Klaster Baru Gunungkidul, Tracing Dan RDT Sasar 311 Warga, Dinkes: Butuh Energi Besar

oleh -
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawati. (KH/ Kandar)
iklan dispar

GUNUNGKIDUL, (KH),– Di Gunungkidul penularan COVID-19 masih terus terjadi. Bahkan kasus terakhir menciptakan klaster besar. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Dewi Irawaty, Senin, (8/6/2020).

Dinkes telah melakukan upaya tracing atau penelurusan klaster baru yang penularannya diawali oleh dua pedangang iklan di Kecamatan Karangmojo itu. Dari tracing yang dilakukan, cukup banyak warga yang harus dilakukan Rapid Diagnostic Test (Rdt) atau tes cepat.

“Ada 311 warga yang harus di rapid test. Dari situ ditemukan 12 reaktif dan 4 diantaranya positif COVID-19,” ungkap Dewi.

Dirinya mengaku, jika ada kasus baru terlebih menjadi klaster besar konsekuensinya membutuhkan energi dan biaya yang cukup besar pula. Diantaranya untuk melakukan penelusuran dan memberikan tindakan Rdt. Apalagi jika kasus positif baru bermunculan.

Dewi menyebut, jika penularan masih terjadi artinya ada ruang dan celah atau situasi di masyarakat yang berisiko terjadi penularan.

“Apakah masyarakat lalai menjaga jarak, tidak pakai masker atau melanggar protokol kesehatan yang ditentukan?,” tanya dia.

Belajar dari klaster besar itu dirinya mengajak masyarakat benar-benar waspada di lokasi kerumunan. Diantaranya tempat belanja seperti pasar, toko dan fasilitas umum lain yang berpotensi ramai pengunjung. Sebab, di keramaian risiko penularan lebih tinggi.

Menurutnya, berdasar pengamatan, keinginan masyarakat untuk menjalani new normal atau penerapan pola hidup baru cukup kuat. Sebagaimana diketahui belakangan ini pemerintah menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) atau ketentuan dibukanya tempat ibadah dan destinasi wisata.

Jika formula tatanan atau pola hidup baru telah selesai disusun, akan segera disampaikan ke masyarakat. Nanti, Dewi imbau, masyarakat hatus benar-benar patuh menjalankannya.

Komentar

Komentar