GUNUNGKIDUL, (KH),– Di sebuah rumah yang tak jauh dari Taman Budaya Jawa Tengah, seorang anak kecil tumbuh dan lekat pada dunia kesenian. Ia menyaksikan Srimulat beraksi, melihat lukisan tergantung di dinding galeri, mendengar gamelan berdentang dari kejauhan. Namanya Dedy Susilo.
“Sejak kecil saya sudah gemar menggambar dan senang menonton pertunjukan. Rasanya sudah tahu, saya ingin hidup di dunia seni,” ucapnya mengenang saat ditemui di kediamannya belum lama ini.
Lahir di Semarang, 7 September 1977, Dedy tumbuh dalam lingkungan yang bersahabat dengan kesenian. Dunia seni bukan sekadar tontonan, tapi seperti irama yang diam-diam membentuk jalan hidupnya.
Tahun 1997, ia menjejakkan kaki di Yogyakarta. Ia diterima di Institut Seni Indonesia (ISI), memilih jurusan Kriya. Namun kampus tak selalu jadi prioritas. Ia sempat nyaris drop out, menerima surat peringatan dari rektor agar menyelesaikan studi.
“Saya nyaris tidak lulus. Tapi saya pikir, kalau sudah sejauh ini, ya harus saya selesaikan,” katanya tenang.
Sembilan tahun dilaluinya hingga lulus ISI pada 2006. Sembari kuliah, Dedy membuka jasa dokumentasi video. Dari pesta pernikahan hingga pentas budaya, kamera menjadi perpanjangan matanya. Dunia visual mulai melekat erat.
Sanggar Kecil di Rumah, Tradisi yang Tumbuh Bersama
Sebelum kelulusan, pada 2004, bersama istri dirinya sudah menanam benih yang lebih besar: Sanggar Seni Taman Mekar Sari. Awalnya menumpang di rumah, namun perlahan tumbuh dan berpindah ke tempat yang lebih representatif.
Dedy memilih tinggal di Gunungkidul, kampung halaman istrinya, Sri Suhartanti. Di sanalah ia merasa akar tradisi masih kuat mengakar. Dan dari sanalah ia merasa, hidupnya menemukan napas baru.
Tahun 2009, ia dipercaya menjadi pendamping desa budaya. Tugasnya di Kalurahan Semin. Istrinya pun mendampingi. Mereka tak sekadar hadir sebagai pengamat, tetapi ikut menjadi bagian dari denyut budaya itu sendiri.
“Di desa, saya sadar, pelestarian itu bukan cuma soal panggung. Tapi juga soal catatan, dokumentasi, sejarah,” ujar Dedy.
Ia menulis, merekam, menyusun narasi. Sementara sang istri mendampingi kelompok seni dalam setiap pertunjukan. Kerja mereka berbuah nyata. Tahun 2012, kelompok dampingan mereka tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Dari Langendriyan ke Layar Lebar
Seni tak pernah membatasi langkah Dedy. Meski berasal dari ranah kriya, ia menaruh perhatian pada Langendriyan—seni nembang dan menari sambil duduk khas Yogyakarta. Ia menulis naskahnya sendiri, dan memanggungkan karya itu di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2017.
Dolanan anak dan seni tradisi tak luput dari perhatian, dia amati lalu ditulis. Beberapa karyanya terbit di Buletin Desa Budaya dan Majalah Jawacana. Kini, ia tengah menyusun buku riset tentang Dolanan Goco, yang tak sekadar permainan, tapi juga pelajaran tentang karakter anak dan nilai-nilai lokal.
Sejak 2016, Dedy semakin dalam menyelami kerja pendampingan. Tanpa bayaran, ia mengabdikan waktunya untuk Paguyuban Pelestari Budaya Kalurahan Pundungsari. Di sana, ia mendokumentasikan Nyadran Gedong Pulungsari, ritual adat yang menyambung sejarah dengan spiritualitas lokal.
Lewat film dokumenter, ia menjadikan kamera bukan sekadar alat rekam, tapi juru cerita budaya. Bersama warga dan murid-muridnya di SMK Muhammadiyah Semin, ia pernah menggarap berbagai film yang menghadirkan sederet prestasi.
Bersama komunitas dan Production House (PH) yang dibentuk aneka pernghargaan berhasil diraih. diantaranya ;
-
2020: Gejog Lesung – Juara III Festival Film Dokumenter Gunungkidul.
-
2022: Angslup – Tiga nominasi: Film Terbaik III, Penata Musik Terbaik, Penata Rias Terbaik.
-
2023: Lalu Lulus – Nominasi Sinematografi Terbaik.
-
2024: Lir, Untuk Apa Kita Di Sini? – Nominasi Film Terbaik III, Penyutradaraan, dan Penulisan Skenario.
“Film bukan hanya medium ekspresi. Tapi juga cara kami mengarsipkan sejarah lokal, yang sering terlupakan,” jelasnya.
Gerit-gerit Lancung: Permainan yang Menyimpan Protes Sosial
Salah satu capaian monumental Dedy adalah membangkitkan permainan tradisional Gerit-gerit Lancung. Bersama masyarakat, ia melakukan riset, dokumentasi, dan rekonstruksi. Permainan ini tak hanya lucu dimainkan, tapi menyimpan kritik sosial.
“Gerit-gerit Lancung itu simbol perlawanan perempuan terhadap kebiasaan berjudi para pria. Dulu mainnya sambil mengejek kebiasaan itu. Saya pikir, permainan ini layak dihidupkan lagi—sebagai pelajaran moral,” ujar Dedy.
Hasilnya? Pada 2022, permainan ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Pada tahun yang sama, komunitas dampingan Dedy juga menerima Anugerah Kebudayaan Gubernur DIY.
Meski akrab dengan masyarakat akar rumput, Dedy juga aktif di jalur resmi. Ia dipercaya menangani aspek artistik di berbagai program Dinas Kebudayaan Gunungkidul. Dari properti, kostum, pencahayaan, hingga desain panggung.
Tak berhenti di situ, Dedy juga mendirikan badan usaha kreatif. Bergerak di bidang kerajinan, artistik, dan penyewaan kostum. Dedy tak main-main untuk urusan pekerjaan. Dirinya menempuh dan menyelesaikan sertifikasi manajemen seni pertunjukan, termasuk manajemen panggung, film, dan pameran seni rupa.
Kini, api yang ia jaga mulai menyala pada generasi baru. Putranya tengah menempuh studi di ISI Yogyakarta, jurusan animasi.
“Dulu saya nonton Srimulat dan gambar-gambar sendiri. Sekarang anak saya bikin karakter digital. Dunia berubah, tapi semangat kreatifnya tetap,” katanya sambil tersenyum.
Dedy Susilo bukan hanya seniman. Ia menyatukan kerja-kerja budaya dalam satu kesadaran: bahwa tradisi hanya akan bertahan jika ada yang merawatnya.
“Saya tidak ingin sekadar jadi pelaku. Tapi juga berusaha melestarikan. Karena budaya tidak akan hidup sendiri. Ia harus digerakkan, dicatat, dan diwariskan,” ujarnya, pelan tapi tegas.





