Hari Buku Nasional 17 Mei dan Minat Baca

oleh -
Buku-buku era pergerakan nasional,, melampaui pemikiran pada jamannya. KH/Jjw.
kadhung tresno
Buku-buku era pergerakan nasional,, melampaui pemikiran pada jamannya. KH/Jjw.
Buku-buku era pergerakan nasional,, melampaui pemikiran pada jamannya. KH/Jjw.

WONOSARI, (KH) — Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai hari buku nasional. Tanggal itu dipilih untuk bertepatan dengan didirikannya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1980.

Di Gunungkidul yang biasanya selalu gempar dan meriah manakala memperingati peristiwa-peristiwa penting nampak juga belum ada “pergerakan” di hari buku ini. Barangkali pula, hanya sebagian kecil anggota masyarakat  dan biasanya yang terkait dengan dunia buku, seperti pustakawan dan juga guru yang mengenal hari buku nasional ini.

Sebagaimana diberitakan KH, Senin (16/5/2016), bersamaan dengan Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei mendatang, sekitar 6000 masyarakat dan pelajar akan dilibatkan dalam pencanangan GIM (Gerakan Indonesia Membaca) yang dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaaan Anies Baswedan di Gunungkidul. Mudah-mudahan ini benar-benar menjadi peristiwa kebangkitan minat baca dan juga menjadi bagian dari peringatan Hari Buku Nasional ini.

National Geographic Indonesia dan Deutsche Welle Indonesia mengutip, Survei World Most Literate Nations menunjukkan, minat baca di Indonesia masuk ke peringkat nomor dua dari bawah berdasar 61 negara yang disurvei. Artinya, minat baca buku masyarakat Indonesia sesungguhnya memang masih rendah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Rasyid Baswedan dengan legawa mengakui masih rendahnya minat baca di Indonensia. Ia mengakui data UNESCO, di mana persentase minat baca Indonesia hanya 0,01 persen.

Sesungguhnya, membaca dapat mendatangkan banyak manfaat. Membaca buku tidak hanya dapat mengubah sudut pandang, tapi juga mengubah sel-sel kelabu di dalam otak.

Ada banyak penelitian yang membuktikan, membaca buku menimbulkan efek di daerah otak yang bertanggung jawab untuk pengolahan bahasa dan kemampuan sensor motorik.

Salah satunya penelitian yang diterbitkan di jurnal Brain Connectivity. Para peneliti Emory University di Atlanta menjelaskan, pada otak 21 mahasiswa yang manjadi sampel penelitian, terdapat peningkatan konektivitas di korteks temporal kiri, yang merupakan area otak yang terkait pengolahan bahasa setelah mereka membaca.

Para peneliti juga memperhatikan, peningkatan konektivitas di daerah otak yang dikenal sebagai pusat sulkus. Ini adalah daerah sensor motorik otak yang utama,  yang berhubungan dengan pembentukan representasi sensasi tubuh.

Mereka mencontohkan, ketika seseorang membayangkan gerakan berjalan, maka orang tersebut bisa mengaktifkan neuron di otaknya yang berhubungan dengan gerakan fisik yang sebenarnya dari berjalan.

Gregory Berns, sang penulis studi yang merupakan ahli ilmu saraf,  dan direktur Emory’s Center for Neuropolicy menyimpulkan, “semakin banyak buku yang Anda baca, semakin meningkat juga kemampuan berbahasa dan motorik Anda.”

Hal yang sangat menarik dari riset tersebut, perubahan saraf bukan merupakan reaksi instan semata tapi menetap lama jauh setelah seseorang selesai membaca buku.

Tidak ada kata terlambat. Ayo budayakan membaca buku mulai sekarang. Apabila masih kurang minat baca buku karena tebal dan sulit dicerna, tidak ada salahnya memulai langkah gemar membaca dengan membaca barita ringan dan artikel-artikel singkat yang kini bisa dinikmati lewat koran, tabloid, majalah, atau media online.

Makin gemar membaca, makin cerdas berkarya. Selamat Hari Buku Nasional, selamat merenungkan kembali minat baca! (Jjw).

 

Komentar

Komentar