Suwarji Berangan Bisa Menjadi Eksportir Sendiri

oleh -
iklan dispar
SEMANU, kabarhandayani,– Papan informasi sentra industri kerajinan bambu yang terpasang di pinggir jalan Padukuhan Nitikan Barat Desa Semanu memang bukan hanya sebatas hiasan pemanis. Meskipun saat ini saat ini sudah banyak pengrajin bambu yang gulung tikar, Suwarji (42) salah satu pengrajin di padukuhan tersebut masih tetap bertahan, bahkan produksinya mampu menembus mancanegara.
Suwarji sudah menjalani usaha kerajinan bambu sejak tahun 1998, saat itu Ia bersama-sama dengan pengrajin bambu di Selang, Wonosari. Suyati (39) istri Suwarji menjelaskan, suaminya mulai berwirausaha mandiri sejak tahun 2000. Suwarji dan istrinya memanfaatkan bahan baku bambu yang mudah didapat tersebut. Saat ini kerajinan bambu yang dikerjakan berdasarkan pesanan. Hampir semua jenis kerajinan bambu bisa ia kerjakan, asal ada contohnya.
Dalam menjalankan bisnisnya, Suwarji istrinya Suyati dan 2 orang pegawai tetap serta 20 orang tenaga lepas. “Tenaga kerja tergantung pesanan mas, kalau pas banyak ya pegawainya banyak, tapi kalau tenaga tetapnya cuma 2 orang,” jelas Suyati.
Suwarji menambahkan, kerajinan bambu di luar negeri maupun di dalam negeri masih sangat banyak peminatnya. Pria yang pernah memperoleh anugerah pemuda pelopor bidang kewirausahaan pada tahun 2002 ini mengaku, barang kerajinannya saat ini mampu tembus sampai Australia, Amerika, dan Eropa.
Lanjut Suwarji, order dan ekspor selama ini memang belum dilakukan sendiri, tetapi menggunakan jasa eksportir. Sebetulnya Suwarji sudah sangat sering memperoleh pelatihan eksportir, tetapi belum mampu ia lakukan karena untuk jadi eksportir modalnya harus banyak.
Kerajinan bambu yang diproduksi Suwarji beraneka macam. Mulai dari lampion, kap lampu, baki, tempat buah, tempat tisu, tempat sampah dan lainnya. Ia berharap selain keuntungan pribadi juga bisa memberdayakan masyarakat di sekitar rumahnya.
“Pengen banget mas, bisa jadi eksportir sendiri, tapi belum ada modal. Omset saat ini ya lumayan, perbulan bisa sampai Rp 30 juta. Kalau pas ramai bisa lebih dari Rp 100 juta. Modalnya masih sebatas cukup untuk operasional produksi pesanan. Kalau untuk jadi eksportir langsung, biayanya belum mampu,” katanya.(HeryFosil/Jjw)

Komentar

Komentar