Waspadai dan Kenali Penyakit Kusta

oleh -
kadhung tresno

konsepvisilogo

WONOSARI, (KH) — Kusta adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe penyakit Granulomatosa pada saraf tepi dan Mukosa dari saluran pernapasan atas dan Lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Pada tanggal 25 Januari 2015 yang lalu merupakan hari kusta se-dunia.

Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul mencatat sebanyak 11 kasus pada tahun 2013, 16 kasus pada tahun 2014. “Awal tahun 2015 Dinkes sudah mencatat 2 orang yang terserang kusta,” kata Sumitro, Kabid Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit, Sabtu (31/01/2015).

Ia menjelaskan, penyakit kusta tidak seperti mitos yang beredar di masyarakat. Kusta tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh yang begitu mudah, seperti pada penyakit Tzaraath yang digambarkan dan sering disamakan dengan kusta. Namun bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif dan menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata.

“Kusta adalah penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah,” jelasnya.

Kepada KH Sumitro menjelaskan, bahwa waktu inkubasi penyakit Kusta panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa kanak-kanak. Untuk tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka, dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi.

“Gejalanya memang tidak selalu tampak. Justru sebaiknya, waspada jika ada anggota keluarga yang menderita luka tak kunjung sembuh dalam jangka waktu lama. Juga, bila luka ditekan dengan jari, tidak terasa sakit,” ujarnya.

Menurutnya, seseorang yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.

Upaya Pencegahan Penyakit Kusta menurut Sumitro, dengan cara melakukan pengobatan adalah amat penting di mana kusta dapat dihancurkan, sehingga penularan dapat dicegah. Pengobatan kepada penderita kusta  merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan.

“Kuman kusta di luar tubuh manusia dapat hidup 24-48 jam dan ada yang berpendapat sampai 7 hari, ini tergantung dari suhu dan cuaca di luar tubuh manusia tersebut,” imbuhnya

Lebih lanjut ia menambahkan, makin panas cuaca membuat kuman kusta makin cepat mati. Jadi, dalam hal ini pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat yang lembab.

Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut, yakni adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia. Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak.

Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus serta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat. Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit, alis rambut rontok, muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa).

“Untuk warga yang lainnya, agar tidak malu untuk melakukan pengobatan, jika terserang penyakit kusta. Justru jika tidak dilakukan pengobatan, akan lebih berbahaya,” pungkas Sumitro. (Atmaja/Tty)

Komentar

Komentar