DMC Dompet Dhuafa Edukasi Warga Gunungkidul Kelola Sampah Organik

Pelatihan tentang "Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos oleh oleh Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa .

YOGYAKARTA, (KH),– Suasana pagi di balai pertemuan Kelurahan Pengkol, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, tampak berbeda. Puluhan warga, sebagian besar ibu rumah tangga dan petani, berkumpul dengan wajah antusias. Mereka mengikuti pelatihan Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos yang digelar Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Minggu (30/08/2025).

Gunungkidul dikenal sebagai daerah tandus di Yogyakarta. Salah satu masalah yang dihadapi adalah timbunan sampah organik rumah tangga. Sampah ini biasanya hanya ditumpuk atau dibakar. Akibatnya menimbulkan bau tidak sedap dan mencemari lingkungan. Padahal, jika dikelola, sampah organik bisa berubah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.

Bacaan Lainnya

Pelatihan berlangsung interaktif. Tim fasilitator tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengajak warga langsung praktek membuat kompos. Peralatan sederhana disiapkan, mulai dari pisau, gunting, tong, ember, hingga wadah khusus kompos.

“Pelatihan ini kami buat sederhana agar mudah dipahami. Prinsipnya, sampah rumah tangga sehari-hari bisa diubah jadi sesuatu yang berguna untuk kebun dan lahan pertanian,” jelas Adi Sumarno, fasilitator DMC Dompet Dhuafa.

Sesi praktek menjadi bagian paling seru. Warga bersemangat mencampur sisa sayuran, daun kering, dan sisa makanan dengan tanah serta aktivator mikroba. Tawa pecah ketika mereka mencoba mengaduk kompos pertama.

Sebagai masyarakat agraris, warga Pengkol bergantung pada pupuk untuk meningkatkan hasil panen. Namun ketersediaan pupuk subsidi semakin terbatas. Banyak petani kesulitan.

“Mayoritas warga di sini petani. Pelatihan ini bermanfaat sekali. Kami bisa mulai beralih menggunakan pupuk organik dari sampah sendiri. Selain ramah lingkungan, juga mengurangi ketergantungan pada pupuk subsidi yang sekarang langka,” ujar Yuli, salah satu peserta, dengan wajah sumringah.

Bagi Yuli dan warga lainnya, kompos memberi dua manfaat sekaligus. Bisa mengurangi sampah dan menyuburkan tanah.

Rustuti, peserta lain, menambahkan hal serupa. Selama ini sampah organik hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. “Lewat pelatihan ini, kami tahu ternyata bisa diolah jadi pupuk kompos. Semoga makin banyak warga yang ikut mencoba. Dengan begitu sampah di rumah tidak menumpuk,” tuturnya.

Pelatihan ini menjadi titik awal perubahan kebiasaan warga dalam mengelola sampah. Yuli berharap praktik sederhana ini bisa berlanjut di rumah tangga. Jika dilakukan bersama, tidak hanya membantu pertanian, tetapi juga menjaga lingkungan.

Melalui kegiatan ini, DMC Dompet Dhuafa ingin menegaskan pesan penting: sampah bukan akhir dari segalanya. Di tangan masyarakat, sampah organik bisa menjadi awal kehidupan baru. Menjadi tanah subur, panen melimpah, dan lingkungan sehat.

Program di Gunungkidul ini juga bagian dari komitmen Dompet Dhuafa. Mereka terus menghadirkan program kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat berkelanjutan di berbagai daerah Indonesia. Dengan pendekatan sederhana, warga diajak peduli lingkungan sekaligus mandiri memenuhi kebutuhan pertanian.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait