Tidak banyak harapan yang digantungkan atas usahanya itu. Untung menyadarinya, karena belajar dari pengalamannya yang telah menjalani usaha tersebut selama 15 tahun. Hasilnya yang diperoleh tiap hari cukup untuk kebutuhan makan.
“Ya tidak mesti, rata-rata dapat satu, atau dua (pemakai jasa). Terkadang dalam sehari tidak ada peminat satu pun,” katanya saat ditemui di ruas jalan Wonosari-Toboyo, Playen, Rabu, (8/4/2015).
Hasil uang yang diperoleh, lanjutnya, selain untuk makan juga sebagai cadangan biaya perawatan sepeda onthelnya. Meski telah berkeluarga, lelaki asal Kabupaten Kulonprogo tersebut mengaku jarang pulang ke rumah. Disebutkan, emperan toko (perko) di Jl Brigjen Katamso telah menjadi tempat tidur yang nyaman baginya.
Untung mengaku, permasalahan dengan keluarga yang terjadi terkadang membuatnya enggan untuk pulang ke rumah. Dalam menjalani hidup di emperan toko, Untung menaruh bekal berbagai keperluan pada boncengan sepeda, seperti tikar, serta beberapa potong pakaian ganti.
Kartu identitas KTP selalu dibawanya tiap kali berkeliling. Kepada KH, ia menunjukkan KTP miliknya. Dalam KTP tersebut, Untung tercatat beralamat di Bleberan 2, Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul.
“Mau bagaimana lagi, ini jalan hidup saya, mampunya usaha seperti ini. Kalau pas mujur pernah dapet Rp 50 ribu,” pungkas lelaki yang belum memiliki anak tersebut. (Kandar)