Potret Sekolah Swasta di Gunungkidul: Minim Sarana Pembelajaran

oleh -
SD Muhammadiyah Mullusan II . Ananda.
kadhung tresno
SD Muhammadiyah Mullusan II . Ananda.
Kondisi bangunan SD Muhammadiyah Mullusan II . Ananda.

PALIYAN, (KH)— Masih banyak sekolah khususnya yang berada di desa pinggiran dan berstatus swasta sangat membutuhkan perhatian serius. Disisi lain dunia pendidikan yang terus berkembang, semakin memaksa setiap sekolah untuk dapat bersaing. Sayangnya tidak semua sekolah mampu menjaga eksistensinya dan bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan karena keterbatasan operasional.

Seperti di SD Muhammadiyah Mulusan II yang beralamat di Padukuhan Lemahbang, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan ini misalnya, karena hanya mengandalkan dana Bantuan Operasional Siswa (BOS) untuk operasional kegiatan belajar mengajar, sekolah ini mengalami berbagai hambatan.

“Sebanyak 7 dari 11 guru mendapat honor dari dana BOS, sisanya ada tenaga pendidik berstatus PNS yang kurang memiliki jam tugas mengajar,” kata kepala sekolah, Drs. Subadri saat di temui di ruang kerjanya, Selasa, (6/12/2016) pagi.

Kendati terdapat keterbatasan biaya, pihaknya tidak memungut biaya sekolah dari murid, karena adanya dana BOS per triwulan, namun dana BOS di rasa masih kurang untuk biaya operasional sekolah.

“Kami tidak memungut biaya, wajar kalau perekonomian guru kurang sejahtera, karena tidak memungut biaya apapun. Gratis, Lilahitaala saja menjalankannya demi pengabdian,” ucapnya.

Lebih lanjut Subadri mengatakan, anak didik di lembaganya sangat membutuhkan bantuan buku paket untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Selama ini belum ada buku bantuan pendamping dan alat praktik IPA, atau paket sarana pembelajaran lain yang di terima oleh sekolahnya, terlebih apa lagi bantuan komputer, sama sekali belum pernah.

Karenannya, pihaknya berharap kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) atau instansi terkait,  bilamana ada buku paket yang belum di bagikan kepada sekolah lain, agar diberikan ke sekolahnya. Subadri berterus terang, bahwa dana BOS yang ada tidak mencukupi untuk menutup semua kebutuhan.

“Memang lembaga kami ada di pinggiran dengan jumlah muridnya hanya enam puluh satu anak dengan jumlah guru tetap dan guru tidak tetap (GTT), berjumlah sebelas orang. Namun kami tidak patah semangat untuk selalu memberikan bimbingan dan menyampaikan ilmu pengetahuan, namun lagi-lagi hambatan utama adalah kurangnya buku pengetahuan,” ungkapnya.

Subadri begitu serius menyampaikan keluhan berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi lembaga pendidikan yang ia pimpin, dimana menurutnya sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah. Ia sangat memohon Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dapat memberi perhatian secara adil atau sama dengan sekolah lainnya. Sambung dia, jangan ada kata pembeda antara sekolah negeri dan sekolah swasta.

”Saya hanya minta diperhatikan sama dengan sekolah lainnya, wong kita sama-sama juga mencerdaskan anak bangsa,”  tandasnya.

Sementara itu, Tri Wahyudi SPd, salah seorang guru di SD Muhammadiyah Mulusan II menyatakan, sekalipun para guru dalam menunaikan tugas dihadapkan pada kondisi jarak domisili yang jauh dari sekolah, namun semangatnya begitu tinggi, mereka sangat disiplin dan selalu bekerja keras melaksanakan tugas guru untuk mencapai visi misi sekolah.

“Alhamdulillah biarpun sekolah di pinggiran kota, tetapi semangat mengajar dan belajar di lembaga kami sangat baik, sehingga kami bersyukur karena manfaat keberadaan SD Muhammadiyah Mulusan II, bisa ikut mencerdaskan anak didik warga sekitar, khususnya tunas bangsa yang berada di Dusun Lemahbang dan sekitarnya,” tandas Tri Wahyudi SPd. (Kiriman: Huri Ananda)

Komentar

Komentar