GUNUNGKIDUL, (KH),– Kireyna Lathifah Sabrina lahir di Gunungkidul, 7 November 2009. Bungsu dari pasangan Suharno, seorang buruh, dan Sumarsilah, penjahit rumahan ini tinggal bersama keluarga di Gari, Wonosari, Gunungkidul.
Bakat menari remaja dengan nama panggilan Reyna ini muncul sejak usia tiga tahun. Ia pertama kali tampil saat acara 17 Agustusan di desa. Belum mengenyam latihan menari di sanggar, ia hanya berlatih di rumah, dibimbing oleh saudaranya yang bersekolah di SMKI. Awalnya ia hanya mengisi acara, namun dari situlah rasa suka tumbuh perlahan.
Memasuki usia sekolah dasar, Reyna bergabung dengan Sanggar Sekar Kinasih di Budegan, Wonosari. Cukup tekun ia belajar menguasai berbagai tarian. Belakangan kehadirannya di sanggar tak cukup konsisten karena bentrok dengan jadwal pentas. Sekalipun harus sibuk mengatur waktu latihan dan pentas, semangatnya tidak pernah surut. Selama enam tahun menimba ilmu di sana, ia mulai tampil di berbagai panggung, dari pengisi agenda dinas, OPD Pemkab Gunungkidul, hingga festival seni seperti Jogetan Mataram dan Sendratari Kabupaten.
Di sanggar ini pula Reyna mengenal beragam tari kreasi seperti Tari Gegolo, Candik Ayu, Oglek, Tari Piring, dan lain-lain. Ia belajar seminggu sekali, dan meski jadwal cukup padat, semangatnya selalu utuh. “Rasanya puas bisa mengungkapkan ekspresi lewat gerak tari,” ungkapnya suatu ketika.
Tak hanya tampil di lingkungan lokal, saat duduk di bangku SMP, Reyna mulai merambah panggung yang lebih luas. Salah satu pengalaman yang sangat berkesan adalah ketika ia terpilih menjadi salah satu perwakilan dari Gunungkidul untuk tampil dalam event nasional Sulsel Menari 2024 di Makassar. Sebelumnya, ia terlibat dalam event Jogja Joget yang akhirnya membawanya masuk dalam kontingen Dinas Kebudayaan DIY.
Untuk menghadapi pentas tersebut, Reyna menjalani latihan intensif di Yogyakarta selama sebulan. Meskipun waktu latihan tergolong singkat, ia mampu menyesuaikan dengan cepat berkat pengalaman yang telah ia kumpulkan sejak kecil. Sang ayah dan ibu pun bergantian mengantarnya, mendampingi putri mereka menapaki pengalaman baru di luar kota. Reyna juga pernah tampil di Festival nasional Reog Ponorogo bersama grup Manggala Mataram di alun-alun Ponorogo.
Berbagai penghargaan telah ia raih selama perjalanan menarinya. Di antaranya, Juara 1 Tari Kreasi UPT Taman Budaya 2024, Juara 1 Maharesi SMAN 2 Playen 2024, serta Juara 1 Tari Kreasi Cultivex 2024 Universitas Islam Indonesia bersama kelompok tari rekan-rekannya.
Tak hanya aktif dalam tari, Reyna juga tetap memperhatikan akademiknya di SMAN 2 Wonosari, tempat ia kini duduk di kelas 1. Gadis yang dikenal tekun ini bahkan merasa bahwa kegiatan seni tidak mengganggu pelajaran sekolahnya. Ia justru belajar untuk pintar membagi waktu dan menjaga fokus, terutama saat menghadapi jadwal yang padat.

Dukungan dan Cita-Cita
Sebagai adik dari Danu Ryan Ramadhan, Reyna tumbuh dalam lingkungan keluarga yang saling mendukung. Kedua orang tuanya tidak pernah mengeluh soal aktivitas padat anak mereka. Bagi mereka, mendampingi Reyna adalah bentuk tanggung jawab sekaligus kebanggaan.
Reyna kini juga menjadi anggota Sanggar Guntur Mataram di Gari, Wonosari, untuk mendalami tari klasik seperti Tari Nawung Sekar. Ketertarikannya pada tari klasik menjadi langkah berikutnya dalam pengembangan diri.
Dalam perjalanannya, ia mulai belajar mandiri, termasuk dalam mengelola dan memenuhi kebutuhan pribadi seperti membeli perlengkapan tari: dari sampur, kain jarit, sanggul, hingga kemben dan makeup. Uang saku dari hasil pentas sebagian disimpan, sebagian lagi digunakan untuk keperluan sekolah dan latihan.
Pelajar yang satu ini memiliki mimpi besar yakni menjadi guru tari. Ia berencana melanjutkan studi ke ISI Yogyakarta setelah lulus nanti. Salah satu impian lainnya adalah mengenalkan tari kepada anak-anak di sekitarnya, agar seni tradisi terus hidup dan berkembang.
Reyna juga tak segan belajar dari yang lebih senior. Nama-nama penari senior seperti Pramesti Arum, Rani, dan Fitra menjadi panutan dan sumber inspirasinya. Meski sudah sering tampil, ia tetap menyempatkan diri menonton pertunjukan tari, baik dari teman sebaya maupun para senior, sebagai bentuk penghargaan dan pembelajaran.
Bagi remaja Gunungkidul ini, tari bukan sekadar hobi atau prestasi. Tari adalah cara untuk mengekspresikan diri, menjalin pertemanan, dan membentuk karakter. Dari panggung kecil di desa hingga panggung besar di luar kota, Reyna telah menunjukkan bahwa konsistensi, semangat belajar, dan dukungan keluarga bisa menjadi pijakan untuk meraih cita-cita.





