Dari Jualan Sayur Bisa Entaskan Kakak dan Adik

oleh -
kadhung tresno

WONOSARI, (KH),– Ada banyak bukti, setia pada perkara-perkara kecil menghasilkan sesuatu besar di kemudian hari. Martini, salah satu pengusaha katering di Wonosari telah turut membuktikannya.
Saat masih kanak-kanak, Martini senang bermain masak-masakan dengan teman sebayanya di Padukuhan Ringinsari Wonosari. Anak kedua pasangan almarhum Samidi dan Sajiyem adalah satu-satunya anak perempuan, 4 saudara kandung lainnya laki-laki semua. Sampai duduk di bangku SMP, Martini masih senang  memasak, bahkan beberapa kali menjadi juara masak antar siswa.
Martini kemudian mendapat kesempatan melanjutkan sekolah di Sekolah Perawat Imanuel Bandung Jawa Barat. Jalan pendidikan yang dilaluinya ternyata tidak mulus. Ia putus sekolah di Bandung tersebut, dan kembali ke kampung halaman Gunungkidul.
Beberapa bulan ia menganggur di rumah. Beruntung ada yang mengingatkan supaya tidak terlalu lama menganggur. Saat itu ayahnya menjadi kondektur bus. Melihat ada kios yang kosong di Terminal Bus Wonosari, kedua orang tuanya mengarahkan Martini membuka warung kecil-kecilan di terminal bus itu. Jadilah Martini sebagai seorang pedagang makanan, atau di Wonosari sering dikenal dengan istilah dagang sayuran.
Tuhan nampaknya memberikan tuntunan dan pertolongan kepada Martini untuk semakin yakin membuka usaha warung makan. Meskipun modalnya pas-pasan, warung makan Martini laris manis. Banyak sopir, kernet, kondektur, dan juga penumpang bus yang makan di warungnya. Selain melayani makan di warung, ada banyak ibu-ibu yang membeli sayur, lalu dibawa pulang.
Larisnya warung makan Martini membuat kebahagiaan tersendiri bagi kedua orang tuanya. Dari hasil jualan sayur di warung makan, Martini bisa turut membantu orang tuanya. Bahkan kakak dan adik-adiknya ia bantu, sehingga bisa “mentas jadi orang”, atau mampu mandiri. Di sela-sela kesibukannya membuat pesanan untuk acara buka bersama pada Selasa (15/7/14), Martini menuturkan, dari hasil usaha jualan sayur, ia juga turut membeayai pernikahan kakak dan adik-adiknya.
Ketika KH menanyakan berapa keuntungan dari jualan sayur, ia menjawab, “Antara Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu pada hari-hari biasa. Sekarang hasilnya  antara Rp 500 ribu sampai Rp750 ribu.”
Dari usaha warung makan di terminal bus, Martini membidik peluang melayani pesanan katering. Itu telah ia jalani sejak tahun 2006 lalu. Ia menuturkan, yang pesan pertama kali adalah dari Pemda Kabupaten Gunungkidul. Untuk katering pesta perkawinan,  yang pertama kali pesan adalah keluarga S Bagyo, karyawan Pemkab Gunungkidul waktu itu. Saat ini pesanan katering Martini cukup banyak. Pemesan ternyata tidak hanya dari Gunungkidul, tetapi ada pemesan dari Bantul, Sleman dan Yogyakarta.
Saat ditanya suka-duka menjalankan usaha katering, Martini menceritakan pengalaman pahit sekaligus lucu. “Kalau  pemesan mengundang 4000 tamu, tetapi yang dilaporkan 2500 tamu, sebagai catering, ya saya berusaha mencukupi. Jangan sampai ada yang ngecap kateringnya tidak bonafid,” tuturnya. ”Itu pernah terjadi di Balai Kepek Wonosari. Untung ada persediaan, sehingga 4000 tamu bisa terlayani. Itu pengalaman pahit dan menjadi peringatan, semoga tidak terulang lagi.” tambahnya.
Kini, dari usaha kateringnya, Martini dapat mengurangi pengangguran anak-anak muda di sekitar rumahnya. Untuk melayani katering 3000 tamu, ia membutuhkan 35 tenaga muda-mudi. Untuk acara kecil, ia melibatkan antara 10 sampai 15 tenaga. Guna menunjang kelancaran pelayanan kateringnya, saat ini ia memiliki 3 armada mobil, yang wira-wiri mengangkut hidangan dari rumah Tawarsari ke rumah  pemesan. Anggota Asosiasi Jasa Boga Indonesia (AJBI) DIY ini selalu aktif mengikuti berbagai pertemuan untuk keakraban menimba pengalaman, dan mengikuti perkembangan harga pasar paket katering.
Ia menuturkan, dulu  harga satu paket Rp 20 ribu, sekarang Rp 35 ribu. Namun demikian juga bisa Rp 25 ribu atau Rp 30 ribu. Itu semua tergantung berapa macam masakan yang diminta. ”Sebagai pelayan, saya luwes saja,” tambah Martini.
Khusus pada bulan ramadan ini warungnya tutup untuk menghormati warga yang sedang melaksanakan ibadah puasa. Namun di rumah, dapurnya tetap ngebul guna melayani pesanan konsumen yang memesan hidangan untuk buka bersama. Ada yang prasmanan, dan ada yang pesan hidangan boks/dus. “Pesanan untuk lebaran dan orang punya hajad alhamdulillah terus ada,” ujarnya.
Martini menikah dengan Tukino. Saat ini ia tinggal di Padukuhan Tawarsari Wonosari. Keluarga ini telah dikaruniai 2 anak. Anak pertama laki-laki dan yang kedua perempuan. ”Anak cukup dua, sesuai dengan program Keluarga Berencana.” ucap Martini mengakhiri pembicaraan. (Artikel dan foto kiriman dari: Sarwo. Ed: Jjw).

Komentar

Komentar