Setahun Terakhir Sedotan Bambu Asal Semin ‘Go Internasional’

oleh -
Produk sedotan minuman asal Semin. (KH/ Kandar)
iklan dispar

SEMIN, (KH),– Semangat go green menjadi kampanye masyarakat global untuk menjaga kelestarian bumi. Meminimalisasi penggunaan peralatan berbahan plastik menjadi salah satu upaya yang dipilih untuk dilakukan.

Sebagai contoh, sebagaimana dikutip dari Mongabay.co.id, di Indonesia sampah plastik menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut. Mongabay menyebutkan, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) mencatat, setiap tahun sedikitnya sebanyak 1,29 juta ton sampah dibuang ke sungai dan bermuara di lautan.

Inovasi dan terobosan dilakukan banyak pihak diantaranya dunia usaha untuk menekan semakin banyaknya sampah plastik. Masyarakat juga berangsur sadar bahwa mengurangi penggunaan peralatan berbahan plastik kualitas kesehatan juga semakin baik. Kesadaran masyarakat luas tersebut secara langsung memicu tumbuhnya produksi peralatan sehari-hari berbahan alam. Seperti halnya di Kecamatan Semin. Produk sedotan berbahan bambu buatan warga semakin banyak diminati.

Mekar Sari, salah satu kelompok pengrajin bambu di Desa Semin telah menerima pesanan dari luar kota setidaknya setahun terakhir. “Sekitar setahun lalu kelompok kami mulai memproduksi sedotan bambu,” kata Ketua Kelompok Mekar Sari, Siswodiharjo beberapa waktu lalu ketika ditemui di rumahnya.

Dirinya menyebut, hasil kerajinan sedotan berbahan bambu wuluh itu lebih sering dikirim ke Bali. Selain di jual oleh pemasar di pulau yang moncer destinasi wisatanya ini, sebagian produk sedotan juga dikirim ke luar negeri.

“Informasi yang saya terima peminatnya bule-bule. Sedotan bukan sekali pakai. Tetapi menjadi barang bawaan setiap bepergian. Kalau makan dan minum di restoran sedotan bambu itu yang dipakai,” kata Siswodiharjo yang mendirikan kelompok sekitar 5 tahun terakhir ini.

Produk sedotan yang dibikin beragam. Baik panjangnya maupun ukuran diameternya. Rinci disebutkan, untuk ukuran panjang 25 centi meter tiap kodi dijual Rp. 6 ribu. Ukuran 20 centimeter cukup Rp. 5 ribu tiap kodi. Sementara untuk ukuran diameter sedotan yang dibuat mulai dari 6, 7, 8, hingga 9 mili meter.

Pengrajin bambu asal Semin Siswodiharjo. (KH/ Kandar)

Para pembeli yang meminta produk sedotan kepada dirinya masih melakukan tahap finishing sebelum dijual ke konsumen. “Kami membuat produk setengah jadi. Buyer yang kemudian memasarkan lagi masih melakukan finishing, diantaranya pembersihan dan pengemasan,” jelas bapak 1 anak ini.

Lebih jauh disampaikan, kelompok-kelompok pengrajin di Desa Semin terdapat di Dusun Kepek, Mandesan, dan Ngepoh. Selain membuat produk sedotan, sebelumnya kelompok pengrajin lebih dulu membuat kerajinan mainan dan hiasan. Selain mengandalkan bahan baku dari seputar Semin, pengrajin mendatangkan bambu dari wilayah Klaten, Pacitan dan Wonogiri.

Dalam setiap kali pemesanan, jumlah produk sedotan yang dikirim jumlahnya mencapai ribuan batang. “Terakhir mengirim 3.000 batang sedotan ke Bali,” tukas Siswodiharjo. (Kandar)

Komentar

Komentar