Sanggar Angsa, Tempat Belajar Seru Menulis Cerita Pendek Dan Puisi

oleh -
Anak-anak antusias mengikuti pelatihan menulis cerpen dan puisi di Sanggar Angsa Bedoyo Ponjong. dok. Luthfina.
iklan dispar
Anak-anak antusias mengikuti pelatihan menulis cerpen dan puisi di Sanggar Angsa Bedoyo Ponjong. dok. Luthfina.
Anak-anak antusias mengikuti pelatihan menulis cerpen dan puisi di Sanggar Angsa Bedoyo Ponjong. dok. Luthfina.

PONJONG, (KH)— Untuk mengembangkan kemampuan anak dalam menulis sastra sebagai bentuk pembudayaan bahasa dan sastra Indonesia di masyarakat, tiga Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan pelatihan menulis puisi dan cerita pendek.

Kegiatan yang diprakarsai oleh Dyah Ayu Putri Utami, Luthfina Lailatul Mahmudah, dan Endah Kusumaningrum juga bertujuan untuk membuat aktif kembali Sanggar Angsa di Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul yang vakum tanpa ada aktivitas.

Salah satu tim penggerak, Luthfina Lailatul Mahmudah mengatakan, Program yang dibimbing oleh dosen Nurhidayah, M. Hum membuat antusias dan semangat baru bagi anak-anak Desa Bedoyo. Dengan adanya pelatihan suasana di Sanggar Angsa menjadi lebih hidup.

“Sanggar Angsa menjadi tempat program pemberdayaan karena sebenarnya di Desa Bedoyo memiliki fasilitas yang lengkap namun belum dimanfaatkan dengan optimal termasuk Sanggar Angsa,” kata Luthfina, Selasa, (9/8/2016),

Sehingga sebelumnya anak-anak yang memiliki kreativitas tinggi menjadi tidak berkembang karena pemanfaatan Sanggar Angsa yang masih bersifat monoton kemudian akhirnya vakum.

“Untuk itu diperlukan sebuah inovasi baru agar minat anak-anak belajar di Sanggar Angsa dapat meningkat,” imbuh Luthfina.

Pemberdayaan Sanggar Angsa menjadi solusi bersama antara masyarakat Desa Bedoyo dan tim pelaksana penggerak Sanggar Angsa. Program yang dijalankan memberikan pelatihan kepada anak-anak mengenai menulis puisi dan cerita pendek.

“Pelatihan dilaksanakan selama delapan kali setiap hari Minggu yang dimulai pada bulan April lalu,” imbuh Luthfina

Pelatihan sengaja dirancang menggunakan berbagai media pelatihan agar pembelajaran lebih menarik. Sebelum pelatihan, tim pelaksana membagikan modul yang telah divalidasi oleh guru SDN Bedoyo.

Ceramah untuk beberapa teori, kemudian membentuk kelompok sebagai bentuk kerjasama atau diskusi menjadi metode pelatihan yang dilakukan. Selain itu, beberapa media pelatihan juga digunakan sebagai bentuk praktik langsung anak-anak dalam menulis puisi dan cerpen.

“Saya sangat senang mengikuti kegiatan di Sanggar Angsa. Kegiatannya seru dan menarik”, kata Reihan salah satu peserta kegiatan Sanggar Angsa.

Sebagai hasil dari pelatihan, anak-anak dapat menulis puisi dan cerpen yang dibuat menjadi sebuah antologi puisi dan cerpen yang telah memiliki ISBN.

“Selain itu, program pemberdayaan ini menjadi salah satu alternatif gerakan literasi di Gunungkidul,” ungkap Luthfina. (Kandar)

Komentar

Komentar