Senin (7/7/2014) KH menyambangi sumur tersebut. Menurut cerita warga, awalnya keberadaan sumur tersebut sangat besar manfaatnya dalam menopang kebutuhan air hampir seluruh warga Padukuhan Legundi, baik mencuci, mandi dan minum.
“Dahulu sebelum ada pipa air yang menjangkau wilayah ini, banyak yang memanfaatkan. Saat ini sekitar 30 warga saja yang masih mengandalkan sumur ini,” ujar Sudarini, istri Dukuh Legundi. Ia menambahkan, warga yang masih memanfaatkan air sumur karena memang tidak memiliki jaringan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum).
Sudarini memaparkan, walaupun kemarau panjang airnya tetap tersedia, hanya berbeda pada volumenya dibanding dengan musim hujan, melimpah dimusim hujan dan sedikit ketika kemarau panjang. Ada cerita menarik tentang sumur yang memiliki panjang garis diameter sekitar 3 meter dan kedalaman sekitar 10 meter tersebut.
Sudarini berkisah, pada musim kemarau panjang sekitar tahun 1995 setiap malam selalu ada 4-6 kepala keluarga (KK) yang menunggu sumur terisi air kembali, karena siangnya habis ditimba untuk dimanfaatkan.
“Menunggu mulai pukul 22.00 WIB, memantau dari atas bibir sumur, ketika di dasar sumur terlihat ada airnya, lalu ditimba, kemudian pulang pukul 24.00 WIB, airnya cukup untuk keperluan esok hari,” kenangnya. Kebiasaan tersebut selalu terjadi sebelum adanya pipa air sekitar 4 tahun terakhir.
Sampai saat ini warga mempercayai bahwa air di sumur tersebut berasal dari sumber mata air yang berada di dasar sumur. Karena pada dasarnya di wilayah Panggang hampir tidak ada sumur gali atau sumur bor. Masyarakat melindunginya dengan menanam tumbuhan perindang di sekitar sumur. (Kandar/Hfs)