Apa yang Menjadi Ciri Khas Boarding School dan Full Day School? (1)

oleh -
Pelajar SD. Dok. KH
iklan dispar
Pelajar SD. Dok. KH
Pelajar SD. Dok. KH

WONOSARI, (KH)— Dalam seminggu terakhir ini banyak perbincangan dan pembahasan yang menyoroti berbagai wacana yang dikeluarkan oleh Mendikbud  Profesor Muhadjir Effendy. Salah satu wacana yang sempat menjadi kontroversi publik adalah wacana full day school.

Wacana ini muncul dengan beberapa alasan yang dikemukakan Mendikbud diantaranya untuk membuat para siswa melakukan kegiatan ekstrakulikuler yang bisa membentuk 18 karakter siswa antara lain jujur, bertoleransi, disiplin, cinta tanah air, dan jauh dari pergaulan negatif. Kedua, menurut Muhadjir dengan adanya full day school para orangtua yang bekerja hingga sore hari bisa menjemput anaknya pulang sekolah ketika usai bekerja sehingga tidak perlu menitipkan anak ke orang lain atau memerlukan jasa pengasuh anak.

Perlu diketahui full day school tidaklah pertama kali ini saja diwacanakan. Sekitar tahun 1996 sistem full day telah dicoba diterapkan meski hanya bertahan beberapa tahun saja. Selain full day school terdapat pula sistem pendidikan yang disebut boarding school. Sistem ini kebanyakan diterapkan oleh sekolah-sekolah berbasis Islam dan sekolah swasta lainnya.

Saat ini Indonesia menerapkan sistem sekolah formal atau sering disebut sekolah konvensional (day school). Sistem sekolah ini kebanyakan diterapkan pada sekolah-sekolah yang berstatus negeri serta sekolah swasta.

Telah banyak sekolah-sekolah swasta yang menerapkan sisyem full day school dan boarding school. Sekolah ini memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan ciri sekolah formal.

Seperti yang dikutip dari Baharudin dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan,Full day school muncul berangkat dari pemikiran yang menyatakan sekolah konvensional kurang mampu menghasilkan mutu pendidikan yang berkualitas. Selain ranah kognitif, full day school mengedepankan ranah afektif dan psikomotorik. Selama ini sekolah konvensional dianggap belum bisa mengatasi permasalahan ranah afektif sehingga siswa belum bisa memiliki karakter dan kepribadian seperti yang diharapkan.

Dari segi waktu, pembelajaran full day school lebih lama dibandingkan dengan sekolah konvensional. Biasanya sekolah yang menerapkan full day school baru akan memulangkan anak didiknya pada sore hari sekitar pukul 16.00 hingga 17.00.

Setelah siswa menjalani pembelajaran formal, siswa akan diberikan tambahan kegiatan seperti pengayaan materi pelajaran umum dan kegiatan pengembangan diri seperti musik, praktek ibadah, dan ekstra kurikuler. Dalam pelaksanaannya siswa diberi kesempatan untuk beristirahat siang layaknya di rumah seperti tidur siang dan bermain.

Konsep awal full day school terbentuk untuk lebih bisa memberikan porsi pendidikan akhlak dan moral pada peserta didik. Sehingga full day school diterapkan untuk menciptakan dasar pondasi yang kuat terhadap siswa dalam mengembangkan minat, bakat, serta kecerdasan dalam segala aspeknya.

Pola hubungan antara guru dengan siswa dan guru dengan guru dilandasi dengan bangunan akhlak yang diciptakan dalam konteks pendidikan dan suasana kekeluargaan. Hal ini diwujudkan untuk menangkal pengaruh negatif pada siswa yang biasa terjadi pada sore hari setelah pulang sekolah atau jam belajar sekolah formal selesai.

Pengaruh negatif ini bisa datang dari pergaulan lingkungan sekitar yang tidak kondusif atau pun pengaruh negatif dari perkembangan teknologi informasi. Full day school biasanya menjadi pilihan orang tua atau keluarga yang sibuk, dimana ayah dan ibu sama-sama bekerja sehingga kurang dalam memberikan perhatian pada buah hatinya. (S. Yanto)

Selanjutnya (Bagian 2)

Komentar

Komentar