Kisah Tanoyo Jalunindyo Meraih Mimpi di Dunia Pedalangan

Tanoyo Jalunindyo bersama kedua orang tua. (KH)

GUNUNGKIDUL (KH) – Di balik gemerlap layar kelir, lahirlah sebuah kisah kecil dari Dusun Gatak, Desa Ngestirejo, Tanjungsari, Gunungkidul. Kisah tentang anak lelaki yang tak sekadar memainkan wayang, tetapi menghidupkannya dengan mimpi dan perjuangan. Dialah Tanoyo Jalunindyo, bocah berbakat yang kini dikenal sebagai dalang cilik Gunungkidul.

Tanoyo Jalunindyo—akrab disapa Jalu—lahir pada 14 Februari 2013. Sejak usia yang sangat belia, Jalu sudah menunjukkan ketertarikan tak biasa pada seni wayang kulit. Bukan tokoh kartun atau permainan digital yang menyita perhatiannya, melainkan tokoh-tokoh pewayangan dari dunia tradisi yang makin hari makin ditinggalkan anak-anak seusianya.

Bacaan Lainnya

Segalanya bermula dari kebiasaan sederhana: menemani sang kakak, Muhammad Akbar, menonton pertunjukan wayang kulit. Tanpa disadari, kesan demi kesan tertanam kuat dalam benaknya. Kegemarannya bukan sekadar menonton, tapi juga menirukan, menjiwai, hingga akhirnya memainkannya sendiri dengan wayang mainan yang ia minta dari orang tua.

Selepas menyaksikan pertunjukan, Jalu memohon dibelikan mainan wayang. Tak sekadar meminta, ia bahkan menyebut nama-nama karakter pewayangan seperti Werkudara, Puntadewa, Petruk, hingga Semar. Padahal usianya baru sekitar enam tahun kala itu. Orang tuanya tertegun—ternyata Jalu bukan hanya suka menonton, tapi diam-diam menghafal dan memahami.

Di rumah, beranda menjadi panggung, dan Jalu menjadi dalangnya. Anak-anak tetangga berkumpul ikut bermain dan menonton, serta tertawa bersama.. Tanpa guru, tanpa pelatihan awal, bakat alami itu tumbuh.

Tapi di balik keluguan dan semangat anak kecil itu, ada peran besar dua sosok penting: Supriyono dan Sri Wahyuti—ayah dan ibunya. Mereka tidak hanya memberi restu, tapi benar-benar ikut turun tangan dalam proses belajar Jalu.

Ayahnya telaten memeriksa antawacana atau dialog khas tokoh wayang, memastikan nada dan intonasi sesuai karakter. Ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga kependidikan di SMAN 1 Wonosari bahkan mencoba belajar nggamel, memainkan gamelan Jawa, demi bisa menemani latihan sang anak. Meskipun ia mengakui, hingga kini belum juga mahir.

Keduanya percaya, di balik mimpi Jalu yang ingin menjadi dokter, terselip keyakinan kuat untuk menjadi dalang besar. Mereka bersikukuh membimbing Jalu melangkah di dua jalan sekaligus—pendidikan umum dan seni pedalangan.

Festival, Sanggar, dan Keringat Perjuangan

Takdir mulai mengetuk saat akhir 2021, ketika Jalu didaulat mewakili Kapanewon Tanjungsari dalam Festival Dalang Anak dan Remaja tingkat kabupaten.

“Saya pikir Jalu cuma suka bermain wayang,” ujar Sri Wahyuti. “Tapi ketika dipilih, saya sadar, mungkin ini memang jalannya.”

Ia lalu mengantarkan Jalu belajar di Sanggar Jodhipati di Tambakromo, Ponjong—meski jaraknya jauh dan harus melewati medan berat. Tak cukup satu tempat, Jalu juga dimasukkan ke Sanggar Pengalasan di Wiladeg, Karangmojo. Bahkan les privat bersama dalang favoritnya, Ki Hening, juga dijalani. Semua demi penampilan terbaik saat tampil dalam festival.

Jalu bukan tipe anak yang mudah lelah. Setiap latihan dijalani dengan antusias. Hasilnya langsung terasa. Festival pertamanya ia tutup dengan Juara IV, dan itu jadi awal dari deretan prestasi berikutnya.

  • 2022: Juara III kategori anak (wayang kulit)

  • 2023: Juara II kategori anak (wayang golek)

  • 2024: Juara IV kategori anak (wayang kulit)

Tak hanya lomba, Jalu juga tampil di panggung-panggung budaya:

  • 12 kali lebih pentas, baik di acara resmi maupun hiburan

  • Tampil di Anjungan Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah saat Hari Wayang Sedunia (1 November 2024)

  • Muncul di YouTube channel budaya seperti Kundha Kabudayan Gunungkidul, Ki Wareso Tivi, dan PWKS JABODETABEK Channel

Bagi Jalu, dunia pewayangan bukan sekadar rutinitas latihan atau ajang kompetisi. Wayang telah menjadi bagian dari hari-harinya, menyatu dalam setiap waktu luang, bahkan di sela aktivitas kecil. Ia memegang wayang sebelum berangkat sekolah, memainkan gamelan sebentar sebelum tidur, membaca buku lakon di waktu senggang, hingga menonton pertunjukan di kanal YouTube dalang idolanya: Ki Seno Nugroho dan Ki Hening.

Tak jarang, saat malam menjelang tidur pun, tangannya masih sempat memainkan wayang. Ia seperti hidup dalam dunia pewayangan yang menyatu dengan keseharian.

Dengan alat seadanya—satu set gamelan, geber, dan wayang hasil tabungan pentas—Jalu terus mengasah diri. Setiap uang yang ia terima dari tampil, sebagian disisihkan untuk membeli tokoh wayang baru.

Tanoyo Jalunindyo saat menerima piala pada salah satu festival. (ist)

Nenek yang Tak Pernah Dijumpai, Tapi Menginspirasi

Bakat seni Jalu rupanya mengalir dari darah sang nenek, Alm. Sumirah, seorang pesinden wayang kulit yang mengiringi dalang-dalang besar seperti Sugito, Timbul, hingga Sugeng Handono. Jalu tak pernah bertemu neneknya—ia wafat saat Jalu masih dalam kandungan. Namun ketika kisah itu diceritakan ibunya, ada luka rindu yang tak bisa dijelaskan.

Sejak itu, setiap ziarah ke makam neneknya, Jalu membawa wayang dan bunga kanthil. Wayang itu diletakkan di pusara, seolah berkata:
“Eyang, aku meneruskan jalanmu.”

Kini Jalu masih rutin berlatih di Sanggar Pengalasan. Di masa remajanya kelak, ia ingin melanjutkan pelatihan di Sanggar Habirandha, Keraton Yogyakarta—tempat bergengsi para dalang muda menimba ilmu.

Namun, jalan menuju mimpi tak selalu mudah. Bakat besar Jalu membutuhkan dukungan: perhatian dari masyarakat, penghargaan dari pemerintah, dan ruang dari para pelaku budaya untuk berkembang.

Tanoyo Jalunindyo merupakan anak yang tumbuh bersama kecintaannya pada wayang. Dari sebuah mainan sederhana yang ia minta selepas menonton pertunjukan, perlahan tumbuh spirit belajar dan keinginan untuk terus mendalami dunia pedalangan. Ia masih terus berlatih, dan tak lelah menabung mimpi.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait