Keluhan Pelaku Usaha Saat Wisatawan Pantai Membludak

oleh -1437 Dilihat
oleh

TANJUNGSARI, kabarhandayani.– Lebaran tahun ini menimbulkan keresahan pada sebagaian besar pelaku usaha di destinasi wisata pantai Gunungkidul. Dari pedagang souvenir, pedagang cemilan khas laut, rumah makan, tukang parkir, hingga pelaku bisnis penginapan semua berkeluh kesah tentang sepinya pengunjung.
Keluhan ini sepertinya tak berbanding lurus dengan jumlah kunjungan wisatawan ke lokasi pantai dalam 2 hari terakhir ini. Di mana antrian panjang di beberapa Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) sempat membuat petugas keteteran.
Pelaku usaha yang mengeluhkan sepinya pengunjung terjadi di beberapa pantai, dari Pantai Kukup ke arah timur hingga Pantai Slili. Menurut mereka, hal ini terjadi karena kebijakan jalur 1 arah yang diterapkan selama libur Lebaran oleh Satlantas Polres Gunungkidul.
Penerapan kebijakan jalur 1 arah ini mewajibkan semua pengendara harus berjalan satu arah yang dimulai dari Pantai Baron ke arah timur melewati jajaran sejumlah pantai hingga Pantai Indrayanti. Kendaraan yang akan balik arah ke barat tidak diijinkan oleh para petugas kepolisian yang berjaga di beberapa titik ruas jalan.
Bagaimana sebenarnya penerapan kebijakan ini hingga bisa membuat para pelaku usaha merasa dirugikan? Dari informasi yang berhasil dikumpulkan KH, Agus sebagai juru parkir di Pantai Drini, serta Ranem dan Katijem yang mengais rejeki sebagai pedagang minuman dan cemilan khas laut di Pantai Kukup, semuanya merasa dirugikan akibat kebijakan ini.
Mereka mengungkapkan, tujuan wisatawan kali ini sebagian besar tertuju ke Pantai Indrayanti. Sehingga arus kendaraan dari TPR pantai Baron langsung menuju ke Pantai Indrayanti.
“Setelah sampai Pantai Indrayanti kan nggak bisa mereka ke barat lagi, padahal pengunjung yang ke sini (Pantai Kukup) kebanyakan setelah berkunjung ke Pantai Indrayanti,” ujar Katijem, Rabu (30/7/2014).
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Pipit, pelaku usaha penginapan di Pantai Kukup. Kerugian yang dialaminya akibat kebijakan tersebut dirasakannya cukup besar.
“Kemarin ada pengunjung yang membatalkan boking yang telah dilakukan beberapa hari sebelumnya, karena mereka tidak diijinkan untuk berjalan ke arah barat lagi,” kata Pipit.
Pipit sebenarnya mengharapkan, pengambilan dan penerapan kebijakan seperti ini seharusnya melibatkan berbagai pihak termasuk mereka yang saat ini merasa dirugikan. Harapan mereka terhadap rejeki di liburan Lebaran ini seakan terasa sirna karena kebijakan ini.
“Bagaimana tidak, banyak pedagang yang telah mencari pinjaman uang untuk modal belanja tapi ternyata sepi pengunjung. Apalagi pedagang rumah makan, rata-rata dagangannya kan tidak awet lama,” lanjut Pipit.
Mereka sebenarnya menyadari kebijakan jalur 1 arah ini bertujuan baik untuk mencegah kemacetan yang selalu terjadi di saat libur hari raya seperti ini. Usaha ini juga mereka nilai untuk memberikan rasa nyaman pada pengunjung. Namun mereka tetap merasa belum siap menghadapi kerugian yang harus di terima.
“Kami sebenarnya paham tujuan dari kebijakan ini, tapi apa tidak ada cara lain yang sekiranya tidak merugikan para pedagang kecil seperti ini,” tanyanya. (Maryanto/Hfs)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar