Agus Purwanto: Dari “Anak yang Ditolak Menari” Menjadi Guru dan Pelestari Seni

Agus Purwanto. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH) ,– Suatu sore yang agak mendung, di sebuah joglo di Gedangrejo, Karangmojo suasana sepi. Pintu ruangan yang menyatu dengan joglo terbuka. Lelaki supel mengenakan udeng keluar dan mempersilahkan duduk. Ia adalah Agus Purwanto (60), seorang maestro tari yang mengabdikan hidupnya bagi seni tradisi.

Kepada KH, Agus berkisah mengenai perjalanannya hingga bisa berdiri di titik sekarang ini. Lika-likunya bukanlah kisah yang lurus dan mudah. Lahir pada 14 Agustus 1964 dari pasangan Mujiharjo dan Suyati, ia tumbuh dalam keluarga yang mencintai seni. Sang ayah dikenal sebagai pemain wayang orang, sementara ibunya memiliki suara merdu saat tembang Jawa berkumandang. Namun, garis seni itu sempat terasa jauh dari dirinya ketika keinginannya untuk belajar menari ditolak.

Bacaan Lainnya

“Waktu kecil saya ingin sekali ikut menari, tapi di sanggar ditolak. Katanya itu murid tari hanya perempuan semua. Rasanya sakit sekali, tapi saya tetap ingin belajar,” kenangnya.

Mimpi itu baru menemukan jalannya ketika Agus duduk di bangku remaja. Meski tidak mendapat pelatihan formal sejak kecil, ia memberanikan diri mendaftar ke SMKI Yogyakarta pada 1981. Dengan semangat belajar yang tinggi, ia berhasil menamatkan pendidikan seni tari dan semakin meneguhkan langkahnya di dunia seni.

Selepas lulus, Agus mengabdikan diri sebagai honorer menjadi guru seni budaya di SMPN 1 Karangmojo. Sejak saat itu, ia mulai menyalurkan ilmunya kepada murid-murid sekaligus menumbuhkan semangat seni di kalangan anak-anak desa.

Sanggar Purwa Mandala: Menari Tanpa Biaya

Kecintaannya pada anak-anak membuat Agus mendirikan sanggar tari bernama Purwa Mandala. Latihan dilakukan di balai desa, tanpa pungutan biaya sedikit pun. Meski serba terbatas, sanggar ini menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar gerakan dasar tari, mengenal irama gamelan, dan tampil di berbagai pentas lokal.

“Yang penting anak-anak desa bisa menari. Tidak usah memikirkan uang. Mereka harus punya ruang untuk berkembang,” tutur Agus.

Dari sanggar inilah lahir banyak penari muda yang berprestasi. Murid-muridnya tak hanya tampil di panggung lokal, tetapi juga menorehkan juara di tingkat provinsi hingga nasional.

Agus tidak berhenti sebagai pengajar. Ia juga dikenal sebagai penari hajatan sebagai cucuk lampah dalam prosesi pernikahan adat Jawa. Gayanya yang khas membuat ia sering dipanggil hingga ke luar daerah.

Puncak pencapaian itu datang ketika ia dipercaya menjadi sutradara tari Rampak Kuda pada peringatan HUT ke-60 RI di Istana Negara tahun 2005. Baginya, pengalaman itu menjadi salah satu bukti bahwa seni tradisi desa bisa tampil di panggung kenegaraan.

Berbagai penghargaan nasional pun ia raih. Agus menerima Satyalancana Karya Satya XX Tahun (2012) dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun (2020) dari Presiden Joko Widodo. Tak hanya itu, ia juga berkali-kali mendapat piagam penghargaan sebagai pelatih terbaik Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

“Penghargaan itu bagi saya bukan semata kebanggaan pribadi. Ini bukti bahwa seni tradisi masih punya tempat di hati bangsa,” ujarnya.

Karya Cipta dan Pengabdian

Agus tidak hanya melatih. Ia juga menciptakan berbagai karya tari dan sendratari. Mulai dari Mahawira (1985), Bisma Mahawira (1987), Sang Hanoman (1988), hingga rekonstruksi Kethek Ogleng (2008). Beberapa karyanya bahkan tampil dalam forum internasional, seperti Tari Pergaulan di ASEAN Tourism Forum 2002.

Selain itu, ia kerap terlibat dalam berbagai peringatan penting. Sendratari ciptaannya pernah ditampilkan dalam Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul, dan Hadegig Nagari Ngayogyakarta, hingga berbagai festival budaya di DIY dan luar daerah.

Setelah resmi pensiun pada 2024, Agus memulai babak baru dengan mendirikan sanggar bernama Kendhalisodo. Kali ini, ia sudah memiliki bangunan joglo representatif untuk tempat berlatih. Berbeda dengan Purwa Mandala, Kendhalisodo menerapkan biaya bulanan meski dengan tarif yang sangat murah.

“Kalau ada biaya, orang tua jadi lebih serius. Mereka ikut mendukung, ada antusiasme, dan anak-anak pun punya progres. Saya ingin mereka benar-benar berkembang,” jelasnya.

Dengan sanggar barunya, Agus berharap bisa mencetak lebih banyak generasi muda yang mencintai seni tradisi sekaligus bangga pada budaya Jawa.

“Saya dulu pernah ditolak menari. Maka sekarang, saya ingin membuka jalan agar anak-anak lain tidak lagi mengalami hal yang sama,” pungkasnya.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait