Nada dari Bambu: Perjalanan Sri Hartini Menjaga Rinding Gumbeng

Sri Hartini memainkan musik Rinding. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Di sebuah dusun kecil bernama Duren, Beji, Ngawen, Gunungkidul, lahir seorang anak perempuan yang kelak menjadi penjaga warisan budaya. Namanya Sri Hartini.

Ia tumbuh seperti anak desa pada umumnya. Hidup sederhana, dekat dengan alam, berlarian di pematang sawah, menyusuri jalanan berbatu. Namun sejak kecil, ia sudah akrab dengan suara bambu yang berdengung. Suara itu berasal dari rinding, alat musik sederhana warisan leluhur.

Bacaan Lainnya

Ayahnya, Sudiyo, adalah pegiat pelestari musik rinding. Dari tangan dan napas ayahnya, Sri Hartini mengenal musik yang unik itu. Instrumen kuno yang dulunya hanya dimainkan untuk mengiringi tradisi petik padi. Musik yang selalu hadir dalam upacara adat Mboyong Dewi Sri, sebuah ritual syukur saat padi pertama kali dibawa pulang.

Sri Hartini lahir dari pasangan Sudiyo dan Suwarti. Ia menempuh pendidikan di SD Beji 1 (1981), SMP Negeri 1 Ngawen (1984), lalu SMA Muhammadiyah Ngawen (1987). Sejak masa sekolah, jejak kesenian sudah melekat pada dirinya.

Suatu ketika, saat masih kelas dua SMP, ia diajak ayahnya pentas di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tahun 1984 itu menjadi momen bersejarah baginya. Di panggung besar, ia memainkan musik rinding bersama sang ayah. Kini ia mengingatnya sebagai isyarat: orang tuanya ingin ia tidak meninggalkan musik tradisi ini.

Selepas lulus SMA, Sri Hartini merantau ke Jakarta. Ia sempat bekerja di PAM Jaya. Namun perantauan itu tidak berlangsung lama. Setelah menikah, ia memutuskan pulang ke kampung halaman.

Di desa, ia mendirikan lembaga PAUD pada tahun 2008. Mengajar anak-anak kecil menjadi kesehariannya. Ia mengabdikan diri cukup lama, hingga 2016. Namun, perlahan waktu mengarahkannya pada jalan lain.

Sejak ayahnya wafat pada 2011, Sri Hartini pelan-pelan mengambil alih peran sang ayah. Pesan terakhir selalu terngiang: jangan tinggalkan musik tradisi. Jangan lepaskan warisan nenek moyang.

Alat musik Rinding. Piranti musik tradisional yang dijadikan pengiring pada ritual ‘Mboyong Dewi Sri’. (KH)

Ia menerima pesan itu dengan hati. Menjadi ketua Sanggar Rinding Gumbeng Ngluri Seni. Dari kecil ia memang kerap diajak ayahnya pentas. Kini, ia berdiri di depan barisan, memimpin kelompok seni yang menjaga nyawa musik kuno dari bambu.

Awalnya hanya tiga sampai empat orang memainkan rinding. Perlahan berkembang. Atas inisiatif almarhum ayahnya, musik rinding dipadukan dengan instrumen lain. Muncullah gumbeng yang dipukul, gong bambu yang ditiup, kecrek, dan kendang dari bambu petung.

Sri Hartini meneruskan itu semua. Ia menolak campur tangan alat modern. Baginya, keaslian suara bambu adalah jiwa. Lagu-lagu klasik tetap dijaga: Mboyong Dewi Sri, Rinding Merinding, hingga lagu doa untuk tradisi nyadran berjudul Manembah.

Namun Sri Hartini tidak berjalan sendirian. Ada adiknya, Wawan Sutanto, anaknya, saudara dan tetangga sekitar yang setia berada di sampingnya.

Jika Sri Hartini menjaga panggung dan sanggar, Wawanlah yang merawat bunyi. Ia dikenal tekun membuat instrumen bambu. Dari tangannya lahir gumbeng, gong bambu, kendang bambu, hingga alat unik yang menirukan suara air.

Bambu dipotong, dipaku, diisi batu kecil, pasir, atau biji kedelai. Saat diputar, bunyinya menyerupai gemericik sungai. Suara itu menjadi ciri khas baru pertunjukan Rinding Gumbeng.

Selain pembuat alat, Wawan juga penabuh gumbeng. Setiap pementasan, ia berdiri di barisan musik, memastikan ritme tetap terjaga. Ia seolah menjadi bayangan ayah mereka, Sudiyo, yang dulu menginisiasi pengembangan musik rinding. Kini, Wawan meneruskan peran itu. Ia bukan sekadar pengrajin, tetapi juga pewaris jiwa musik. Bersama Sri Hartini, ia memastikan warisan leluhur ini tetap berbunyi, tetap berdenyut di tengah kehidupan desa.

Kehidupan Sri Hartini terbagi dua: seni dan alam. Selain memimpin sanggar, ia juga dipercaya menggantikan ayahnya sebagai Ketua Jagawana Wonosadi. Tugas menjaga hutan adat sama beratnya dengan menjaga musik tradisi.

Di hutan Wonosadi, ia memimpin kegiatan pelestarian. Ia bekerja sama dengan pemerintah, melayani akademisi, hingga mendampingi riset. Semua itu dijalankan bersamaan dengan kegiatan seni: pentas, festival, edukasi di sekolah, hingga riset seni tradisi. “Bapak juga berpesan agar Hutan Wonosadi terus menerus dijaga. Hutan di bukit itu menyediakan sumber air yang cukup bagi pertanian. Yang selalu saya ingat, kepada generasi mendatang janganlah meninggalkan air mata, tetapi tinggalkanlah mata air,” tutur Sri Hartini.

Peran itu menyita banyak waktu. Mau tak mau, ia harus melepas statusnya sebagai guru. Baginya, masih banyak orang yang bisa mengajar di kelas. Tetapi tidak semua orang siap menjaga hutan adat dan melestarikan rinding gumbeng.

Kesetiaan Sri Hartini mendapat apresiasi, musik Rinding Gumbeng diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah. Pengakuan ini makiin memperteguh spiritnya untuk terus melestarikan.

Tahun 2022 menjadi tahun yang tak terlupakan. Sri Hartini bersama kelompoknya tampil di Istana Negara pada HUT RI ke-77. Di panggung megah itu, ia membawakan musik rinding gumbeng.

Ia teringat pada pesan ayahnya. Jangan pernah meninggalkan musik warisan leluhur. Setiap kali pentas, bayangan sang ayah selalu hadir. Ada haru, ada kebanggaan, ada doa yang diam-diam dipanjatkannya.

Rinding gumbeng memang lebih dari sekadar musik. Ia lahir dari tradisi agraris. Dahulu, instrumen ini dimainkan saat upacara Mboyong Dewi Sri. Ritual itu adalah ungkapan syukur atas panen padi pertama. Suara bambu dianggap sebagai doa yang menghantarkan berkah kesuburan.

Tradisi itu berlanjut dengan upacara nyadran di puncak hutan Wonosadi. Syukur atas air, atas suburnya tanah, atas lestarinya alam. Hutan adat dan musik bambu bertaut menjadi satu kesatuan.

Penelitian Aris Shihabuddin (2017) menegaskan hal itu. Dalam tesisnya, ia menyebut rinding gumbeng bukan hanya instrumen musik, melainkan medium spiritual-ekologis. Ia menjadi jembatan antara manusia, alam, dan kekuatan tak kasat mata.

Musik bambu ini sederhana, namun menyimpan makna dalam. Alatnya dari bambu petung, dibentuk menjadi rinding, gumbeng, gong bambu, kendang bambu, hingga instrumen unik menyerupai suara air.

Sanggar Rinding Gumbeng Ngluri Seni tampil di destinasi wisata Watu Gendong. (ist)

bahkan menuliskan lirik yang memuat memori kolektif masyarakat Wonosadi. Bait-baitnya berkisah tentang banjir, longsor, dan sungai yang kering. Tentang kesedihan melihat bumi yang terluka. Namun juga berisi doa: agar apa yang ditanam tumbuh subur, agar harum bunga mekar, agar alam tetap lestari dengan restu Tuhan.

Musik, lirik, dan ritual menjadi cara untuk mengikat masa lalu dengan masa kini. Sri Hartini percaya, apa yang diwariskan leluhur harus tetap hidup. Ia tak ingin anak-anak muda melupakan rinding gumbeng.

Di sanggar, ia mengajarkan anak-anak cara membunyikan alat musik bambu, cara menjaga ritme, cara menghargai suara yang lahir dari rongga tenggorokan. Ia juga mengisi kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 1 Ngawen dan SMAN 1 Ngawen. Semua itu demi satu tujuan: regenerasi.

Bagi Sri Hartini, musik rinding gumbeng bukan hanya alunan nada. Ia adalah doa. Ia adalah cerita hidup masyarakat yang sederhana, ulet, dan bersahaja.

Ia tahu, zaman terus berubah. Anak-anak muda lebih akrab dengan musik modern. Tetapi ia yakin, selama ada yang mau belajar, musik tradisi ini tidak akan hilang.

Sri Hartini bukan hanya pelestari seni. Ia juga penjaga hutan adat Wonosadi. Baginya, musik dan hutan adalah dua sisi yang tak terpisahkan. Keduanya memberi kehidupan, keduanya mengajarkan manusia untuk bersyukur.

Kini, ibu dua anak ini terus berjalan di jalannya. Menyusuri panggung dari desa hingga istana. Menyambut tamu peneliti, mengajar anak-anak desa, menjaga hutan, dan memainkan musik kuno yang diwariskan ayahnya.

Harapannya sederhana. Agar generasi muda tidak meninggalkan musik rinding gumbeng. Agar hutan adat Wonosadi tetap lestari. Agar budaya agraris yang melahirkan tradisi ini tetap hidup, bukan sekadar kenangan.

Dan setiap kali ia berdiri di panggung, dalam hatinya ia masih mendengar pesan ayah: jangan tinggalkan musik ini. Suara bambu itu pun kembali bergetar, menyambung masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait