Setidaknya hanya 3 kapanewon yang masih bebas dari LSD. Wilayah tersebut antara lain Saptosari, Paliyan dan Tepus.
“Jumlah kasusnya sudah ada 302. Yang mati ada 3 ekor. Semua yang mati sapi berusia muda,” kata dia, Kamis (9/3/2023).
Pihaknya menghimbau masyarakat pemilik ternak untuk menjaga kebersihan kandang. Sebab, penyebab munculnya LSD berasal dari virus lalat dan nyamuk.
Penyakit ini ditandai dengan munculnya benjolan pada kulit sapi, terutama pada bagian leher, punggung, dan perut. Selain benjolan, sapi yang terinfeksi LSD juga dapat mengalami demam, kehilangan nafsu makan, lesu, dan mengalami penurunan produksi susu.
“Ternak sapi yang terkena LSD tak diperbolehkan masuk pasar hewan. Harus diobati dulu,” imbuhnya.
Pengelola Pasar Hewan Siyono Harjo, Playen, Isnaning Suindarti secara terpisah menyebutkan, LSD sangat berdampak pada jual-beli sapi.
“Dampaknya, jumlah sapi yang dibawa ke pasar turun, harga juga turut terpengaruh,” ujar Isnaning di Pasar Hewan Siyono Harjo.
Jumlah sapi yang turun di pasar saat hari pasaran cukup signifikan. Capaian penurunan menyentuh 50 persen.
“Yang masuk pasar turun hampir separuh dari biasanya,” imbuhnya. (Kandar)