Sujiman, Penjaga Napas Topeng dari Bobung

Sujiman menunjukkan topeng buatannya. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Di sebuah dusun kecil di tenggara Yogyakarta, lahirlah seorang anak bernama Sujiman. Bobung, nama dusun itu, berada di Kalurahan Putat, Patuk, Gunungkidul. Sujiman tumbuh di tengah kesederhanaan yang nyaris keras. Makanan hariannya tiwul—olahan singkong yang masih bisa diandalkan bersama harapan. Ia hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar. Bukan karena tak mampu secara intelektual, tetapi karena alur hidup sudah lebih dulu memintanya bekerja. Namun, di balik batas itu, ada satu pelajaran yang membekas kuat dalam benaknya: kerajinan tangan.

Di ruang kelas kecil SD Sendangsari, tangan mungil Sujiman sudah menunjukkan bakat yang akan menjadi jalannya kelak. Ia tekun, telaten, dan sabar, seperti seorang seniman yang bahkan belum tahu bahwa dirinya kelak akan dikenal sebagai penjaga napas sebuah warisan budaya.

Bacaan Lainnya

Dari Kayu, Sebuah Mimpi Mulai Dipahat

Selepas lulus SD, Sujiman menjalani hidup seperti kebanyakan anak kampung pada zamannya: menjaga ladang, mengusir burung, dan membantu orang tua. Tapi ada satu momen yang selalu ia tunggu-tunggu setiap tahunnya—saat para perantau pulang kampung di waktu Lebaran atau Rasulan. Di hari-hari istimewa itu, panggung rakyat kembali memanggil: topeng klasik ditampilkan, irama gending mengalun, dan para penari menari dengan wajah yang tersembunyi di balik rupa kayu yang magis.

Dari situlah benih mimpi tumbuh dalam dirinya—ia ingin membuat topeng. Bukan sekadar mainan, tapi topeng yang bisa menari di panggung dan menghidupkan cerita.

Pelan-pelan, tanpa pernah benar-benar diajari secara formal, Sujiman belajar. “Di dusun tetangga, ada pengrajin topeng klasik yang kadang membawa pekerjaan ke ladang. Dari situ, saya mengamati, mencoba, dan akhirnya memahat sendiri,” terang Sujiman saat ditemui belum lama ini di showroom kerajinan batik kayu Karya Manunggal yang ia dirikan.

Kayu miri dan jaranan—kayu yang cocok untuk pertunjukan—menjadi teman pertamanya. Dengan pisau seadanya dan ketekunan sebagai bahan baku utama, Sujiman mulai menciptakan karyanya sendiri.

Ia lalu menjinjing topeng-topeng itu ke Yogyakarta, menumpang truk yang kebetulan lewat. Topeng disimpan dalam taplak meja, dijinjing atau disunggi di kepala. Sesampainya di kota, ia berjalan kaki, menyusuri jalanan dan mengetuk dari satu toko ke toko lain. Kadang laku, kadang tidak. Jika tak terjual, ia tidur di masjid atau emperan toko. Tapi ia bertahan. Sebab topeng-topeng itu bukan hanya dagangan, melainkan harapan yang dipahat dari kayu dan keyakinan.

Namun, kenyataan kadang lebih keras dari niat. Pasar topeng klasik sangat terbatas. Tak banyak penari, dan turis pun belum seramai sekarang. Karena kebutuhan keluarga, Sujiman akhirnya ikut arus perantauan. Ia bekerja di perkebunan karet di Sumatra selama dua tahun—jauh dari mimpi, tapi dekat dengan kenyataan.

Tahun-tahun berlalu. Sekitar pertengahan 1980-an, Sujiman kembali ke Bobung. Ia mulai lagi dari awal—membuat topeng, memasarkan sendiri, serta menggantungkan hidup pada keuletan. Namun, pasar mulai jenuh. Tari klasik makin jarang dimainkan, tergeser oleh dentuman dangdut yang sedang naik daun.

Dalam masa surut itulah, Sujiman menemukan cahaya baru. Saat menghadiri sebuah hajatan, ia melihat penari mengenakan hiasan merak di dahi. Gagasan pun muncul: mengapa tidak membuat topeng dengan ornamen serupa?

Ia mencoba. Dan hasilnya mengejutkan. Topeng merak kreasinya laku keras. Harganya bahkan menyamai 5 gram emas per buah kala itu. Dalam sehari, ia hanya bisa menyelesaikan tiga buah. Awalnya polos, tanpa warna. Tapi kemudian ada pembeli yang memintanya dicat. Ia pun mulai mengecat, hingga akhirnya bereksperimen dengan teknik batik tulis pada kayu. Dia berujar, “Inovasi ini yang mulanya hanya coba-coba—membuka jalan lebar ke pasar yang lebih luas.” sambungnya.

Topeng-topeng itu tak lagi sekadar properti tari. Ia menjadi benda seni, suvenir, dan pajangan berkelas. Pesanan mengalir, rezeki mulai membaik. Sujiman memperbesar rumah, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tak lagi harus bertahan di bawah bayang-bayang kekurangan.

Produk Topeng dari Karya Manunggal Bobung. (KH)

Bobung yang Berubah Wajah

Permintaan yang tinggi membuat Sujiman tak bisa bekerja sendiri. Ia melibatkan tetangga—melatih, memberi pekerjaan, bahkan mendatangkan pembatik dari Klaten. Kayu pule, dengan serat yang lembut, mulai dipilih sebagai bahan utama. Dan pelan-pelan, Bobung berubah.

Dusun yang dulu sunyi dan tertinggal, kini berdenyut dengan irama pahatan dan aroma cat. Hampir seluruh warga terlibat dalam proses produksi. Pada tahun 1985–1986, pemerintah menetapkan Bobung sebagai sentra kerajinan topeng. Tak lama kemudian, statusnya naik menjadi Desa Wisata Kerajinan Topeng.

Sujiman layak disebut motor penggerak. Ia bukan hanya pengrajin, tapi juga pemimpin diam-diam, sosok yang mengubah kampungnya dengan contoh, bukan pidato.

Ia sempat merekrut hingga 50 karyawan, sebagian dari luar daerah. Pondokan dibangun untuk menampung mereka. Tapi gempa besar 2006 merobohkan semuanya. Ia tak patah semangat. Ia ubah sistem kerja menjadi lebih fleksibel: para pekerja bebas memahat dan membatik dari rumah masing-masing.

Bahkan di masa paling sibuk, Sujiman bisa mengirim hingga 10.000 produk per bulan ke berbagai penjuru negeri, bahkan hingga mancanegara.

Namun hidup, seperti juga pasar, tak selalu cerah. Tahun 2014, kondisi ekonomi membuat permintaan menurun. Tapi Sujiman masih bertahan, terutama berkat pesanan luar negeri. Pukulan terberat datang saat pandemi Covid-19. Ekspor terhenti. Produksi lumpuh. Bobung kembali sunyi, bukan karena kekeringan, tapi karena perekonomian dunia sedang berhenti.

Badai pasti berlalu. Kini, perlahan, gerak usaha kerajinan mulai berdenyut kembali. Beberapa pembeli lama mulai memesan. Mungkin belum sesibuk dulu, tapi cukup untuk menyalakan kembali harapan.

Sujiman bukan hanya seorang perajin topeng. Ia adalah penjaga ingatan kolektif, penyambung warisan budaya, dan penerobos batas kemiskinan dengan tangan dan ketekunan.

Ia tak hanya menciptakan karya, tapi juga membuka jalan. Ia melatih orang lain, mempersilakan karyawan berdikari, bahkan menampung produk mereka jika kesulitan menjual. Baginya, kesuksesan adalah milik bersama. Dan Bobung adalah panggung tempat semua orang bisa menari.

Di rumahnya, ia hidup bersama istrinya, Ngatiyem, dan anak-anak yang menjadi bagian dari perjalanan panjang itu. Sebuah keluarga kecil yang menjadi saksi bahwa kerja keras, ketekunan, dan sedikit mimpi bisa mengubah wajah sebuah kampung.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait