Kecamatan Perlu Lakukan Perbaruan Peta Wilayah

oleh -
Drone. Sumber :airdrone.be
iklan dispar
Drone. Sumber :airdrone.be
Drone. Sumber :airdrone.be

PLAYEN, (KH) — Kontes Robot Terbang Indonesia dengan menggunakan Lanud Gading, Playen sebagai venue, ternyata mencuatkan beberapa pendapat tentang peta wilayah yang kini digunakan sebagai pedoman Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk menyusun kebijakan bagi masyarakat.

Salah seorang inisiator pengembangan teknologi pesawat tanpa awak Jogja, Djoko Sardjadi, menilai proses perbaruan peta wilayah ini wajib dilakukan. Dari peta wilayah yang baru, dapat diketahui sebaran luas sawah yang ada di tiap kecamatan. Berapa luasan dan lokasi sawah, atau lahan yang kemudian berubah menjadi perumahan, lokasi industri, pabrik.

“Dari Pemantauan dapat dibuat pemetaan wilayah dengan panen yang berhasil dan gagal. Data-data pemetaan ini mendukung kebijakan yang akan diambil oleh Pemerintah Daerah, agar tepat dan bebasis data terbaru,” ucapnya di sela Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2015, di Pangkalan Udara Gading, Playen beberapa saat lalu.

Ia menambahkan, agar data pemetaan yang didapatkan lebih cepat, efektif, dan tetap akurat. Kecamatan bisa menggunakan teknologi pesawat tanpa awak, Karena, misalnya saja, dalam pemantauan petak sawah yang berhasil atau gagal panen. Apabila luas lahan kecil, dapat dilakukan manual. Namun, apabila luas yang harus dipantau sampai 1.000 hektare, maka bisa dimonitoring dan difoto menggunakan pesawat tanpa awak.

Para mahasiswa atau anak muda yang menguasai penggunaan pesawat tanpa awak ini, bisa diminta pertolongan untuk mengoperasikan pesawat. Bahkan Djoko mendorong anak muda ini bisa mendirikan perusahaan foto udara, di tiap kabupaten. Sebagai pihak ketiga selain pemerintah untuk membantu masyarakat lebih mandiri dalam hal pemetaan wilayah.

“Perbaruan pemetaan wilayah selain mendukung upaya pertahanan, juga bisa membangun perkembangan ekonomi setempat. Karena pada dasarnya teknologi tanpa awak bisa semakin banyak diaplikasikan, bukan sekedar hiburan,” urainya.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara KRTI 2015, Joko Waluyo, memastikan teknologi yang ditawarkan dalam kompetisi KRTI akan dikembangkan untuk bisa diaplikasikan. Terlebih pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini membuka celah bagi anak muda, yang akan mengembangkan teknologi kedirgantaraan.

“Tinggal sedikit ‘sentilan’ saja kok, untuk sementara ini memang kendala pengembangan yang dihadapi mahasiswa itu dana,” ungkapnya.

Koordinator Dewan Juri, Gesang Nugroho, menjelaskan, pesawat terbang tanpa awak yang dikompetisikan dalam KRTI 2015, meliputi divisi racing jet yang terdiri kelas light weight dan kelas heavy weight; divisi fixed wing meliputi kelas monitoring dan kelas mapping; serta divisi vertical take off landing meliputi kelas water based fire distinguiser dan kelas non water based fire distinguisher.

Untuk kelas racing jet, ke depan bisa digunakan untuk pesawat tempur tanpa awak sehingga memudahkan dalam penyerangan musuh. Divisi fixed wing nantinya pesawat ini akan bisa digunakan untuk memonitoring laut, dan hutan yang ada di Indonesia, serta membuat peta dengan teknologi tinggi, tetapi dengan biaya murah. Divisi Vtol kedepan bisa digunakan untuk helikopter, bisa digunakan untuk peliputan bagi media, mendeteksi titik api, jika terjadi kebakaran hutan. (Maria Dwianjani)

Komentar

Komentar