Di Balik Keheningan: Kisah Ayu, Seniman Gigih dari Gunungkidul

Rofitasari Rahayu bersama karya-karyanya. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Lahir pada 5 Januari 1997, Rofita Sari Rahayu hidup dalam keheningan yang penuh perjuangan. Sejak kecil, ia mengalami tunarungu dan tunawicara, sebuah kondisi yang diyakini akibat kecelakaan jatuh saat ia masih merangkak. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat pengobatan medis tak tuntas. Ibunya, Ngadinem, lebih banyak mengandalkan pengobatan alternatif yang tidak membawa hasil maksimal.

Kehidupan perempuan yang akrab disapa Ayu dan keluarganya penuh dengan tantangan. Setelah tragedi gempa bumi tahun 2006 menghancurkan usaha jualan bakso orang tuanya di Yogyakarta, mereka terpaksa kembali ke kampung halaman di Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul. Di tengah keterbatasan itu, ayahnya justru meninggalkan mereka. Ibunya berjuang seorang diri sebagai buruh tani dan serabutan untuk menghidupi Ayu dan adiknya, Hafid Setyo Nugroho.

Bacaan Lainnya

Selama masa kecil hingga remajanya, Ayu tak bisa bermain layaknya anak seusianya. Selain karena keterbatasan komunikasi, ia juga terpaksa harus ikut membantu kesulitan ibunya. Sejak dini, ia sudah terbiasa ikut ke ladang, membereskan rumah, hingga ikut kerja serabutan demi membantu biaya kebutuhan adiknya. Keadaan ini membentuknya menjadi sosok yang mandiri dan gigih.

Awal Perjalanan Seni: Wayang Sada dan Dunia Tanpa Suara

Titik balik dalam hidup Ayu dimulai ketika ia beranjak remaja. Seorang pendamping bernama Marsono mengajaknya masuk ke Yayasan Elyakim. Yayasan ini didirikan oleh Pak Marsono yang merupakan seorang seniman lokal dan pencetus Wayang Sada. Wayang ini terbuat dari lidi (sada) pohon kelapa yang dipilih karena kuat, tahan lama, dan memiliki filosofi mendalam.

Di Yayasan Elyakim, Ayu mulai belajar membuat Wayang Sada dan kerajinan kain sulam. Dengan ketekunan luar biasa, Ayu menunjukkan bakat alami dan menguasai tekniknya dengan cepat, menjadikan ia salah satu penerus seni Wayang Sada.

Tanpa sengaja, Marsono menemukan bakat lain yang tersembunyi. Di rumah, Ayu sering membuat wayang dari kardus yang ia gunting, terinspirasi dari wayang kulit milik tetangganya. Momen itulah yang menjadi titik balik. Kabar tentang bakat seni rupa Ayu ini sampai ke telinga para seniman lokal, termasuk Eri Saktiawan, Keling Sumarno, dan Bernard. Mereka bersepakat untuk melatih Ayu melukis.

Rofita Sari Rahayu memegang Wayang Sada buatannya. (KH)

Proses belajar melukis tidaklah mudah. Komunikasi menjadi tantangan utama karena Ayu tidak pernah mengenyam pendidikan di SLB. Namun, ibunya, para pendamping, dan seniman di sekitarnya selalu sabar dan telaten. Ayu pun mudah memahami orang yang berkomunikasi dengan gerak tubuh dan ekspresi mulut.

Ada kalanya Ayu merasa sangat kesulitan menyelesaikan lukisan. Suatu kali ibunya melihatnya membanting kuas karena frustrasi. Pada momen-momen itu, Ngadinem akan hadir, berusaha menenangkan putrinya, dan meminta Ayu untuk bersabar. Ngadinem mengelus dadanya sebagai isyarat agar Ayu dapat mengendalikan emosinya. Ayu lantas meminta Eri Saktiawan, yang sering mendampinginya, untuk mengajarinya teknik melukis yang lebih detail. Saat itu, ia kesulitan karena lukisan realisme yang sedang dikerjakan membutuhkan goresan yang sangat halus dan presisi.

Berkat kegigihan Ayu dan bimbingan yang sabar, hasilnya sangat membanggakan. Karya lukisannya cenderung beraliran realisme, yang ia tuangkan dari berbagai referensi seperti foto di HP, majalah, atau buku. Sebagian karyanya di rumah merupakan potret tokoh nasional, mantan presiden, dan gambar-gambar dekoratif yang dihasilkan dengan apik.

Pengakuan dan Kesempatan: Melukis di Panggung Nasional

Seiring waktu, Ayu mendapat banyak kesempatan pameran di tingkat lokal, terutama setelah bergabung dengan dua komunitas: Wening, komunitas pelukis perempuan di Gunungkidul, dan Kembang Selatan, komunitas pelukis disabilitas perempuan. Jaringannya semakin luas setelah ia masuk dalam Jogjakarta Disability Art (JDA).

Melalui komunitas-komunitas ini, ia memamerkan karyanya di berbagai kota seperti Yogyakarta, Solo, dan Jakarta. Bahkan, ia sempat menggelar pameran tunggal di Polres Gunungkidul. Tak hanya itu, karyanya juga punya kesempatan ikut dipajang bersama lukisan mantan Presiden SBY. Pada momentum inilah karya lukisan Ayu laku Rp50 juta saat dilelang. Hingga kini, banyak lukisan Ayu yang dipajang di rumahnya. Lukisan berukuran besar bisa dihargai hingga lima juta rupiah ke atas. Ayu juga menerima pesanan lukisan potret dan suvenir, seperti payung hias serta Wayang Sada.

Kegemaran Ayu terhadap seni tidak selalu tentang uang. Ia menunjukkan ekspresi yang sangat berbinar saat diajak bermain atau bertemu dengan pelukis kenamaan. Salah satunya saat ia bertemu Nasirun dan pelukis-pelukis lain dari Yogyakarta dan berbagai daerah. Pertemuan itu memberinya inspirasi, dan ia lantas mengekspresikannya dengan membuat karya lukisan baru. Baginya, momen berharga seperti ini lebih dari sekadar transaksi, melainkan kesempatan untuk belajar dan tumbuh sebagai seniman.

Lukisan tokoh nasional karya Ayu. (KH)

Meski kesibukannya bertambah, Ayu tidak pernah melupakan perannya di rumah. Ia adalah sosok yang sangat gigih dan mandiri. Setiap kali mendapat uang dari penjualan karya atau mengisi lokakarya, ia akan menyerahkan seluruhnya kepada sang ibu untuk kebutuhan rumah tangga. Perempuan berkerudung ini tidak mengenal nilai uang dan tidak pernah meminta apa pun untuk dirinya. Bahkan, untuk pakaian, sepatu, atau tas. Sebagian uang yang diperoleh Ayu dikelola oleh Eri Saktiawan untuk membeli alat lukis, sementara cat air sering kali dirinya mendapat kiriman dari Komunitas JDA di Yogyakarta.

Kemandirian Ayu tidak hanya sebatas itu. Ia rutin membantu ibunya mengurus pekerjaan rumah dan merawat ternak. Orang-orang di kampungnya sering mengatakan bahwa ia bisa melakukan pekerjaan layaknya laki-laki, seperti membetulkan genteng atau memperbaiki jaringan listrik di rumah. Ketika kegiatan seni sedang minim, ia bahkan ikut kerja serabutan di kebun atau ladang milik orang lain.

Kisah Rofitasari Rahayu merupakan cerita inspirasi yang tulus. Ia membuktikan bahwa keheningan bukanlah kelemahan, melainkan ruang di mana bakat dan ketekunan bisa tumbuh tanpa batas. Ia adalah seniman yang melukiskan keindahan dunianya dalam kesunyian, dan di saat yang sama, menjadi pahlawan bagi keluarganya.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait