Beringin Alun-alun Wonosari Menjadi Penanda Pindahnya Kantor Pemerintahan Gunungkidul

oleh -
Beringin
Satu dari dua Pohon Beringin di alun-alun Wonosari, Gunungkidul. (KH/ Kandar)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Alun-alun Wonosari, Gunungkidul merupakan ruang publik. Tiap momentum hari jadi seperti Bulan Mei sekarang ini sering dijadikan arena pesta rakyat. Guna menggelar agenda yang bersifat profan. Ada pertunjukan seni, pameran produk kegiatan usaha masyarakat, lomba-lomba dan lain-lain. Sering dijadikan pula sebagai tempat resepsi atau upacara formal oleh pemerintah.

Pada peringatan Hari Jadi Gunungkidul ke – 191 tahun ini, alun-alun tak menjadi pusat kegiatan. Sebagaimana diketahui, pentas seni dan pameran tahun ini digelar di Taman Budaya Gunungkidul (TBG).

KH sempat menanyakan mengenai riwayat alun-alun Wonosari kepada Ketua Dewan Budaya Gunungkidul, CB Supriyanto beberapa waktu lalu. Dia menyampaikan, sebelum dijadikan atau lebih umum disebut alun-alun dalam konteks tata ruang pusat pemerintahan, alun-alun Wonosari ini merupakan lapangan luas berbentuk persegi empat.

Di sekitar lapangan ada bangunan Argososro. Bangunan ini menjadi pusat kegiatan pentas seni dan pertunjukan. Lapangan itu dahulu terbelah oleh jalan, dari selatan ke utara persis di tengah-tengahnya.

CB Supriyanto mengisahkan, saat Gunungkidul lahir, pusat kantor pemerintahan pertama berada di Pati, Ponjong. Kemudian bergeser ke barat ke Wonosari, menempati tempat yang saat ini dikenal sebagai Bangsal Sewoko Projo. Persis di sebelah utara Pasar Argosari.

Pusat pemerintahan kemudian bergeser lagi ke barat ke lokasi yang sekarang ini menjadi kantor bupati dan sekretatiat pemerintah daerah. Sebagai penanda perpindahan ditanamlah Beringin di alun-alun.

“Penanaman dua Pohon Beringin di alun-alun itu menjadi penanda perpindahan kantor pemerintahan dari Sewoko Projo ke lokasi yang sekarang,” terang CB Supriyanto saat ditemui di kediamannya.

Menurutnya, ditanamnya dua beringin tak ada alasan khusus. Karena lapangan yang kemudian lebih lazim disebut alun-alun dibelah jalan, maka agar lebih pantas, nampak imbang serta simetris ditanamlah dua Pohon Beringin. Seingat dia, proses perpindahan kantor berikut penanaman beringin terjadi pada masa pemerintahan bupati Darmakum Darmokusumo. Pemimpin Gunungkidul ke-20.

“Seingat saya yang ikut menanam Pak Projo Seputro, beliau spiritualnya kuat. Yang menyaksikan Pak Sintarjo ketua DPRD dan tokoh-tokoh,” kata CB Supriyanto. Dia tidak ingat betul jabatan Projo Seputro waktu itu.

Alun-alun
Alun-alun Wonosari, Gunungkidul. (KH/ Kandar)

Penataan dan pembangunan kantor dan kawasan di seputar pusat pemerintahan menyusul dilakukan secara bertahap menyesuaikan ketersediaan anggaran.

“Rumah dinas dan kantor untuk pelayanan publik tahap demi tahap didirikan. Jalan aspal di tengah alun-alun dibangun diperbaiki,” terang CB Supriyanto.

Kemudian tidak berselang lama jalan aspal yang membelah alun-alun dari selatan ke utara dihilangkan. Dihilangkannya jalan aspal itu bersamaan momentum penganugerahan Parasamya Purnakarya Nugraha. Berdasar hasil komunikasi dengan pihak keraton, seingat dia, alasan dihilangkannya jalan di tengah alun-alun supaya tidak menyerupai alun-alun keraton Yogyakarta. Setelah jalan dihilangkan, alun-alun kemudian ditanami rumput.

Karena berada di alun-alun yang kerap dijadikan tempat melangsungkan hajad pemerintah dan masyarakat, termasuk kegiatan keagamaan, konser musik, pentas seni dan lain-lain, ukuran Pohon Beringin sengaja dibuat tetap. Perawatan berupa pemangkasan dilakukan manakala pohon akan bertumbuh jauh lebih tinggi dan besar.

“Saat bupati dipimpin KRT. Sosrodiningrat Pohon Beringin kemudian diberi pelindung berupa pagar tembok. Habis itu tinggal perawatan saja terus-menerus,” sambungnya.

Alasan jenis Pohon Beringin yang dipilih ditanam sebagai penanda perpindahan kantor pemerintahan diakui tidak lepas dari konsep tata ruang alun-alun sekaligus ciri khas era kerajaan jaman dulu. Bahwa alun-alun menjadi bagian kompleks keraton atau pusat pemerintahan. Lalu, Pohon Beringin itu menjadi bagian dari alun-alun. Pohon Beringin yang ditanam pada alun-alun mewakili atau memiliki simbol pelindung dan pengayom.

“Untuk tataran pemerintahan kabupaten, ya Pemerintah Daerah Gunungkidul melindungi masyarakatnya,” tegas CB Supriyanto. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar