30 Tahun Tertidur Wayang Topeng Purwodadi Kembali Hidup

oleh -
Pemain wayang topeng. Foto : Juju
kadhung tresno
Pemain wayang topeng. Foto : Juju
Pemain wayang topeng. Foto : Juju

TEPUS, (KH) — Bangunan berbentuk limasan yang terbuat dari kayu jati, berdiri kokoh di Padukuhan Ndanggolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. Jika dilihat dari luar, rumah ini sepi. Di emperan rumah hanya terlihat potongan kayu Kemiri yang dipotong dengan ukuran panjang 1 meter.

Untuk mencapai depan pintu rumah, para photographer dan jurnalis harus menuruni jalan dengan kemiringan hampir 75 derajat. Siang itu, sang pemilik rumah langsung mempersilahkan para photographer dan jurnalis untuk masuk ke dalam rumah yang belum diplester tersebut.

Dia adalah Sujarno (61), meski rambutnya sudah memutih semua, wajahnya telihat lebih muda, jika dibanding dengan umur sebenarnya. Kakek 1 putra ini adalah saksi sejarah berkembangnya wayang topeng yang pernah berjaya di Kabupaten Gunungkidul.

Belum banyak masyarakat yang tahu, wayang topeng merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang yeng pernah berkembang di Gunungkidul. Seni budaya ini sempat tertidur selama 30 tahun, sebelum akhirnya dihidupkan kembali oleh semangat dan ketulusan warga Ndanggolo dan Luweng Ombo, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus.

Sosok Sujarno dengan wayang topeng memang tidak bisa dipisahkan. Lelaki kelahiran 1951 ini merupakan generasi ke 3 dari Kerta Kasa sang master sekaligus dalang wayang topeng kala itu. Konon, kesenian tersebut mulai ramai dinikmati warga sejak tahun 1800 atau jaman belanda.

“Curigo manjing warangka (satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan). Ini sedikit gambaran kami tentang semangat mengangkat kembali wayang topeng,”ungkap Sujarno. Diamini puluhan pemain wayang topeng saat ditemui di rumahnya, akhir pekan lalu.

Idealisme Sujarno untuk mengangkat kembali wayang topeng, mendapat dukungan dari masyarakat. Sejak kesenian tersebut tertidur 30 tahun lalu, tidak ada satupun topeng peninggalan Kerta Kasa yang masih tersisa. Bahkan Sujarno mengaku gamelan yang sering digunakan saat itu dijual nenek buyutnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Terkahir kali saya pentas (wayang topeng,) seingat saya tahun 1979. Setelah itu sama sekali tidak ada lagi pertunjukan. Gamelan dijual untuk makan,” ucap Sujarno dengan nada lirih.

Di tengah himpitan ekonomi yang melilit saat ini, Sujarno bersama puluhan warga padukuhan Ndanggolo dan Luweng ombo pantang menyerah. Tekat untuk menghidupkan kembali wayang topeng dan mengenalkanya kepada generasi muda terus ia lakukan.

Tanggung jawab yang besar untuk menjaga dan tetap melestarikan kesenian tari wayang, mereka panggul bersama. Atas dasar itu, lahirlah paguyupan Wayang Topeng Panji. Sujarno mengaku, cerita ini merupakan cerita turun temurun yang dia dapat dari cerita nenek moyangnya kala itu.

“Cerita wayang topeng bercerita tentang babad Kediri. Kita hanya melanjutkan sejarah.  Detail kebenaranya seperti apa, saya sendiri tidak mengetahui,” ucap dia dengan penuh kesederhanaan.

Rumah Sujarno yang awalnya sepi, kini menjadi ramai. Setiap kali latihan digelar, sedikitnya 20 orang pemeran wayang topeng  bercengkerama dengan sang dalang. Kesenian yang hampir punah ini mulai mendapat perhatian dari perangkat desa dan kaum muda di desa tersebut.

“Kita gumbergah (semangat) karena kesenian ini akan kita tinggalkan kepada anak cucu. Harapan kita, mereka yang akan menggantikan kita nanti,”ulasnya.

Wayang topeng yang dibuat oleh Sujarno masih mengandalkan peralatan sederhana. Mereka memilih pohon Kemiri sebagai bahan baku utama pembutan topeng.  Selain karena Pohon Kemiri banyak ditemukan di desa setempat,  serat kayu tersebut sangat lembut sehingga topeng yang dihasilkan lebih enteng dan halus.

“Ada 20 karakter topeng yang kita mainkan, semuanya dilakoni oleh bapak-bapak. Sedangkan karawitanya (pengiring musik) dimainkan oleh ibuk-ibuk yang berjumlah 15 orang,” terang Sujarno.

Sujarno tidak menyangka, wayang topeng yang sudah tertidur 30 tahun, bisa kembali ia mainkan untuk menghibur masyarakat. Assesoris yang dia kenakan dibuat dari barang-barang bekas yang cukup sederhana. Sumbing, Mahkota, dan assesoris lainnya mereka buat hanya dengan menggunakan kertas karton. Keterbatasan itu tidak mereka jadikan hambatanan.

Pada awal September 2014 pementasan perdana kesenian wayang topeng, setelah sempat tertidur cukup lama. Sujarno mengaku bangga dan terharu. Tidak pernah dia menyangka wayang topeng kembali hidup dan mampu menjadi hiburan di tengah masyarakat.

“Saya memang orang bodo, tetapi saya tidak mau kesenian ini punah begitu saja. Sebelum saya meninggal, anak cucu saya harus mengetahui keseninan ini,” kata Sujarno.

Sujarno berharap, kesenian wayang topeng dapat diangkat kembali di Gunungkidul, karena pada masa kejayaanya wayang topeng merupakan kesenian yang dapat mempersatukan warga. Dia juga berharap, sejarah, dan alur cerita, serta karakter topeng dapat dibukukan, sehingga kesenian wayang topeng tidak hilang ditelan zaman.

“Tidak adanya gamelan saat ini menjadi kendala kami. Saat jadwal latihan dan pentas datang, kita harus menyewa gamelan di desa sebelah,” katanya.

Di sela kesibukanya menjadi dalang wayang topeng, Sujarno tetap menjadi tulang punggung keluarganya.Mengagarap sawah seperti masyarakat pada umumnya tetap ia lakoni. “Menghidupkan budaya jawa memang tidak mudah, tetapi ini merupakan tanggung jawab, serta salah satu semangat menjadi orang Gunungkidul,” katanya (Juju/Tty)

Komentar

Komentar