Perkembangan Toko Oleh-Oleh Di Jalan Baron Belum Signifikan

oleh -
Agus Lambang, pemilik salah satu toko oleh-oleh di Jl. baron. KH/ Kandar
kadhung tresno
Agus Lambang, pemilik salah satu toko oleh-oleh di Jl. baron. KH/ Kandar
Agus Lambang, pemilik salah satu toko oleh-oleh di Jl. baron. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Meski kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi wisata pantai naik tajam, namun perkembangan toko oleh-oleh di jalan Baron, salah satu jalur utama menuju pantai selatan dari Wonosari tidak mengalami perkembangan signifikan.

Berdasar keterangan salah satu pemilik kios oleh-oleh sekaligus pembuat masakan khas Gunungkidul, Agus Lambang, bahwa di ruas jalan Baron saat ini tak ada toko atau kios khusus penyedia oleh-oleh. Apabila ada, penjualan berbagai macam oleh-oleh merupakan pengembangan saja, disamping menu kuliner utama yang memang dibuat atau diproduksi sendiri.

“Wirausahawan yang sengaja mendirikan khusus toko oleh-oleh belum ada, yang mengalami penambahan jumlah kebanyakan warung kuliner, lantas mereka menyediakan berbagai oleh-oleh baik produk sendiri maupun titipan dari sejumlah produsen baik lokal dan luar Gunungkidul,” terang pemilik kuliner thiwul manis ini.

Sepertihalnya dirinya, semenjak mampu membuat masakan thiwul sekitar dua tahun silam, produk pelengkap menyusul, thiwul instan, gathot, dan jenis olahan ketela lainnya, ditambah lagi produk buatan teman komunitas UKM di Gunungkidul.

Selain thiwul, puluhan produk yang ia sediakan diantaranya, ada manggleng, keripik bonggol pisang, keripik pisang, keripik nangka, pathilo, abon lele, aneka minuman sachet berbahan tanaman rimpang, dan masih banyak lagi.

Dilihat dari produk yang banyak diminati oleh para pengunjung, selain thiwul manis miliknya, wisatawan yang domisilinya jauh dari Gunungkidul juga membeli produk yang mentah, seperti thiwul instan, gathot, dan krecek serta pathilo. Sementara untuk produk camilan siap saji yang laris diantaranya keripik bonggol pisang, keripik nangka dan egg roll berbahan ketela.

“Wisatawan itu cenderung suka yang instan atau langsung makan, perbandingan produk laku terjual antara oleh-oleh mentah dan siap makan kurang lebih 1:3. Peminat yang mentah biasanya karena domisilinya jauh,” jelas Agus.

Dirinya menghitung, penyedia kuliner sepeti thiwul, mie atau bakso, dan masakan tradisional yang melengkapi tambahan oleh-oleh khas hanya sekitar 7 kios saja, Itu pun berada dari simpang tiga Mulo ke-utara. Dari simpang 3 Mulo ke selatan sepertinya dihindari sebagai lokasi usaha khususnya toko oleh-oleh karena pergerakan wisatawan telah terpecah antara menuju Tanjungsari, Baron, dan ke sejumlah pantai di Tepus.

Sambung Agus, misalnya ada yang mau membuka toko oleh-oleh, biasanya memilih lokasi dari simpang tiga Mulo ke utara, hal tersebut didasarkan pada peluang lebih banyak dilalui wisatawan.

“Kebanyakan memilih di sebelah barat jalan karena wisatawan lebih leluasa menjangkau saat pulang. Calon wirausahawan baru bukan penduduk lokal mengalami kesulitan, karena saat ini hampir tidak ada warga lokal yang hendak menjual tanahnya, kemungkinan yang dapat dilakukan dengan sewa bangunan atau ruko,”tutur Agus.

Agus menyebutkan, perkembangan pusat oleh-oleh tidak seramai jalur Siyono-Gading, karena memang ruas jalan tersebut menjadi jalur utama keluar masuk Gunungkidul dari arah Yogyakarta. Memiliki kios di jl Baron terkadang dirugikan saat terkena dampak pengalihan lalu lintas saat musim libur panjang.

“Saat libur lebaran atau tahun baru wisatawan yang pulang dari pantai selatan biasanya dialihkan ke a rah barat melalui JJLS, padahal banyak juga yang hendak mampir ke sini, setelah sampai di Wonosari mereka putar balik,” kata Agus Lambang lagi.

Lebih jauh disampaikan, omset yang ia peroleh dalam setiap bulan mencapai Rp. 4 hingga Rp. 5 juta. dirinya mengungkapkan, beberapa wirausahawan mulai melirik mendirikan kios oleh-oleh di jalur Playen-Gading, karena tidak sedikit wisatawan yang pulang melalui ruas jalan ini. (Kandar)

Komentar

Komentar