Generasi Z di Garda Depan Pelestarian Alam Lewat Geopark Night Specta

geopark
Penyerahan penghargaan diantaranya SK Desa Wisata, Pemenang Festival Cokelat, dan Lomba Poster pada puncak GNS Vol. 7.0.

GUNUNGKIDUL, (KH),— Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, Geopark Night Specta (GNS) Vol. 7.0 digelar dengan dukungan Dana Keistimewaan DIY 2025. Acara ini juga masuk dalam Kharisma Event Nusantara, kalender resmi Kementerian Pariwisata.

“GNS memiliki tujuan pada aspek pelestarian alam lewat pendekatan budaya, memang layak diangkat secara nasional,” ucapnya dalam malam puncak GNS vol. 7.0 di kawasan Embung Nglanggeran Sabtu, (19/7/2025) malam.

Bacaan Lainnya

Malam puncak penyelenggaraan GNS digelar konser musik dari Band Letto. Dalam rangkaian puncak GNS pula, diserahkan Surat Keputusan (SK) Penetapan Desa Wisata oleh Dinas Pariwisata DIY kepada Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih. Momen ini menjadi tonggak penting dalam penguatan ekosistem desa wisata di wilayah Gunungkidul.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul Windu Wardana menegaskan bahwa Gunungkidul tidak ingin hanya dikenal karena pantainya. “Lewat GNS, kami ingin dikenang sebagai kabupaten yang menjadikan alam sebagai identitas, bukan komoditas,” tegasnya.

Tak hanya bicara dan menonton, peserta juga diajak langsung menanam pohon. Ini bukan simbolik—penanaman dilakukan di area rawan longsor di sekitar kawasan wisata.

Kesan kreatif kental dalam konsep GNS. Pelaksanaan kampanye pelestarian lingkungan dan pemberdayaan dibalut dengan pertunjukan seni dan festival produk lokal. Dari tari kolosal bertema bumi hingga Festival Cokelat Nglanggeran. Kegiatan ini memamerkan hasil olahan kakao dari desa wisata berbasis konservasi.

“Pendekatan budaya terbukti lebih efektif menggaet perhatian masyarakat, khususnya kalangan muda,” jelas Windu.

Salah satu kegiatan yang tak kalah mencuri perhatian yakni Ngobrol Bareng Geopark (Ngobar). Pesertanya lebih dari 100 pelajar dan mahasiswa. “Bukan forum eksklusif. Kita pakai bahasa yang santai, langsung dialog, dan mereka justru banyak bertanya soal tanah, bebatuan, bahkan perubahan iklim,” ujarnya.

geopark
Penyerahan penghargaan lomba rangkaian GNS vol. 7.0. (dok. Diskominfo Gunungkidul)

Misalnya, peserta diajak mengenal potensi bumi di sekitar mereka, menanam pohon, lalu mempromosikannya dengan cara kreatif.

“Kami ingin membangun kesadaran kolektif, terutama di kalangan generasi muda, bahwa pelestarian lingkungan bisa dimulai dari hal-hal kecil tapi berkelanjutan,” kata Windu.

GNS menjadi ruang terbuka bagi pelajar, mahasiswa, dan warga desa untuk menyuarakan kepedulian pada bumi lewat cara yang akrab dan mendasar.

Penyelenggaraan rangkaian GNS ini belangsung selama tiga hari dengan puncak konser musik di Amphiteater Embung Nglanggeran, yang mengusung tema Simfoni Taman Bumi.

Pelestarian lingkungan bukan lagi urusan para ahli dan aktivis. Di Gunungkidul GNS Vol. 7.0, anak-anak muda atau Generasi Z justru didorong berada di garda depan melalui seni, diskusi, dan aksi nyata.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait