GUNUNGKIDUL, (KH), – Namanya Asto Puaso, namun akrab dipanggil “Mbah Lanang,” panggilan yang berawal dari cucunya dan tetap ia pertahankan sebagai penghormatan terhadap khasanah budaya zaman dahulu. Lahir pada 18 Februari 1962, Mbah Lanang hidup dan besar tanpa pernah meninggalkan tanah kelahirannya. Pendidikan formalnya dihabiskan di sekolah-sekolah sekitar Gunungkidul: SD Plembutan, SMPN Playen, dan SLTA di Wonosari. Tak pernah ia menempuh pendidikan atau bekerja di luar daerah ini.
Masa kecilnya diwarnai pada perkenalan seni secara alami. “Seperti anak pada umumnya, saya slengekan, tapi menggambar sudah jadi bagian kesukaan. Buku tulis pelajaran sering penuh gambar, bukan tulisan,” kenangnya saat ditemui baru-baru ini.
Belajar secara otodidak, Asto mengasah kemampuan menggambar di mana saja. Saat tren gambar vignette mulai populer di kalangan anak muda, ia turut mengasah bakatnya dengan mengikuti gaya tersebut.
Meski kecintaannya pada seni sudah kuat, hidup mengajarkan Asto untuk realistis. Menjalani seni sebagai sumber penghidupan bukan perkara mudah. Pada masa muda hingga menikah dengan Sumartijah ia bekerja di sektor informal dan kreatif yang mendukung ekonomi keluarga.
Usaha utamanya di bidang jasa reklame dan airbrush, terutama melayani branding bodi bus dan truk. Hampir 90 persen armada angkutan umum di Gunungkidul, seperti Maju Lancar, Jaya Sehati, dan Djangkar Bumi, pernah memakai jasanya.
Dalam bekerja, Asto tak hanya menjalankan pesanan, tapi kerap mengolah ide sendiri yang kemudian disukai pemesan. Ia menjaga ketepatan waktu dengan ketat, karena pekerjaan yang memakan waktu lama berpotensi mengganggu operasional armada dan pendapatan pemilik. Dalam satu kasus unik, ia harus mengubah branding sebuah mobil dalam waktu setengah hari supaya sesuai permintaan pemilik baru, menampilkan kemampuan adaptasi dan kecepatan kerja luar biasa.
Walau passion-nya jelas di seni, Asto harus melangkah kompromi demi keluarga. Ia menunda idealisme lukis kanvas untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan pekerjaan kreatif yang tidak stabil. Dua anaknya mengikuti jejaknya di dunia seni, Farid Stevy Asta lulusan Desain Komunikasi Visual di ISI Yogyakarta, dan adiknya, Flea Aura Rianasta, yang sedang semester delapan di jurusan seni rupa di ISI.
Keputusan Asto untuk mendukung pendidikan seni anak-anaknya bukan tanpa tantangan. Komentar miring dan keraguan dari lingkungan tentang masa depan seni sebagai profesi sempat menyelimuti. Namun, ia tetap tegar dan berani menentang stereotip bahwa anak harus bersekolah dan bekerja sebagai pegawai.
“Kalau mau berkarya di seni, harus ‘gila’ dalam arti berani tampil beda, ide yang tidak dipikirkan orang lain dan tidak peduli omongan orang,” ujarnya. Pesan ini bukan hanya untuk anak-anaknya, tapi juga untuk generasi muda yang hendak memilih jalan seni.
Ketika beban keluarga berkurang, terutama setelah anak-anaknya mulai mandiri, Asto mulai intens melukis di kanvas. Pandemi 2019 jadi momentum penting baginya untuk kembali serius berkarya dan mulai mengikuti pameran seni, termasuk ArtJog di Yogyakarta. Karyanya mulai dikenal luas di Gunungkidul dan Yogyakarta. Meski banyak yang menyebut karyanya bergaya surealisme, Asto lebih memilih untuk tidak terikat pada label aliran seni tertentu. Baginya, gambar adalah gambar—bebas dan tanpa batas.
Selain kanvas, pendiri Studio Ngambah Lemah ini mengembangkan karya dengan melukis di media batu. Ini berawal dari tantangan Dinas Pariwisata Gunungkidul untuk menciptakan suvenir khas daerah. Menggunakan batu sungai sebagai kanvas, ia melukis panorama, simbol, dan ciri khas Gunungkidul. Membawa karya seni lebih dekat dengan masyarakat luas. Ini juga menjadi cara unik mengangkat identitas daerah melalui seni rupa.
Di sela-sela rutinitas kerja kreatif sebagai seniman, Asto juga menyempatkan diri mengunjungi ladang dan kebun. “Saat di ladang, kerja sebentar, tapi ngobrol bisa sampai sore. Itu membuat saya tenang dan segar kembali,” katanya.

Perjumpaan dengan para petani memperkaya perspektif hidupnya, memberikan ketenangan yang lain selain dunia seni dan kerja kreatif.
Sebagai salah satu pelaku seni rupa yang berkarya di Gunungkidul, Asto mengamati perkembangan seni rupa daerahnya dengan harapan besar. Ia dan komunitasnya, Sekar Jagad, berupaya mengedukasi masyarakat agar lebih mengapresiasi seni rupa tanpa melihatnya sebagai sesuatu yang eksklusif atau hanya untuk kalangan tertentu.
Sekar Jagad bekerja tanpa struktur ketat, semua kegiatan dilakukan berdasarkan musyawarah dan kesediaan anggota. Filosofi mereka sederhana: “Kalau ada waktu dan niat, kegiatan jalan, tanpa memikirkan apa yang didapat.”
Gunungkidul, yang selama ini dikenal lewat pesona alam dan pariwisatanya, diharapkan Asto dan rekan-rekannya bisa dikenal juga lewat seni rupa. “Saya ingin seni rupa di sini setara dengan kota-kota lain,” katanya.
Karya-karya Asto kini telah tersebar di berbagai wilayah di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri. Meski tidak terlalu menekankan soal harga atau popularitas, ia tetap mempertimbangkan eksistensi dan kualitas karya sebagai dasar penentuan harga. Tidak lagi menerima pesanan lukisan kanvas, karya yang dihasilkan bisa langsung dimiliki oleh mereka yang tertarik, bahkan terkadang diberikan cuma-cuma sebagai bagian dari semangat berkarya dan berbagi.
Seni adalah jalan hidup bagi Mbah Lanang. Ia memulai dan terus berkarya dengan doa dan harapan baik, meyakini selama fisik dan jiwa mendukung, ia akan terus melukis. “Berkesenian membuat saya punya banyak saudara,” katanya.





