Budidaya Semut Rangrang yang Menguntungkan

oleh -
Tempat Budidaya Semut Rangrang. Foto : Edo
iklan dispar
Tempat Budidaya Semut Rangrang. Foto : Edo
Tempat Budidaya Semut Rangrang. Foto : Edo

WONOSARI, (KH) – Semut Rangrang (Oecophylla) adalah semut berukuran agak besar yang dikenal memiliki kemampuan dalam membentuk anyaman dalam sarangnya. Serangga ini bersifat teritorial (menjaga tempat hidupnya) dan bertemperamen “galak”. Rangrang tidak segan-segan menyerang apapun yang mendekati kawasan aktivitasnya. Karena perilaku ini, banyak pemilik pohon buah di Asia Tenggara memanfaatkannya untuk menjaga buah yang mulai ranum. Selain sebagai penjaga, rangrang dimanfaatkan manusia sebagai sumber pakan burung berkicau peliharaan. Larvanya disukai oleh burung pemakan serangga dan dikenal sebagai kroto . Kroto merupakan komoditi yang bisa mendatangkan penghasilan.

Salah satu yang memanfaatkan Rangrang dengan membudidayakannya, adalah Safitri (32). Warga Padukuhan Ngelorejo, Gari, Wonosari ini sudah menjalankan usaha budidaya semut rangrang selama 3 bulan. Cara membudidayakan rangrang dengan terlebih dahulu memahami karakter-karakter semut dari berbagai macam koloni semut yang berbeda. Jika asal mencampur koloni semut, semut-semut itu bisa bertarung dan bisa mati pada akhirnya.

Safitri mengatakan, dalam memahami karakter semut, dirinya membutuhkan waktu 1 bulan. Ada tiga macam semut yang sekarang ia budidayakan, yaitu semut merah, semut merah coklat, dan semut coklat hitam. Kendala yang dihadapi dalam membudidayakan rangrang, yaitu memadukan karakter antar semut.

“Budidaya semut Rangrang termasuk menguntungkan. Karena selain mudah, juga tidak memerlukan modal yang banyak. Kroto yang dihasilkan semut Rangrang memiliki nilai jual lumayan tinggi,” katanya Sabtu (17/1/2015).

Ada dua macam kroto yang dihasilkan dari budidaya Semut Rangrang milik Safitri ini, Kroto Mberas dan Kroto Basah. Kroto ia jual dengan harga Rp.20.000 per Ons-nya. Dari segi pemasaran, kroto-kroto itu dipasarkan di toko pakan burung berkicau.

Safitri menjelaskan, bahwa tidak ada kendala dengan alat yang digunakannya. Kendalanya hanya saat mencari rangrangnya. “Kalau musim hujan, semut-semut rangrang itu sering berpindah-pindah pohon. Kalau musim kemarau, ya gampang, sebab semut-semut itu turun untuk mencari air,” tambah Safitri.

Usaha ini dilakoni karena Ia tahu membudidayakan semut rangrang di Gunungkidul masih jarang ditemui. “Semoga usaha ini nantinya bisa berlanjut dan dapat saya jadikan sebagai sumber penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” pungkas Safitri. (Kiriman berita dari Edo Nurgantara)

Komentar

Komentar