di bawah pohon besar yang dipercaya merupakan pohon cikal bakal saksi terjadinya bendung. Di sisi sebelah utara bendung, warga juga menyaksikan adegan yang menceritakan puluhan perampok yang mencoba memiliki Ni Wisang Sanjaya karena kecantikannya.
Pada adegan ini puluhan perampok berlarian menginjak-injak tanaman warga. Perampok itu pun semakin bersemangat setelah Ni Wisang Sanjaya menaikkan jarit (Jawa: cincing) yang ia kenakan hingga terlihat betis yang putih dan membuat seluruh perampok semakin tertarik. Tetapi perampok dapat dilawan oleh Ki Wisang Sanjaya dengan cemeti saktinya.
Dalam ritual Cing-cing Goling, meskipun tanaman diinjak-injak, petani setempat tidak marah tetapi justru mengharapkan hal itu. Karena warga setempat percaya, tanaman yang diinjak-injak tidak akan mati, tetapi justru bertambah subur.
“Cerita sejarah Cing-Cing Goling mempunyai makna ingin mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT. Upacara adat diharapkan dapat dilaksanakan dan dilestarikan kepada generasi berikutnya,” kata Sugiyanto.
Rangkaian upacara adat Cing-Cing Goling dimainkan oleh 24 orang. Satu berperan sebagai perempuan, dan 23 orang sebagai perampok. Upacara adat ini biasa digelar setelah panen ke-dua dan dilakukan pada hari Kamis Kliwon atau Senin Wage.
Dalam upacara adat tersebut terdapat pembatas yang terbuat dari janur (daun kelapa muda). Sugiyanto memaparkan, fungsi dari pembatas tersebut adalah untuk membatasi bagi orang yang sedang haid maupun sedang hamil yang tidak boleh menonton melebihi pembatas tersebut.
Sekretaris Daerah Gunungkidul Budi Martono berharap, upacara tradisional Cing-Cing Goling yang dilaksanakan masyarakat Desa Gedangrejo Kecamatan Karangmojo ini bisa menjadi aset wisata budaya, dan mampu menarik wisatawan lokal maupun manca negara.
“Ini potensi yang luar biasa. Di daerah lain tidak ada upacara seperti ini, sehingga perlu dikemas lebih baik lagi untuk menarik wisatawan,” pungkasnya. (Juju/Jjw).

Komentar

Komentar