GUNUNGKIDUL, (KH) — Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul telah menyiapkan anggaran sebesar Rp100 juta untuk menanggung seluruh biaya pengobatan para siswa yang mengalami keracunan akibat program makanan bergizi gratis (MBG).
“Untuk biaya, setelah kami diskusikan dengan kepala rumah sakit dan kepala dinas, karena keracunan bukan kategori penyakit maka tidak bisa ditanggung BPJS. Namun kami berinisiatif menyiapkan anggaran untuk penanggulangan kedaruratan keracunan MBG sebesar Rp100 juta. Dengan demikian, jika terjadi insiden seperti ini, biayanya bisa tercover,” ujar Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih.
Meski jumlah siswa yang mengalami keracunan hampir mencapai 700 orang, Pemkab Gunungkidul hingga kini belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Menurut Endah, ada beberapa pertimbangan yang menjadi dasar keputusan tersebut.
“Saya rasa belum (KLB). Namun kami masih menunggu perkembangan di lapangan. Sejauh ini, banyak pasien yang sudah diperbolehkan pulang dari IGD RSUD Saptosari dan Puskesmas Saptosari, meski masih ada yang dirawat,” jelasnya.
Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Ismono, menyampaikan bahwa pihaknya sedang berupaya agar biaya pengobatan korban keracunan MBG dapat digratiskan sesuai arahan Bupati.
“Diupayakan gratis. Saat ini masih berproses,” kata Ismono saat dikonfirmasi.
Sebelum program MBG dilaksanakan di Kabupaten Gunungkidul, Dinas Kesehatan telah menyiapkan anggaran sebesar Rp12 miliar untuk pelaksanaannya. Namun, setelah diketahui bahwa program tersebut sepenuhnya ditanggung pemerintah pusat, maka dana APBD tersebut dialihkan untuk keperluan lain seperti pembangunan infrastruktur dan program daerah lainnya.
Dari total anggaran tersebut, Pemkab menyisakan Rp100 juta sebagai dana cadangan untuk penanggulangan insiden darurat, termasuk kasus keracunan massal akibat konsumsi MBG.
Penanganan Medis Masih Berlangsung
Lebih lanjut, Ismono menambahkan bahwa Dinas Kesehatan masih fokus menangani siswa SMP dan SMK di Kapanewon Saptosari yang terdampak. Hingga Kamis pagi, masih ada beberapa siswa yang keluar masuk IGD RSUD Saptosari untuk mendapatkan perawatan akibat gejala mual, muntah, dan diare.
“Dari Rabu pagi sampai Kamis pagi, total pasien yang masuk IGD RSUD Saptosari sebanyak 45 orang. Rinciannya, 40 pasien rawat jalan (sudah pulang), 4 masih observasi, dan 1 orang dirawat inap,” jelas Ismono.
Satu siswa yang dirawat sempat mengalami sesak napas, namun kondisinya berangsur membaik setelah mendapat penanganan medis berupa oksigen, infus, dan obat-obatan.
Sementara itu, sebagian besar siswa yang menjalani rawat jalan mengalami gejala ringan seperti sakit perut, mual, dan diare.
“Secara keseluruhan, kondisi para siswa sudah tertangani dan berangsur membaik. Hingga siang ini kami masih memperbarui data jumlah pasti. Kemarin tercatat 695 siswa terdampak, dengan tambahan laporan dari sekolah yang masih kami update,” pungkasnya.





