Alasan Prapto Berani Sematkan “Bukan Aseli” Pada RM Padang Miliknya, Bikin Geli

oleh -
RM Padang (Bukan Aseli) milik Suprapto. (KH)
kadhung tresno

PATUK, (KH),– Rumah Makan (RM) Padang menjamur di berbagai kota di Indonesia. Tak terkecuali di Gunungkidul. Warung makan yang menjual kuliner dari Minangkabau Sumatera Barat ini banyak muncul dengan berbagai bervariasi kapasitasnya. Ada yang rumah makan kecil, menengah, hingga besar.

Kemudahan diterimanya menu khas masakan oleh masyarakat umum menjadi salah satu gampangnya RM Padang menjamur.

Kemunculan warung-warung makan baru secara ekspansif merata di berbagai wilayah dilatarbelakangi berbagai hal. Tak melulu dibuka oleh warga asal Padang aseli. Salah satu pendiri RM Padang asal Kalurahan Kedungpoh Kapanewon Nglipar, Suprapto (62) saat ditemui beberapa waktu lalu berkisah, bisnis kuliner yang ia geluti telah dirintis pada tahun 1990-an.

Yang melatarbelakangi Suprapto membuka warung makan Padang yakni selain alasan pada potensi peluang pasar, ia juga memiliki teman semasa sekolah yang berpengalaman di bidang kuliner, khususnya olahan masakan Padang.

“Dengan jalinan kerjasama dengan kawan semasa sekolah, RM Padang Langgeng Timur saya dirikan,” ujar dia saat KH berbincang di salah satu cabang warung padang miliknya di Sambipitu, Patuk, Gunungkidul.

Rekan kerja yang diajak kerjasama sebelumnya telah berpengalaman mengelola RM serupa di Jakarta. Pendirian RM dengan sistem bagi hasil lantas berkembang hingga berdiri 8 cabang. Di antaranya karena dukungan beberapa investor yang merupakan kolega Suprapto.

“Bagi hasil dengan pemodal tiap 100 hari. Ini meniru sistem bagi hasil yang umum diterapkan oleh pelaku bisnis franchise RM Padang,” lanjut pensiunan pegawai Dinas PUPR ini.

Penambahan cabang dari tahun ke tahun dinilai cukup pesat. Selain karena citarasa, faktor penting yang mendukung keberhasilan tiap cabang baru bisa laris ramai pelanggan karena pengaruh sarana yang tersedia pada tiap gerai. Sarana tersebut berupa tersedianya fasilitas parkir yang luas.

Suprapto. (KH)

“Asal parkir luas pengunjung nyaman. Kedatangan pelanggan salah satu alasannya karena tersedianya parkir luas di tiap gerai,” ungkap Suprapto.

Hal lain yang ikut berkontribusi terhadap larisnya cabang RM Padang Langgeng Timur yakni harga yang cukup bersaing. Suprapto mematok harga standar murah. Saat ini, ketika yang lain mematok harga antara Rp 17.000 hingga 20.000 per porsi, dirinya masih bertahan pada harga Rp 15.000 per porsi sudah termasuk minum.

Di luar itu, Suprapto selalu berusaha menjaga kepercayaan pelanggan dengan mempertahankan layanan layaknya warung makan pada umumnya. Di antaranya: keramahan, kebersihan, dan pelayanan yang responsif.

Cukup lama Prapto bersama rekan investor mengelola 8 cabang. Di kanan kiri tiap cabang yang dahulu saat dirintis masih sepi menyusul berdiri tempat usaha baru. Praktis mempersempit ruang parkir RM Padang yang ia kelola. Karenanya, penurunan omset terjadi. Seiring waktu berjalan, kehadiran berbagai jenis pilihan warung kuliner yang lain juga menjadi salah satu faktor penurunan omset. Cabang-cabang yang dikelola bersama investor atau pemodal satu demi satu tak diperpanjang. Kini, ia tinggal mengelola tiga cabang miliknya sendiri. Satu di Gunungkidul dan 2 lainnya di Yogyakarta.

Tigapuluhan tahun mengelola usaha RM Padang. banyak pengalaman yang Prapto temui. Di antaranya pengalaman saat orang aseli Padang mampir makan di warungnya. Beberapa di antaranya ada yang berguarau, sementara yang lain memberi kritik cenderung sinis.

“Ada yang bergurau minta royalti, karena saya menjual salah satu ciri khas kedaerahan mereka, yakni masakan Padang. Ada pula yang setelah makan bilang bahwa cita rasa masakannya serta pendirinya bukan aseli Padang,” kata Suprapto.

Mulanya Suprapto tak mengambil pusing soal pengalaman-pengalaman yang ditemui itu. Lama-lama ia juga jengkel. Terlebih dengan kemunculan RM Padang lainnya berskala kecil yang gamblang dan mencolok menyematkan kata “Aseli Padang” pada papan naman warung makan. Hal itu seolah menjadi intrik agar warung makan yang dibuka ramai, sekaligus memojokkan RM Padang yang pemiliknya bukan aseli Padang.

“2019 lalu kemudian saya berani sematkan kata “Bukan Aseli” pada papan nama warung saya. Biar yang buka pakai kata “Aseli” puas. Lha wong yang skala besar saja tidak ada yang seperti itu kok,” kata Suprapto heran.

Suasana keramaian jam makan di RM Padang Langgeng Timur. (KH)

Ia menganggap pemilik warung masakan Padang dengan menyematkan kata “aseli” ingin membentuk eksklusivitas.

“Tapi lihat saja, meski bukan aseli warung saya tetap ramai,” seloroh bapak 2 anak sambil ketawa.

Dari tiap cabang yang ia miliki, keuntungan bersih dari dua ruko dari 3 yang dimiliki mencapai Rp 500 ribu per hari.

Meski dua putranya belum melirik untuk meneruskan usaha yang ia jalankan, Suprapto akan terus mempertahankannya. Ia akan setia menyediakan tempat makan bagi pelanggan yang sebagian besar merupakan pekerja. Sampai-sampai ia menyebut, warung makan miliknya memang memiliki segmentasi pekerja. Sebab, harganya sangat terjangkau. Para pekerja di antaranya sales, penglaju, tukang babat tebon, dan lain-lain yang melintas cukup merogoh kocek Rp 15.000 sudah kenyang dan puas.

Pada titik inilah, Suprapto cukup berjasa menyediakan pangan murah bagi para pekerja, khususnya pekerja sektor distribusi logistik. Dirinya mampu membantu kelancaran para pekerja dengan menyediakan menu makan dengan harga terjangkau. Alokasi anggaran makan para pekerja dan tentu juragannya menjadi jauh lebih hemat. [Kandar]

Komentar

Komentar