GUNUNGKIDUL, (KH),– Seakan tak merasakan kehadiran negara. Mantan pejuang berbagai operasi militer pasca kemerdekaan, Sarno (84) nasibnya memprihatinkan. Di usia senja, dia kini tinggal di rumah berdinding bambu sangat sederhana. Itupun bekas kandang ayam yang bukan miliknya.
Warga Susukan 2, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul ini bernaung selama puluhan tahun sebatang kara di rumah milik keponakannya. Rumah tinggal dan tanah miliknya telah lama ia jual untuk biaya hidup selepas menduda.
“Rumah dan tanah pekarangan ini milik keponakan. Dulu dipakai untuk pelihara ayam, lalu dirubah sedikit agar bisa ditinggali. Sehingga selain untuk mengurus ayam sekaligus untuk tempat tinggal saya. Saat ini tidak punya anak dan istri,” tutur Sarno saat dikunjungi di rumahnya, Jumat (2/8/2024).
Bangunan rumah yang ia tinggali sangat kecil. Saat masuk ke dalam, tempat tidur sangat sederhana terlihat berada di ruang depan, mepet ke sisi kiri. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu jelas tak mampu melinduginya tubuhnya dari suhu dingin kemarau saat malam hari.
Sarno menyempatkan banyak waktu untuk berkisah. Sesekali ia menghela nafas meratapi nasib. Dahulu, ia punya istri hingga dua kali. Istri pertama asal Karangmojo meninggal dunia sebelum Sarno punya keturunan. Dengan istri ke- dua dari wilayah yang sama, ia juga tak dikaruniai buah hati. Setelah ajal istri ke- 2 menjemput, Sarno kembali ke kampung halamannya di Ponjong.
Lelaki ramah ini bercerita banyak mengenai kenangannya saat bertugas di militer. Mulanya ia masuk ke Batalyon 409 sekitar tahun 1960 melalui ketentuan Wajib Militer Darurat (Wamilda).
Dia lansgung terjun ke berbagai operasi militer. Mulai dari memerangi Kartosuwiryo di Jawa Barat, memberantas PRRI di Sumatera, hingga dikirim ke Sulawesi menumpas Kahar Muzakar bersama gerilyawannya.
“Saya juga ikut merebut Irian Barat. Pernah bertugas ke Kalimantan menjaga perbatasan. Setidaknya 3,5 tahun di Kalimantan. Saat PKI Meletus saya masih di sana,” kenang Sarno.
Pada tahun 1966/1067 dia pun terlibat dalam pembersihan sisa-siag G30S PKI. Tidak ketinggalan, Sarno bergabung ke satuan lain pada tahun 1968 bertugas di Timor-Timur. Di wilayah ini dia lebih banyak berada di rumah dinas. Teman-temannya yang bertugas di lapangan beberapa diantarnya tak kembali.
“Tugas terakhir sampai tahun 1969 dengan pangkat Kopral Dua. Setelahnya ada peraturan atau penjaringan masuk pelatihan Militer Sukarela (Milsuk). Tetapi saya tidak mendapat panggilan,” kenangnya menunjukkan keheranan.

Pasalnya, banyak rekan seangkatannya masuk ke Milsuk menjalani Pendidikan dan pelatihan sehingga memperoleh hak pensiun dan segenap tunjangan dari negara.
“Yang masuk Milsuk mendapat pensiunan. Sementara saya tidak. Dua kali saya mengurus agar mendapat pengakuan dan memperoleh apresiasi dari negara tetapi tidak pernah berhasil,” terangnya panjang lebar.
Keprihatinan yang lain, Sarno juga tak tersentuh berbagai bantuan sosial pemerintah. Sementara, situasi yang dihadapi cukup sulit. Untuk sekedar makan, ia kini ditanggung sebuah Yayasan.
“Usia saya sudah tua, tak bisa bekerja lagi. Sebelum benar-benar pulang kampung saya pernah mendapat pekerjaan menjadi keamanan di Bandung,” ujarnya.
Sukiran (58) tetangga Sarno menyebut, selain mendapat jatah makan dari sebuah Yayasan, setidaknaya sebulan sekali GKJ Susukan Ponjong mengalokasikan paket sembako kepada Sarno. Pemberian bantuan dari jemaat GKJ sudah berjalan sekitar 3 tahun belakangan ini.
Sukiran menjadi tetangga yang ringan tangan. Setiap kali Sarno butuh bantuan, ia datang tanpa pamrih. Beberapa kali Sarno harus menjalani tindakan operasi. Sukiranlah yang mau tak mau berjibaku menyediakan waktu, tenaga serta pikiran demi kesembuhan Sarno.
“Kami juga heran, bukti-bukti riwayat perjuangan seperti piagam dan sejumlah tanda (pin) atas tugas yang pernah diemban ada, kok tidak mendapat apresiasi apa-apa, misalnya bantuan atau jaminan hari tua,” beber Sukiran. (Kandar)





