Geomembran TPA Baleharjo Butuh Perbaikan

oleh -
iklan golkar Gunungkidul

WONOSARI, (KH) — Geomembran yang digunakan sebagai alas di Tempat Penampungan Akhir Sampah (TPA) Baleharjo, Balerejo rusak. Kerusakan dapat terlihat dari air yang keluar dari tumpukan sampah dapat meresap keluar.Dampak tersebut dikawatirkan akan menimbulkan pencemaran lingkungan.

 

Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kebersihan dan Pertamanan Dinas Pekerjaan Umum Gunungkidul, Giyanto mengatakan, rusaknya geomembran terjadi akibat banjir yang terjadi setahun lalu. Hingga saat ini memang belum diperbaiki karena ada sedikit masalah dalam pengajuan anggaran.

 

“Anggaran sudah kita ajukan, tetapi karena kemarin terkendala pembahasan alat kelengkapan dewan, terpaksa perbaikan dilakukan penundaan.”, ungkap Giyanto kepada sejumlah awak media, Jumat (14/11/2014).

 

Berdasarkan pantauan di TPA Baleharjo, ada tiga titik geomembran yang sobek dan hingga ini kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal geomembran tersebut memiliki fungsi fital, yakni untuk menampung air resapan dari tumpukan sampah agar tidak meresap ke dalam tanah.

 

Giyanto mengungkapkan, dibutuhkan tenaga ahli untuk memperbaiki geomembran yang rusak. Karena pemasangan geomembran harus dilakukan secara benar supaya air sisa sampah tidak mencemari air tanah.

 

“Air sisa sampah diatur sedemikian rupa supaya meresap dan mengalir melalui pipa yang kita tanam di atas geomembran, dan mengalir ke kolam pembuangan. Jadi, memang perbaikannya membutuhkan tenaga ahli.”, jelasnya.

 

Sementara, Menurut petugas TPA Baleharjo, Rusdi, rusaknya geomembran ini juga mambuat talut di sekitar TPA jebol. Banjir yang datang masuk melalui bawah geomembran yang sobek, sehingga air mengangkat geomembran yang pada akhirnya membuat talut ikut jebol.

 

“Untuk talut, sebagaian besar memang sudah kita perbaiki, tetapi untuk geomembran memang belum tersentuh, karena memang membutuhkan tenaga ahli.”, jelasnya.

 

Untuk menghadapi musim penghujan dilakukan perbaikan sementara dengan menempatkan drum yang ditata. Harapanya, sisa air dari resapan sampah tidak masuk ke dalam parit dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

 

“Pembendungan dengan menggunakan sebanyak 13 drum sudah dilakukan, tetapi memang usaha perbaikan tersebut belum maksimal.”, ungkapnya.(Juju/Tty).

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar