“Harusnya jika cukup air masih bisa dipetik beberapa kali lagi,” keluhnya.
Semenjak sumur sebagai sumber pengairan kebun tembakau miliknya mengering, daun tanaman tembakau miliknya berangsur menguning lalu mengering.
Sebelumnya dirinya sempat membeli air tangki untuk mengairi kebun. Namun setelah dihitung dengan hasil penjualan panenan dirinya mengaku menanggung rugi.
“Beli air satu tangki Rp. 80,000. Sementara air dibutuhkan hingga waktu tiga bulan ke depan. Jelas memakan banyak biaya, ya sudah dibiarkan saja,” terang Siswo Sutrisno.
Padahal, sambungnya, daun tanaman jenis perkebunan non pangan ini masih berpotensi beberapa kali lagi panen jika kebutuhan airnya tercukupi. Sebelumnya, dirinya telah memanen daun tembakau sewaktu air dari sumur masih dapat diandalkan. Setelah sumur kering praktis pengairan tanaman tembakau miliknya terhenti. Dirinya merasa musim kemarau tahun ini datang jauh lebih awal sehingga mengganggu perkebunan tembakau yang ia budidayakan selepas panen padi. (Kandar)