Geliat Pertokoan Eks Terminal Baleharjo: Pedagang Belum Kompak Buka

oleh -
Kios di kawasan eks terminal Wonosari belum buka dengan stabil. KH/ Kandar
iklan dispar
Kios di kawasan eks terminal Wonosari belum buka dengan stabil. KH/ Kandar
Kios di kawasan eks terminal Wonosari belum buka dengan stabil. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Progres kemajuan kawasan usaha dan bisnis di komplek pertokoan eks terminal Wonosari terasa belum signifikan. Pusat perdagangan di sebelah selatan pertokoan Besole ini sebenarnya memiliki fasilitas memadai salah satunya lahan parkir yang cukup.

Disampaikan pengelola, Sumaryo, pengembangan pembangunan kios dan fasilitas pendukung terus dilakukan, sementara kios yang dibangun lebih awal telah beroperasi sejak 2 tahun lalu. Berbagai jenis produk dagangan disediakan oleh pemilik hak guna kios. “Jenis dagangan sudah cukup beragam,” terangnya.

Dari setiap jenis komoditas dagangan tidak secara keseluruhan memiliki peningkatan omset yang sama, atau dengan kata lain belum merata. Bahkan diantaranya masih belum konsisten, terkadang buka kadang tidak.

“Dari 30-an kios yang beroperasi sebagian kecil masih belum stabil. Sementara 30-an yang lain sama sekali belum dibuka, bahkan beberapa diantaranya hendak disewakan oleh pemilik hak guna,” jelas Sumaryo.

Lebih jauh disampaikan, beberapa barang dagangan yang sejak awal dibuka dapat bertahan dan memiliki peningkatan hasil diantaranya ada beberapa jenis kuliner, elektronik, kelontong, konter pulsa, perhiasan, mebelair, dan lainnya.

“Kalau semua kompak selalu buka nampak ramai. Rencananya oleh pengembang hingga 2017 nanti akan tersedia sekitar 106 kios  di kawasan ini, selain berada di sisi selatan ada juga di sebelah timur. Ditambah lagi berada di tengah khususnya untuk kawasan kuliner,” paparnya.

Menurut dia, sebenarnya masih ada peluang untuk pengembangan bisnis di area tersebut, misalnya saja belum adanya kios yang menyediakan jual beli hand phone, konter yang ada sementara hanya pulsa dan pernak pernik kelengkapan hp. “Daripada kawasan Jl. Sumarwi disini lahan parkir lebih nyaman,” imbuhnya.

Sementara itu, pengakuan pedagang aneka batik, Lia, semenjak buka sekitar setahun yang lalu merasakan ada peningkatan hasil meski diakui belum signifikan. “Ada peningkatan, tapi belum seberapa,” katanya.

Ditemui terpisah, bagian pemasar kios di kawasan Besole, Mardi, menyampaikan, dari 200 kios yang ada baru digunakan sekitar 130-an lebih. Dari kios-kios yang beroperasi itu tingkat keramaian kios berbeda-beda, kios ramai terutama berada di deretan paling depan yang berhadapan langsung dengan Jl. Baron.

Ia menilai, perbedaan tingkat keramaian tergantung jenis komoditas dagangan dan lama tidaknya usaha tersebut dijalankan juga ikut berpengaruh. ”Disini juga ada sayuran, sembako dan pakaian, mungkin karena dekat dengan pasar Argosari sehingga dari beberapa kios itu kunjungan pembeli biasa-biasa saja,” tutur Mardi.

Sedikit berbeda dengan pengakuan Marno, pedagang pakaian di kawasan Besole, sejak membuka usaha dari tahun 2006 ia merasa malah ada penurunan, terlebih saat terminal dipindah ke lokasi yang baru. “Biasanya sandal dua minggu sekali harus belanja/ kulak, kini sampai 3 bulan sekali,” ungkapnya membandingkan.

Meski demikian ia masih dapat bertahan hingga kini. Untuk menarik pembeli ia menambah jenis stok dagangan, diantaranya baju jawa lurik, keris, blangkon dan beberapa jenis pakaian yang lain. “Beruntung ada terminal bayangan jurusan ke Baron, Tepus dan wilayah selatan yang lain, itu sedikit menolong,” tukasnya. (Kandar)

Komentar

Komentar