Sentra Industri Gula Jawa di Gunungkidul

oleh -
Sentra industri Gula jawa. Foto : Edo
iklan dispar
Sentra industri Gula jawa. Foto : Edo
Sentra industri Gula jawa. Foto : Edo

PLAYEN, (KH) —  Gunungkidul adalah salah satu Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal memiliki wilayah yang cukup luas. Kondisi sosial ekonomi masyarakat di Gunungkidul pun semakin tumbuh pesat dengan adanya industri di berbagai wilayah di Gunungkidul.

Di Padukuhan  Sawah Lor, Desa Banyusoco, Playen contohnya, industri berupa gula jawa diproduksi sejak nenek moyangnya dan keahlian dalam membuat gula jawa pun diberikan kepada anak dan cucu-cucunya secara turun temurun.

Sentra Industri Gula Jawa di Padukuhan Sawah Lor secara resmi dibuka pada tahun 2010 oleh Disperindagkoptam Gunungkidul. Di Padukuhan ini terdapat 6 kelompok KUBE (Kelompok Usaha Bersama).

“Jumlah para pekerja hanya 20-25 orang totalnya. Dari segi pemasaran, Sentra Industri Gula Jawa bisa membuat gula jawa menjadi berbagai macam rasa seperti gula jawa jahe, gula jawa temulawak, gula jawa kunyit, gula jawa kunyit asem, tergantung pesanan dan mulai dipasarkan di Jakarta, Sumatera, dan Kalimantan,” ujar Ibu Yuli selaku ketua pengurus Sentra Industri  Gula Jawa Padukuhan Sawah Lor.

Lebih lanjut Ibu Yuli menuturkan, untuk gula jawa asli banyak dipasarkan di pasar kecamatan, pasar desa, dan pasar-pasar tradisional di Gunungkidul. Sedangkan untuk gula jawa aneka rasa banyak dipasarkan ke luar daerah.

Saat ini Sentra Industri  Gula Jawa bisa memproduksi 400kg per hari. Dari segi bahan para pekerja tidak kesulitan dengan bahan utama dalam membuat gula jawa. Namun kualitas gula jawa dinilai masih rendah karena tidak bisa tahan lama. Para pekerja memang membuat gula jawa tanpa bahan pengawet sehingga maklum bila dari segi kualitas gula jawanya tidak bisa tahan lama dan gampang lembek.

“Sentra Industri Gula Jawa dinilai maju karena setiap tahunnya dilakukan pelatihan, contohnya pelatihan cara mengemas, administrasi, pembukuan, dan mempertunjukan hasil-hasil olahan gula jawa di Pameran Makanan Tradisional. Dari semua itu meningkatnya pelatihan semakin ahli dalam membuat, mempercantik kemasan dan bisa meningkatkan Sumber Daya Manusia,” tambah Ibu Yuli. (Kiriman Berita dari Edo Nurgantara)

Komentar

Komentar