Kelompok Putri 21 Sulap Ubi-ubian Menjadi Belasan Produk

oleh -
Suti Ra
iklan dispar

PLAYEN, (KH)— Berkat kegigihan, Kelompok Putri 21 menjadi perkumpulan ibu rumah tangga yang  sangat produktif. Awalnya kelompok yang beranggotakan 15 orang ini sebatas memiliki rutinitas arisan saja.

Ketua Kelompok, Suti Rahayu mengisahkan, anggota arisan kemudian bertambah. 21 ibu rumah tangga yang tergabung lantas bersama-sama mulai mencari ide agar lebih produktif. Mereka tidak ingin berpangku tangan usai menyelesaikan urusan rumah tangga. Ide yang muncul, mereka kemudian berniat mengolah berbagai hasil tani dari lahan kebun dan pertanian sekitar.

Berbekal pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari pelatihan yang digelar Badan Pelaksana Penyuluh dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Gunungkidul, mereka mulai membuat produk olahan.

“Awalnya membuat emping melinjo saja, seiring waktu berjalan, berkat pelatihan demi pelatihan akhirnya macam olahan terus bertambah. Aneka produk yang dibuat sebagian besar berbahan dasar singkong,” kenang Suti, (9/4/2020).

Usaha ekonomi menemui kendala. Semakin banyak produk yang mampu dibuat, permasalahan  mengenai pemasaran muncul. Mereka lantas mencoba mulai merintis pasar. Promosi gencar dilakukan dimulai dari ingkup RT, Dusun, lantas ke berbagai wilayah di Desa Ngawu, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Tentu saja, Pasar Playen kemudian menjadi sasaran utama penjualan produk-produk yang dihasilkan.

Perhatian pemerintah mulai dirasakan. Kediaman Suti Rahayu yang menjadi lokasi percobaan hingga produksi pembuatan berbagai olahan makanan, kemudian dijadikan Pusat Pelatihan Pertanian Dan Perdesaan Swadaya (P4S) oleh dinas terkait.

Setelah itu, berbagai pihak ikut andil dalam peningkatan kapasitas kelompok Putri 21. Pendampingan datang darii BKPP DIY, BP2KP Gunungkidul, Disperindagkop ESDM Gunungkidul, LIPI, P4S Tanjungsari, UGM, dan lain-lain.

“Dari tahun ke tahun P4S Putri 21 menjadi lokasi magang, studi lapangan dari berbagai kelompok rintisan yang serupa, institusi pendidikan SMA/ SMK, universitas dan lain-lain. Dalam setahun kemarin tak kurang 1500-san orang dari berbagai wilayah se Indonesia hadir di sini melaksanakan praktek atau pelatihan serta magang,” tambah Suti.

Saat ini berbagai fasilitas dan peralatan telah dimiliki. Berbagai peralatan dan mesin produksi tersebut datang dari Pemkab, BUMN dan lain-lain.

Suti Rahayu bersyukur, suka duka dilalui dengan capaian membanggakan. “Pernah saat melakukan uji coba membuat mie singkong, bahan baku sebanyak 200 kg terbuang karena gagal,” kata Suti menyampaikan kenangan mengesankan.

Produk-produk unggulan dari P4S Putri 21 yang dibuat saat ini diantaranya; tepung mocaf, tepung pisang, tepung sukun, tepung garut, tepung ganyong, tepung tales, tepung ubi ungu, Mie Ayo dengan 17 varian rasa, egg roll, stik ubi, abon bonggol pisang, berbagai macam kripik dan lain-lain.

Dengan bantuan pemasaran BKPP DIY, produk UKM Putri 21 sampai di kota-kota besar. Suti mengungkapkan, untuk pasar lokal, omset penjualan justru tidak begitu tinggi. Produk Putri 21 banyak dikirim ke berbagai kota.

Berkat pengalamannya bertahun-tahun membuat aneka olahan makanan berbahan baku lokal, kini Suti Rahayu sering diminta berbagai kelompok, dan Pemda dari berbagai provinsi di Indonesia untuk menjadi pemateri.

“Saya punya kesibukan baru, sering diundang ke berbagai kota se Jawa dan luar Jawa,” imbuh Suti. (Kandar)

Komentar

Komentar