SMK N 1 Gedangsari Cari Murid dari Rumah ke Rumah

oleh -
iklan dispar

GEDANGSARI, kabarhandayani.– Dibalik hingar bingarnya sekolah favorit yang menjadi rebutan para calon peserta didik baru untuk dapat masuk ke SMA dan SMK dengan beradu hasil nilai UN, ada sejumlah sekolah yang mendatangi calon peserta didik dari rumah ke rumah. Seperti halnya yang dilakukan oleh panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMK N 1 Gedangsari. Pasalnya, banyak anak-anak yang ada di wilayah Gedangsari terutama lulusan SMP enggan untuk melanjutkan sekolah.

Berdasarkan keterangan sekretaris PPDB SMK N 1 Gedangsari, Retno Wulandari, data dari salah satu SMP Negeri di Gedangsari yang dihimpun pihak sekolah, ada 124 lulusan dan baru 70 siswa yang terdaftar di SMK tersebut. Retno tidak memungkiri bahwa ada beberapa anak yang melanjutkan sekolah ke Wonosari, tetapi mayoritas anak-anak tersebut tidak mau untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Retno mengungkapkan, pihak sekolah pun sampai melakukan home visit untuk mengajak para lulusan tersebut guna melanjutkan pendidikannya namun minat anak-anak untuk menempuh pendidikan ke tingkat selanjutnya bisa dikatakan sangat rendah. “Kita home visit dari pintu ke pintu agar anak-anak mau bersekolah. Namun anak-anak tetap bersikukuh tidak mau. Sampai disuruh orangtuanya pun anak tetap tidak mau,” ungkapnya saat ditemui di sekolah pada Jumat (5/7/2014).

Meskipun berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 yang mewajibkan anak untuk menempuh pendidikan wajib belajar 9 tahun, namun bekal dari SMP belum cukup untuk menempuh kehidupan yang layak sehingga banyak pengangguran, menikah muda atau menjadi buruh kasar. Berdasarkan penuturan Retno, banyaknya para lulusan SMP yang memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah bukan karena faktor biaya atau dari kalangan kurang mampu. Para orang tua memiliki kendaraan, hewan ternak bahkan rumah yang cukup bagus. Tetapi tidak adanya minat untuk melanjutkan ke SMA atau SMK disebabkan karena pengaruh lingkungan di wilayah tersebut yang mayoritas hanya lulusan SMP.

Oleh karena itu, dari 160 kuota yang ditentukan oleh sekolah yang berdiri sejak 2005 ini, baru sekitar 150 kursi yang terisi. Sehingga, sekolah yang memiliki 3 jurusan yakni Teknik Sepeda Motor, Elektronika Industri dan Tata Niaga Pemasaran yang terbagi dalam 6 kelas ini masih menerima calon peserta hingga kuota terpenuhi. “Ini kan termasuk salah satu dari 2 sekolah menengah pinggiran yang ada di kecamatan Gedangsari. Para siswa perbatasan pun larinya ke sini. Ada beberapa anak yang memang niat sekolahnya tinggi, berjalan kaki berpuluh kilo meter,” ungkapnya.

Meskipun sekolah pelosok dan masih menempati tanah kas desa untuk gedung sekolahnya, sekolah ini ternyata mempunyai prestasi yang cukup baik. Berdasarkan penjelasan Retno, SMK ini peringkat ke 3 kabupaten dan peringkat 16 dari 208 SMK se DIY untuk hasil nilai ujian nasional. Sekolah ini juga mempunyai berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler seperti karawitan, tari, bela diri dan juga memiliki radio komunitas.

Retno menambahkan, sekolah yang ada diharapkan mampu untuk menekan tingginya angka anak putus sekolah di Gedangsari ini berusaha meningkatkan semangat peserta didiknya dengan memberikan beasiswa kepada siswa yang berprestasi dan kurang mampu. Ada juga beasiswa dari pemerintah namun beasiswa tersebut digelontorkan berdasarkan seberapa banyak siswa, nominalnya akan berbanding lurus dengan jumlah siswa. Padahal untuk sekolah ini termasuk sekolah pinggiran yang mayoritas siswanya adalah anak buruh dan petani.

“Seharusnya pemerintah memperhatikam tingkat kebutuhan bukan prosentase jumlah siswa karena banyak yang membutuhkan untuk mendapat fasilitas yang sama,” ujarnya. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar