Harapan Terselesainya Masalah Limbah Industri Rumahan

oleh -
iklan dispar

PLAYEN, kabarhandayani.– Perlunya perhatian kepada persoalan limbah pada unit produksi tempe dituturkan oleh Hidayat, Kepala Bidang Agro Dinas Perindustrian dan Koprasi Kabupaten Gunungkidul (Disperindakop), saat menyampaikan sambutannya pada peresmian Rumah Tempe Gunungkidul di kantor PRIM KOPTI Siyono.
Hidayat menyoroti akan kurangnya perhatian pemerintah terhadap home industri khususnya untuk beberapa pabrik tempe dan tahu di Gunungkidul. Pemerintah harusnya mendukung dan memperhatikan home industri tersebut, agar tidak lagi ada polemik yang sering terjadi.
“Sebagai contoh pada pabrik tempe dan tahu di Siraman yang masih memiliki problem ¬†limbah dari pabrik tersebut,” katanya.
Permasalahan pada limbah, lanjut Hidayat, ¬†menyampaikan agar pemerintah dapat memberikan pengetahuan untuk proses pengolahan limbah. “Semoga Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (Kapedal) dapat segera mencarikan solusi untuk pengolahan limbah tahu dan tempe,” paparnya.
Ia juga mengungkapkan, ¬†supaya pemerintah mulai memperhatikan home industri yang tersebar di Gunungkidul agar selalu mendapat pendampingan dari pihak pemerintah. “Perencanaan dari Pemerintah dapat terpadu untuk pembinaan dan penanganan dampak yang dihasilkan dari home industri tersebut,” ungkapnya.
Hidayat berharap home industri di Gunungkidul bisa maju, dengan adanya rumah tempe sebagai unit industri. “Semoga dengan diresmikannya rumah tempe ini, para pembuat tempe tradisional juga dapat belajar berbagai hal dari sini, seperti cara membuat tempe yang higienis dan efisien, serta dapat belajar bagaimana cara mengolah limbahnya,” harapan dari Kabid agro Disperindagkop tersebut.
Ia juga menambahkan kepada pengerajin tempe, agar dapat belajar cara mengolah limbah tempe menjadi biogas. Dengan bekerja sama dan belajar dengan rumah tempe ini diharapkan pengerajin tempe tradisional bisa memulai memproduksi tahu tempe secara higienis dan dapat mengurai limbah produksi. ” Limbah dapat digunakan sebagai bahan bakar ramah lingkungan, pengurangan emisi karbon, pengolahan limbah produksi dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya produksi dan produk tahu tempe yang berkualitas dan higienis,” imbuhnya.
Terakhir Ia berharap, dari dibukanya rumah tempe tersebut, tidak menimbulkan permaslahan dengan para pembuat tempe tradisional. “Semoga bisa berjalan berdampingan dan justru dapat saling memberikan pengetahuan baru antara rumah tempe yang sudah bisa memproduksi secara modern dengan para pembuat tempe tradisional,” pungkasnya.(Atmaja/Tty)

Komentar

Komentar