Komplit, Berikut Segenap Fasilitas Gedung Perpustakaan Daerah di Gunungkidul

oleh -
Perpustakaan
Gedung perpustakaan daerah Kabupaten Gunungkidul. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Gedung perpustakaan daerah telah dibangun di Kabupaten Gunungkidul. Gedung yang dibangun dengan dana APBN senilai Rp10 miliar tersebut telah diresmikan, Selasa (25/1/2022) lalu oleh Bupati Gunungkidul, Sunaryanta bersama Kepala Perpusnas RI, Drs. Muhammad Syarif Bando serta dihadiri Anggota DPR RI, My Esti Wijayanti.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Gunungkidul, Ali Ridlo menyebutkan, gedung memiliki banyak fasilitas yang menunjang peningkatan literasi masyarakat.

Gedung dibangun 3 lantai disertai basemen. Di lantai pertama terdapat ruang display, kantor, penitipan barang, ruang baca, koleksi khusus, home theater 6 dimensi, ruang internet, ruang koleksi anak, ruang laktasi, tepat bermain APE, dan area baca terbuka.

“Sementara di lantai 2 ada ruang sirkulasi, ruang koleksi umum, area baca, ruang referensi, ruang koleksi konten lokal dan terbitan berseri, ruang diskusi publik, ruang pengolahan, perawatan dan pelestatian bahan pustaka, serta area baca terbuka,” rinci Ali beberapa waktu lalu.

Adapun untuk lantai 3 diisi ruang multimedia/audiovisual, studio musik, ruang pertemuan, home theater 3 dimensi, galeri budaya, dan laboratorium Gunungkidul.

“Gedung ini untuk lintas umur dan disabilitas, hanya saja lift belum ada. Maka kami ajukan proposal DAK 2023 sebesar Rp2,5 miliar untuk lift dan fasilitas home theater, genset dan AC. Sedangkan untuk tahun 2022 sudah dapat Rp500.000.000 untuk melengkapi perabot,” ungkap Ali.

Ali menambahkan, segenap fasilitas disediakan untuk meningkatkan indeks literasi masyarakat. Sementara itu, upaya yang telah dilakukan selama ini mampu membuat indeks literasi Kabupaten Gunungkidul lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Dalam kesempatan hadir saat peresmian, Kepala Perpusnas RI, Drs. Muhammad Syarif Bando menyerahkan buku ‘transformasi’ berisi testimoni keberhasilan yang diraih setelah memperoleh pengetahuan dari aktivitas membaca.

“Peningkatan literasi juga diukur berdasar indikator kemampuan menciptakan barang dan jasa,” kata Syarif.

Di sisi lain, dewasa ini, literasi telah mengalami transformasi ke era digital. Sehingga ada beberapa tantangan yang dihadapi. Pertama, kemampuan memahami transformasi digital itu sendiri, lalu ke dua ketersediaan infrastruktur digital.

“Yang ke tiga ialah budaya tulis kita cukup rendah, sementara kita berada pada lompatan digital sehingga jika tidak diikuti kita bisa tenggelam,” tukas Syarif. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar