Maanfatkan Daun Serat Menjadi Benang Serat

oleh -
kadhung tresno

PATUK, kabarhandayani.– Tumbuhan serat yang banyak terdapat di lahan milik warga sering dianggap sebagai tanaman rimbun yang mudah berkembang biak. Tumbuhan ini juga dianggap mengotori lahan dan hanya memenuhi lahan tanpa fungsi.

Namun, Wasni (47) warga Padukuhan Kepil, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Gunungkidul sudah puluhan tahun menekuni untuk memanfaatkan tanaman ini. Ia mengumpulkan daun tanaman yang dapat menimbulkan efek gatal pada kulit ini untuk diolah menjadi benang serat.

Berawal dari minimnya pendapatan sebagai petani, ia mengumpulkan daun dari tumbuhan berduri itu untuk dikeringkan dan dijual. Daun serat yang sudah dipetik kemudian dihilangkan durinya. Selanjutnya daun serat disuwir dan dikerok agar berubah warna dari hijau menjadi putih.

Proses pengerokannya memang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Dengan menggunakan alat yang terbuat dari dua pilahan bambu yang disatukan dan diberi ruang bagian tengah untuk mengerok daun serat agar tercipta benang serat yang bagus.

Menurut Wasni, pengerokan dilakukan ketika daun serat sudah layu agar benang yang terbentuk tidak putus. Usai daun tersebut dikerok dan berubah menjadi benang kemudian dijemur hingga kering dan siap dijual.

Wasni memaparkan, satu kilo benang serat dijual dengan harga Rp 15.000,00. Benang-benang ini nantinya akan dijadikan bahan baku untuk pembuatan karung, tali, sapu, kemoceng dan kerajinan tangan lainnya.

“Mungkin akan lebih meningkatkan hasil jika dibuat produk sendiri. Namun belum bisa dalam pembuatannya,” jelasnya sembari mengumpulkan daun-daun serat yang terdapat di pinggir ladangnya.

Menurut penuturan Wasni, daun serat dapat dipanen dalam periode satu tahun sekali. Pohon serat yang mirip nanas ini daunnya akan terus tumbuh dan bertambah. Daun serat yang baik untuk diolah menjadi benang serat adalah daun yang sudah tua.

Wasni mengungkapkan, dalam sekali panen ia mampu membuat sekitar 17 hingga 20 kg dari sekitar 100 pohon serat yang tersebar di ladangnya. “Sebenarnya lumayan, tetapi banyak yang malu untuk menekuni kegiatan ini. Kalau saya yang penting halal, bisa untuk kegiatan ketika tidak musim tanam,” ujar Wasni. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar