GUNUNGKIDUL, (KH) – Sebuah video yang memperlihatkan warga menandu seorang lansia dalam kondisi sakit melewati jalur ekstrem menuju rumahnya viral di media sosial. Video tersebut direkam di Padukuhan Ngrandu RT 08/RW 01, Kalurahan Katongan, Kapanewon Nglipar, wilayah yang memang dikenal sulit dijangkau kendaraan.
Pada Sabtu (15/11/2025), Sardiyono baru saja pulang dari rumah sakit setelah menjalani perawatan akibat stroke. Ambulans yang mengantarkannya hanya mampu berhenti di jalan setapak di bagian atas permukiman. Sementara rumahnya berada di bawah lereng ‘perengan’ yang curam.
Untuk membawanya sampai ke rumah, warga menandu Sardiyono menggunakan kursi panjang yang diikat kuat dengan bambu. Perjuangan warga pada malam yang diguyur gerimis itu benar-benar membuat banyak orang tersentuh. Mereka harus menuruni jalur sempit, licin, dan cukup ekstrem.
Tak berhenti di situ, jalur menuju rumah Sardiyono juga melewati jalan setapak di tengah ladang dengan minim penerangan. Wajar saja, rumahnya berada di area persawahan dan cukup jauh dari permukiman warga pada umumnya.
“Waktu berangkat ke rumah sakit ditandu, pulang juga ditandu warga. Karena jalannya memang sulit, jadi harus ditandu,” ujar Panikem, istri Sardiyono, Senin (17/11/2025), saat ditemui di rumahnya.
Ketiadaan peralatan evakuasi membuat warga harus menggunakan kursi panjang yang diikat bambu sebagai tandu darurat. Meski sederhana, cara itu menjadi satu-satunya pilihan.
“Tanggal 26 nanti kontrol lagi. Karena bapak mengalami stroke sebagian di sisi kiri, kemungkinan kalau mau naik ke atas ya masih harus ditandu,” lanjut Panikem.
Di dalam rumah sederhana itu, Sardiyono terbaring lemah di kasur. Panikem setia duduk di sampingnya untuk membantu segala kebutuhan suaminya. Di lokasi tersebut hanya terdapat dua rumah: milik Sardiyono yang dihuni istri, anak, menantu, dan cucunya; serta satu rumah kerabatnya yang berada di belakang. Selebihnya, area sekitar adalah lahan pertanian milik warga.

Jarak dari jalan lingkungan di bagian atas hingga rumah berbentuk limasan itu sekitar 300 meter dengan kondisi medan yang sangat ekstrem. Keluarga ini telah bertahun-tahun menetap di tempat tersebut. Menurut Panikem, saat musim hujan turunan dengan kemiringan hampir 45 derajat itu tak pernah dilalui sepeda motor karena sangat licin dan berbahaya. Hanya pada musim kemarau jalan itu terkadang bisa dilewati, itupun biasanya hanya anaknya yang sudah terbiasa.
Sementara itu, Dukuh Ngrandu, Riyanto, menjelaskan bahwa padukuhan tersebut terdiri dari sembilan RT dengan ratusan kepala keluarga (KK) yang memiliki karakter wilayah berbeda-beda. Karena berada di daerah perbukitan, setidaknya ada tujuh KK yang rumahnya sulit dijangkau kendaraan dan memiliki jalur ekstrem. Kondisi ini membuat penanganan darurat harus dilakukan dengan cara khusus, seperti yang dialami keluarga Sardiyono.
“Yang paling kami butuhkan sebenarnya adalah tandu yang layak untuk evakuasi warga sakit. Jalan juga butuh dibenahi, tapi kebetulan jalur yang dilewati itu melewati lahan pribadi sehingga perlu koordinasi dan kerelaan. Dan untuk saat ini, hal itu belum bisa dilakukan,” jelas Riyanto.





